DILARANG BERBICARA DENGAN SOPIR

Dalam bus biasanya terpampang papan pengumuman “Dilarang berbicara dengan sopir.”

Simak ilustrasi sebagai berikut:

Warga sebuah komplek membeli sebuah bus dengan uang patungan. Setiap anggota adalah pemiliknya.

Suatu hari pada tanggal merah mereka bersepakat menentukan keinginan bersama (melalui voting atau mufakat) untuk berpiknik dengan bus mereka.

Setelah sepakat berpiknik pada hari tertentu, mereka berunding untuk menentukan tempat tujuan dan berdasarkan suara terbanyak atau mufakat dengan suara bulat atau apapun caranya. Bila tidak berunding untuk menentukan tempat tujuan, setiap orang yang merasa berhak menggunakan bus untuk piknik akan terlibat dalam konflik karena punya tujuan tempat yang berlainan.

Setelah bersepakat untuk menentukan tempat tujuan, rombongan berembuk untuk menentukan sosok sopir dengan menetapkan kriteria-kriteria dan syarat-syaratnya.

Disepakatilah bahwa sopir adalah orang yang secara faktual (bukan dianggap) memenuhi semua syarat kapabilitas (kemampuan, keterampilan dan pengalaman mengendarai bus dan menguasai peta juga jalan terbaik ke tempat tujuan) dan legalitas (memegang SIM dll) untuk mengemudikan kendaraan.

Setiap kelompok dalam rombongan mengajukan nama orang yang dianggap memenuhi syarat-syarat sempurna sopir.

Demi menghindari kebuntuan dan agar rencana piknik tidak gagal atau rombongan bubar, ditetapkanlah cara adil melalui pemungutan suara untuk menentukan orang yang sudah dipastikan memenuhi syarat profesional sesuai point-point yang disepakati sebagai sopir.

Sekelompok warga tiba-tiba menambahkan syarat kesamaan keyakinan dengan keyakinan kelompoknya. Kelompok ini bahkan menganggap syarat ini lebih penting dari syarat-syarat kapabilitas dan legalitas.

Kelompok lain yang menganut keyakinan lain menolak usulan syarat bahkan mengancam akan memisahkan diri dari rombongan bila memasukkan syarat yang berkaitan dengan kapabilitas dan legalitas sopir.

Mayoritas anggota rombongan menganggap kelompok pengusung isu keyakinan ini sebagai ancaman terhadap kekompakan dan kesepakatan bersama untuk membeli bus dan menggunakannya bersama demi tujuan bersama.

Dalam pemungutan suara, kehendak kelompok ini tak didukung. Seorang sopir terpilih karena suara tebanyak dalam rombongan diberikan kepadanya, meski terdengar suara-suara sumbang dari beberapa orang yang kecewa karena sopir dukungan mereka kalah dalam pemilihan.

Rupanya sopir lain yang tak terpilih tidak legowo. Diapun bersekongkol dengan kelompok kalah yang ngotot dengan syarat keyakinan bagi sopir untuk mengggalkan perjalanan piknik bila tak digantikan oleh sopir sekeyakinan atau sopir tak terpilih.

Sejak detik pertama bus bergerak itulah beberapa gelintir dalam rombongan melakukan aneka manuver yang negatif. Saling cemooh terjadi. Sopir harus berkonsentrasi mengendarai bus dan menghindari segala kemungkinan buruk.

Polemik sengit terjadi ketika kelompok kecil yang kalah suara dalam pemilihan sopir mulai teriak-teriak mencemooh sopir, mengkritik caranya mengendarai, rute jalan yang dipilih bahkan penampilan fisiknya. Respon keras pun muncul. Ketegangan memuncak ketika kelompok ini mulai teriak-teriak “Ganti sopir!”

Bus berjalan miring karena beberapa individu berusaha mengambil alih atas bus dan mencoba menyetir dengan menyikut sopir. Sopir terpilih mempertahankan posisi karena merasa berhak dan bertanggungjawab.

Beberapa orang yang tak berada dalam dua kelompok yang berseteru membentuk kelompok ketiga karena kesamaan tertentu. Beberapa orang karena tak punya kesamaan tak bisa membuat kelompok. Mereka babak belur. Kekacauan terjadi.

Bus terancam hancur. Arahnya tak seimbang. Beberapa orang dari semua kelompok, termasuk yang tak punya kelompok cedera karena pecahan kaca dan terjepit saat bus terbalik atau karena lainnya.

Demi menghindari akibat yang lebih buruk, dan karena dianggap telah menentang kesepakatan, mayoritas rombongan sepakat untuk menurunkan kelompok gaduh itu dari bus dan tak lagi meramaikan polemik isu prematur ini. Rombongan, dari kubu pendukung sopir dan kubu yang kalah pemilihan sopir, bisa tetap melanjutkan perjalanan karena masih menghormati kesepakatan seraya menikmati indahnya panorama sawah dan pegunungan hijau dari balik jendela bus.

Selanjutnya ketika bus telah mencapai tempat tujuan dan sopir sudah mencapai batas akhir waktu dari tugas yang diberikan kepadanya, rombongan, yang ingin mempertahankan sopir dan yang ingin menggantinya, menyelenggarakan pemilihan sopir untuk priode berikutnya.

Pendukung dan oposan yang sama-sama menghormati kontrak bersama berhak menjadi bagian dari rombongan apapun keyakinan, partai dan sukunya. Enjoy your faith!

News Feed