“DUKUNGAN ULAMA”

Akibat beli tiket pesawat via toko online tanpa memperhatikan jam transit, saya harus rela mondar mandir antara cafe dan musalla di bandara selama 5 jam.

Di cafe dapat teman ngobrol, seorang mahasiswa S2 Hukum UGM yang jadi akrab karena saya mengenal dosennya. Cukup banyak yang dia tanyakan setelah mengetahui saya dari google. Dia sempat minta izin untuk foto bersama dengan ponselnya sebelum kami saling berpamit.

Di musalla saya tiduran setelah melakukan shalat. Saat bangun mata saya menoleh ke samping dan menemukan seorang pemuda dengan seragam anggota ormas yang gemar aksi di jalan juga tiduran. Mata beradu. Dia mengangguk melihat saya. Saya menduga anggukan kepalanya adalah adalah pengganti kata “permisi” atau jangan-jangan sebuah isyarat bahwa dia mengira saya “habib” seperti pemimpinnya. Yang pasti, dia tidak sangar. Terlihat dari wajahnya yang “rapi” dia adalah mantan “orang bahagia”.

Tanpa saling memperkenalkan nama, kami ngobrol di musalla yang lengang itu hingga menyentuh isu hot. Dialog ngalor ngidul itu saya rapikan sebagai berikut:

T: Anda anggota ormas….itu?
J: Alhamdulillah. Saya hijrah.

T: Bagaimana itu?
J: Baru setahun. Sebelumnya saya adalah penerbang, pilot.

T: Hah? Pensiun maksudnya?
J: Ya, karena menghindari pergaulan dan lingkungan kerja yang tidak islami saya memilih menjaga iman dan berhenti.

T: Lalu apa kegiatan anda sekarang?
J: Serelah hijrah saya diminta membantu organisasi dalam IT.

T: Hijrah itu apa sih sebenarnya?
J: Hijrah itu meninggalkan gaya hidup penuh syirik dan maksiat secara total mulai dari berpakaian sampai jihad.

T: Anda selalu berpakaian begini?
J: Ya. Ini membuat saya sulit untuk bermaksiat meskipun terlihat “asing” di mata banyak orang.

T: Boleh tanya agak sensitif?
J: Monggo. Kan cuma ngobrol biasa.

T: Apa hubungan baju koko dengan dukungan umtuk seseorang untuk menjadi pemimpin negara?

J: Orang yang memakai busana ibadah adalah orang yang rajin beribadah.

T: Apa hubungan rajin beribadah dengan dukungan untuk seseorang menjadi pemimpin negara?

J: Orang yang rajin beribadah seperti shalat, zikiran, umroh dan lainnya adalah orang yang saleh.

T: Apa hubungan kesalehan karena rajin beribadah dengan dukungan untuk seseorang menjadi pemimpin negara?

J: Orang saleh adalah pastilah baik.

T: Apa hubungan kebaikan karena saleh dengan dukungan untuk seseorang menjadi pemimpin negara?

J: Orang saleh adalah pasti muslim.

T: Apa hubungan kemusliman dengan dukungan untuk seseorang menjadi pemimpin negara?

J: Kalau agamanya benar, dia pasti baik.

T: Apa hubungannya kebaikan karena agamanya benar dengan dukungan untuk seseorang menjadi pemimpin negara?

J: Orang baik pasti bisa jadi pemimpin.

T: Kalau tak saleh dan tak taat tapi kompeten bagaimana?

J: Gini aja, yang terpenting, dekat dengan ulama.

T: Ulama? Ulama yang mana? Kan banyak jumlahnya?

J: Ya, ulama kami.

T: Bukankah mestinya dukungan politik diberikan kepada yang visi dan misinya jelas, kinerjanya memuaskan, programnya tepat, kebijakannya terencana, punya kompetensi prima dan kejujuran yang terbukti.

J: Yah, intinya, yang didukung pemimpin kami.

Terimakasih atas jawaban-jawabannya.

Sama-sama beb.

Saya rada terkejut mendengar kata “beb”. Sambil menyisihkan sedikit senyum ke arahnya saya bangkit. Diapun mengangguk.

Kami berpisah setelah saling menjabat tangan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed