ENTERTAINING RELIGION

“ENTERTAINING RELIGION”

Pengagungan orang yang ditenarkan media intoleran hingga celotehnya diamini pemujanya adalah interaksi senyawa yang menggelikan.

Interaksi figur pemanja publik dengan publik pemuja terlihat dari balkon nalar sebagai adegan kemesraan dalam lakon utopia purba.

Sedemikian “karepnya” figur tenar itu memanjakan jelata pemuja, dia menangis, melucu dan memproduksi aneka menu baru dalam agama.

Penikmat “entertaining religion” tak persoalkan dasar celoteh yang meluncur dari liang mulut pujaan karena ekstase adalah tujuan.

Teori Psikoanalisis Freud tentang agama sebagai das sollen pasti salah. Tapi bisa dipinjam untuk melihat “entertaining religion”.

Agama, menurut Sigmund Freud adalah ilusi, neurosis dan pemenuhan keinginan kekanak-kanakan.

Memakai analisa Freud, interaksi menggelikan antara pemanja publik dan publik pemuja adalah cinta segi 3 Id, Ego dan Super-ego.

Menurut Freud, kepribadian manusia terdiri atas 3 unsur; id, ego dan superego yang bekerjasama menciptakan perilaku yang kompleks.

Kata Freud, Id didorong oleh prinsip kesenangan, yang berusaha memenuhi kepuasan segera dari semua keinginan dan kebutuhan.

Kekanak-kanakan sebagai Id primitif yang mengendap mendorong manusia mencari ayah yang super demi menentramkan kegelisahannya.

Merujuk ke Freud, pujaan adalah “ayah” pengaman atau “ibu” yang menjadi muara hasrat libido purba dalam kepribadian childish.

Baca juga:

AGAMAWAN PALSU

loading...