FAKTA IRONIS

Dalam sebuah seminar yang menghadirkan tiga narasumber, seorang intelektual terkemuka berbicara panjang yang seluruh isinya mengeluhkan carut marut umat dan bangsa yang tak pernah sepi dari konflik politik dan lainnya sejak awal berdirinya republik ini hingga sekarang seraya mengeluhkan lemahnya organisasi-organisasi sosial akibat makin dominannya institusi-institusi politik.

Para peserta yang mengisi semua kursi di aula di hotel antusias menyimak paparan guru besar sebuah universitas Islam terkemuka itu. Semua fenomena keruwetan umat terlihat jelas. Sebagian tampak menggeleng-gelengkan kepala. Saya di sampingnya berusaha khusyuk mendengarkannya meski sedang mumet mencari-cari bahan dalam benak untuk presentasi sebagai narasumber berikutnya. Tepuk tangan membahana saat mengakhiri presentasinya.

Setelah mengapresiasi sembari menunjukkan hormat kepadanya sebagai orang yang memimpin sidang promosi doktoral saya beberapa tahun silam itu, saya yang memang tidak pernah serius mempersiapkan makalah atau slide-slide di monitor besar mencoba mengambil ‘keuntungan” dalam pengertian positif dari isi paparannya.

“Semua yang dipaparkan beliau adalah fakta benderang yang ironis. Mestinya sebagian besar problema umat di Tanah Air ini sudah terselesaikan karena ada dua ormas Islam yang konsisten mempertahankan dan menyebarkan pandangan Islam yang moderat dan banyak intelektual yang gigih menentang intoleransi. Melihat persoalan-persoalan umat tersebut, sebagai elemen kecil, komunitas Syiah tak sempat urun rembuk untuk mencarikan solusi karena masih sibuk menghadapi kepungan fitnah dari segala arah, persekusi dan ujaran kebencian tanpa henti serta pembiaran dari institusi otoritatif. Singkatnya, ketika umat menghadapi kerumitan karena ragam faktor, komunitas ini justru sedang berjuang agar diterima oleh umat sebagai bagiannya. Ketika diterima dan gelombang penyesatan mereda, komunitas ini punya cukup bekal untuk berkontribusi untuk umat dan bangsa.

“Kami sering seolah disalahkan oleh banyak intelektual moderat sebagai eksklusif dan tidak berupaya membuka komunikasi dengan elemen-elemen penting di tengah umat. Padahal kami terlihat eksklusif karena diisolasi dan dihindari bahkan oleh yang mengaku moderat karena khawatir tertular stigma sesat dan cap Syiah. Mungkin hanya beberapa intelektual yang berani duduk bersanding dengan orang yang dicap Syiah, termasuk Bapak.” Tawa dan tepuk tangan bergema hadirin menanggapi kelakar saya.

“Kami dianggap tidak membuka komunikasi karena puluhan surat-surat permohonan silaturahni, audiensi dan klarifikasi ke banyak pihak tak terbalas.”

Dalam komunitas kami banyak SDM yang cukup kapabel dan representatif untuk membuktikan kontribusi kepada umat dan bangsa. Namun yang intoleran menolak dan toleran menghindar. Itulah fakta ironis. Itulah bagian akhir presentasi singkat saya. Pak prof hanya senyum-senyum.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed