EPISTEMOLOGI MAAF

Yang terzalimi telah meminta maaf kepada yang menzaliminya. Penzalim telah memaafkan yang terzalimi. 2 pihak lega. Inilah comtoh falasi. 
Penzalim memaafkan yang terzalimi adalah kata tak bersubjek real. Yang dizalimi memohon maaf adalah kata yang tak berobjek real. Keduanya bisa dianggap tak mengerti maaf sekaligus menjungkirbalikkan sistem nilai. 
Karena tak memahami epistemologi maaf dan epistemologi keadilan, banyak orang a) menetapkan pemaafan sebagai ganti keadilan, b) menganggap semua kezaliman sebagai dosa sosial semata, c) menganggap kezaliman sebagai dosa partikular semata, d) menganggap korbannya hanya yang terlihat saja, e)menganggap pelakunya hanya berurusan dengan korban, f) menganggap pelaku yang dimaafkan bebas dari tanggungjawab hukum.
Kezaliman adalah sesuatu yang universal meski tindakannya merupakan sesuatu yang partikular dan personal, begitu pula pelaku dan korbannya, 
Pemberian maaf kepada pelaku kezaliman tak niscaya membebaskannya dari beban hukum positif dan hukum agama dan tak berarti hukum dan nilai menjadi hak eksklusif pihak yang terzalimi. 
Sebuah tindakan zalim (yang mungkin terlihat partikular, karena pelakunya dan korbannya satu orang), sangat mungkin menimbulkan efek universal dan sosial. 
Korban yang sekilas terlihat personal atau terbatas bisa sangat banyak bila kezalimannya mengena banyak orang atau sekelompok orang dengan identitas etnis atau keyakinan khas yang berbeda dengan kebanyak. 
Memaafkan penzalim tak niscaya menghapus kezaliman dan mengaburkan posisi bersalah. Tindakan kezaliman yang telah dikakukan takkan bisa dianggap tak terjadi betapapun pelakunya telah meminta maaf dan dimaafkan oleh yang terzalimi.
Bila orang yang terzalimi secara  hukum, politik, sosial, dan lainnya memaafkan (apalagi meminta maaf kepada) pelaku kezalman , maka itu dapat ditafsirkan sebagai bagian dari “voor”. 
Selain merupakan dosa horisontal, kezaliman terhadap sesama manusia, apapun keyakinan dan etnisnya, merupakan kezaliman vertikal. Penzalim berurusan dengan Tuhan yang mewanti-wanti manusia tidak mengganggu sesamanya.
Yang paling mungkin dilakukan oleh orang yang dilemahkan “secara nasional’ adalah menyempurnakan pengorbanan dan legowo dalam level tertinggi agar suara-suara kebenaran dan keadilan tetap mengiang dalam relung jiwa manusia-manusia yang mengutamakan nilai keadilan atas apapun dan siapapun termasuk individu yang terzalimi.
Sikap legawa orang yang dizalimi dan diabaikan kadang merupakam pukulan psikologis, ajakan penyadaran dan isyarat perlawanan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed