Maling Teriak Maling

bush_bringemon.jpg

Pernyataan gegabah Presiden AS, George W. Bush mengenai Iran dalam konfrensi persnya bersama Presiden Afghanistan Hamid Karzai, lebih mirip seperti maksud dari pribahasa kuno Persia yang berbunyi, “Di mata kaum kafir semua orang laksana diri mereka”. Dalam bahasa Indonesia, makna ungkapan ini kira-kira seperti apa yang termaksud dalam pribahasa “Maling teriak maling”.

Selama masa kepemimpinannya, Bush telah menjadikan pemerintahan AS menjadi Rezim Militer yang haus perang dan bertindak secara unilateral. Di tangan Bush, AS telah menjadi negara biang krisis, konflik, dan instabilitas di berbagai kawasan dunia. Bahkan para pengamat politik telah berulang kali mengungkapkan kekhawatiran mereka atas dampak negatif dari kebijakan konfrontatif dan militeristik Gedung Putih terhadap situasi politik dan keamanan internasional.

Sebaliknya, peran positif dan progresif Iran dalam membantu menyelesaikan pelbagai krisis di Kawasan telah banyak diakui oleh masyarakat global. Bahkan, sewaktu AS melakukan invasi ke Afghanistan, Washington sendiri sempat meminta bantuan Tehran untuk mewujudkan stabilitas di Afghanistan. Anehnya, Bush malah menuduh Iran sebagai faktor penyebab ketidakamanan di Kawasan. Tudingan tak berdasar ini dilontarkan Bush bersamaan ketika rencana putaran ketiga dialog segitiga AS, Iran dan Irak mengenai krisis Irak tengah diupayakan. Padahal, sejak setahun terakhir ini, AS senantiasa mendesak Iran untuk membantunya merealisasikan stabilitas dan keamanan di Irak.

Bisa jadi tudingan Bush terhadap Iran kali ini, justru membuat malu dirinya sendiri. Pasalnya, Hamid Karzai, Presiden Afghnistan malah memuji sikap positif Tehran selama ini dalam membantu Kabul menyelesaikan berbagai krisis dan persoalan internalnya. Pujian Karzai ini tentu saja mementahkan tuduhan Bush.

Masyarakat global dan juga publik AS sendiri telah mengakui bahwa sejatinya kebijakan militeristik dan politik perang AS merupakan penyebab utama konflik di dunia dan kian terkucilnya AS di kancah politik damai internasional.

Naifnya lagi, Bush juga mengklaim bahwa antara pemerintah dan rakyat Iran terdapat jarak yang begitu lebar. Karena itu, presiden AS itu bertekad untuk tetap menekan Iran. Kendati demikian, sesungguhnya rakyat Iran tidak pernah butuh terhadap kepedulian hipokrit Washington tersebut. Akibat politik perang dan kebijakan konfrontatif yang diterapakan AS selama ini, para pemimpin Gedung Putih tak lagi melek terhadap realitas dunia saat ini. Kian memburuknya krisis di Irak, semakin maraknya aksi-aksi terorisme, terus berkembangnya perlombaan senjata nuklir, dan pelbagai konflik di penjuru dunia, merupakan hasil nyata dari politik imperialisme AS. Tak aneh bila orang-orang Iran, menyamakan statemen Bush tersebut sebagai “Di mata kaum kafir semua orang laksana diri mereka”, atau kata orang melayu “Maling teriak maling”. (Sumber: http://indonesian.irib.ir).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed