FALASI UMUM

Kebanyakan orang mempercayai sesuatu secara fanatik bukan karena komparasi atau pilihan logis tapi karena itulah info petama yang diterimanya.
Kebanyakan orang lebih mempercayai info yang terdengar atau tertullis meski tanpa dasar argumen yang logis daripada info abstrak yang logis.
Kebanyakan orang lebih mempercayai penjelasan retorik meski tanpa argumen logis ketimbang penjelasan analitik yang logis.
Kebanyakan orang lebih mengutamakan “siapa” atas “apa” (substansi) sehingga kesan, pesona visual dan sebagainya atribut mereduksi penalarannya.
Kebanyakan orang membangun keyakinan dengan modal premis minor tanpa memastikan dulu koherensinya dengan premis mayor.
Kebanyakan bertindak sebelum memikirkannya bahkan menganggap berpikir sebagai lawan dari bertindak, padahal berpikir adalah tindakan.
Kebanyakan orang sibuk menyusun pikiran saat rival / lawan dialognya menyampaikan pikirannya sehingga sering tanggapannya melenceng.
Kebanyakan orang memilih mnafsirkan makna konotatif sebuah pernyataan dan mengabaikan makna denotatif yang mestinya didahulukannya.
Kebanyakan orang tidak konsentrasi memperhatikan dengan cermat lawan dialog dan hanya menangkap bagian akhirnya sehingga responnya melenceng.
Kebanyakan orang mengutamakan simbol atas substansi dan kata atas makna. Padahal simbol dan kata harus mencerminkan substansi dan makna.
Kebanyakan orang mengutamakan predikat atas subjek sehingga lebih memperhatikan agama yang dianutnya ketimbang pelaku dan perbuatannya.
Kebanyakan orang mendahulukan akibat atas sebab (karena melihat asap, memastikan ada api) padahal akibat adalah produk sebab (asap dari api).
Kebanyakan orang mengkritisi orang lain yang berbeda keyakinan dengan mempertanyakan dalil dan sebagainya, padahal dia sendiri meyakininya tanpa dalil.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed