Ekstrimitas Sains dan Agama (1/2)

Athéisme : première introduction : l'athéisme en tant que religion
 
Belakangan ini marak diskusi yang mengupas relasi sains – agama dan berusaha menjawab sebuah pertanyaan besar: bisakah agama (teks-teks suci) dan sains diharmoniskan?
 
Bila sains dianggap sebagai tolok ukur kebenaran, maka sebagian teks mungkin terbaca dan terpahami sebagai tak sesuai dengan sains ditafsirkan dengan penafsiran yang bisa diterima sains.
 
Bila ditafsirkan secara paksa dengan penafsiran yang sesuai dengan sains, maka kedudukan teks suci yang ditetapkan sebagai wahyu suci yang mutlak benar gugur.
 
Bila teks suci dianggap sebagai tolok ukur kebenaran, maka banyak teori dan fakta sains yang dianggap tak sesuai dengan teks harus direvisi supaya tidak bertentangan dengan teks suci.
 
Bila direvisi agar sesuai dengan teks suci, maka kedudukan sains sebagai ilmu empiris gugur.
 
Pertanyaan yang lebih penting dari itu adalah “perlukah agama dan sains diharmoniskan?”
 
Bila realitas ditetapkan sebagai fakta empirik, maka agama perlu diharmoniskan dengan sains agar agama diterima oleh kaum saintis. Bila agama dianggap sebagai kebenaran mutlak, sains perlu diharmoniskan dengan agama agar bisa diterima oleh kaum beragama.
 
Tapi bila menganggap realitas sebagai fakta gradual dan masing-masing dari agama dan sains memiliki persepsi yang berlainan karena sarana yang digunakannya berlainan, maka keduanya tak perlu diharmoniskan karena keduanya benar secara gradual. Karena memiliki basis epistemologi yang berlainan, sains dan agama bukan hanya tak perlu diharnoniskan tapi tak bisa diharmoniskan.
 
Agama dan sains, karena mempersepsi realitas dengan dasar epistemologi berlainan, harus diterima tanpa perlu dipertentangkan. Keduanya bisa diterima secara bersamaan seraya membedakan karakteristik objeknya masing-masing.
 
Persoalannya, para saintis keburu pongah menjadikan teori-teorinya sebagai postulat aksiomatik secara general sehingga mengukur dan menilai isu-isu agama (teks-teks suci) dengan metode dan pendekatan empiris. Pada saat yang sama para agamawan ceroboh menjadikan persepsi dogmatisnya sebagai dasar untuk menolak fakta natural yang dipersepsi secara empiris oleh kaum saintis. Akibat dari dua paradigma yang saling menafikan ini, terjadilah polemik dan sengketa yang seolah tak terselesaikan.
 
Yang mungkin perlu dilakukan adalah memperjelas esensi agama agar dapat mengambil definisi yang utuh dan dapat dibedah dasar epistemologinya sebelum disikapi dengan afirmasi dan negasi. Sains pun pun demikian.
 
Arus utama masyarakat agama dan sebagian besar saintis punya pandangan yang sama tentang agama bahwa agama tidak bisa dijamah dengan logika. Kaum dogmatis menegaskannya dengan maksud membanggakannya dengan justifikasi “iman”. Kaum saintis juga menegaskan itu dengan tendensi mencibirnya sebagai delusi demi mengeluarkannya dari peradaban.
 
Dengan kata lain, para penguasa dogma pengendali masyarakat relijius yang mayoritasnya hidup di pelbagai wilayah jajahan telah mendapafkan benefid dan keuntungan pemisahan agama dari sains dan saat agama ditetapkan sebagai zona bebas knowledge dengan sebutan mempesona “iman” yang menjadi perisainya.
 
Renaissance yang dimulai dengan rasionalisme dan empiriisme dan berpuncak pada positivisme dan pragmatisme yang menciptakan peradaban moden sains mengilhami para agamawan untuk bekerja leluasa menanamkan dogma yang kerap dianggap wahyu dan petunjuk dari langit yang tak tunduk pada parameter validitas.
 
Saintisme (ateisme, agnotisisme, deisme) dan dogmatisme berhasil menciptakan sintesa unik: saintis sekaligus dogmatis. Perselingkuhan sains ekstrem- agama ekstrem melahirkan sekelompok manusia berkepribadian ganda, logis dalam sains dan dogmatis dalam relijiusitas. Lulusan-lulusan mereka menyebar ke sentra-sentra vital, instansi sipil dan keamanan, perguruan tinggi, kementerian, BUMN, perusahaan swasta asing dan lokal, termasuk industri media.
 
Ternyata kaum saintis tak sepenuhnya berpikir sebagai saintis. Sebagian dari mereka bertindak sebagai kapitalis dan politisi. Saintisme menciptakan teori-teori. Kapitalitisme mengolah teori menjadi sarana dan alat produksi (tekonologi). Imperialisme menggunakannya sebagai sarana dominasi.
 
Teknologi dan industri membelah dunia ke dalam dua bagian, dunia maju dan dunia terkebelakang. Nuklir lalu internet kemudian bioinformatika menghadirkan kehidupan baru dengan perilaku baru dalam “one culture” sebagai puncak supremasi sains.
 
Ada dua fakta; material atau fisikal dan fakta immaterial atau metafisikal. Fakta material adalah realitas komplek yang merupakan komponen potensi dan aktus berupa raga yang disebut materi (jism).
 
“Saya kemarin meyakini benda yang saya pegang ini adalah gelas. Hari ini saya meyakininya sebagai serpihan kaca (beling) adalah premis yang tidak salah bila;
 
  1.  Sesuatu yang disebut gelas itu adalah sebuah entitas fisikal (memiliki ukuran, kedalaman dan sifat-sifat atomik lainnya) pada fakta objektifnya
  2. Gelas itu sejak semula berbahan kaca pada fakta objektifnya.
  3. Esensi kegelasannya sirna karena mengalami transformasi atau perubahan bentuk akibat pecah pada fakta objektifnya.
 
Dengan kata lain; pernyataan kemarin berupa predikasi “adalah gelas” atas benda itu tidak bertentangan dengan pernyataan hari ini berupa predikasi “bukanlah gelas” atau “adalah serpihan kaca” atas benda itu tidaklah salah. Artinya, perubahan predikasi dalam contoh “gelas” secara saintifik justru valid.
 
Sains sebagai konsep yang disusun dari fakta material yang dinamis tidak akan menghadirkan fakta yang statis dan permanen kecuali bila diabstraksi ke bilangan tak berhingga (matematika) yang merupakan fakta-fakta abstrak. Namun bila matematika diperlakukan sebagai ilmu rasional murni dan dipisahkan dari sains, maka sains tidak punya dasar validitas sendiri.
 
Sains adalah premis-premis tidak permanen karena objeknya adalah fakta sensual dan terikat oleh “waktu” empiris nya. Upaya memberikan nilai valid dengan probilitas kalkulus atas pengetahuan saintifik hanya menghasilkan validitas general, bukan kebenaran universal yang permanen. Dengan kata lain, nilai-nilai general yang diperoleh sains, tak berpijak pada sains itu sendiri (karena itu paradoks siklus), tapi berpijak pada probabilitas kalkulus, yang tak lain adalah metematika sebagai aksioma non empiris.
 
Perlu diketahui, sains memerlukan dua postulat non saintifik yang abstrak, yaitu:
 
  1. matematika adalah pijakan sains.
  2. Kebenaran saintifik adalah produk kebenaran matematik.
 
Sains tidak bisa menghasilkan premis-premis permanen (dulu disebut eksakta) karena objeknya hanya fakta-fakta dinamis kecuali bila diabstraksi dengan angka yang merupakan fakta abstrak yang tak berhingga.
 
Eksistensi, Tuhan, agama dan mazhab juga nilai-nilai kualitatif bukanlah realitas material yang dinamis namun statis. Karena statis, fakta objektifnya tak berubah. Karena tak berubah, citranya dalam benak pun tidak berubah.
 
Karena dasar epistemologi sains dan agama berbeda, maka fakta yang dipersepsinya pun berlainan. Karena keduanya mempunyai dua fakta objektif berbeda, tak perlu menilai agama dengan sains, dan sebaliknya, juga tak perlu melakukan pengagamaan sains dan tak perlu melakukan saintifikasi agama.
 
Dengan kata lain yang lebih eksplisit, pendukung saintisme tak perlu nyinyir soal Tuhan, agama dan tema-tema non saintifik. Kaum dogmatis juga tak perlu menjustifikasi teks-teks agama dengan sains karena itu justru mengisyaratkan kegamangan di balik klaim kebenaran mutlak mereka.
 
 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed