FALLACY MENILAI MAZHAB LAIN DENGAN MINDSET MAZHAB SENDIRI

Saya terpaksa melihat beberapa video berisikan ujaran kebencian dan fitnah konyol kepada ajaran Syiah dan sejumlah individu yang dilukiskan sebagai Syiah. Harus diakui kontennya digarap cukup licik, misalnya menggabungkan video pertanyaan dua tokoh yang berlainan terkait sebuah ajaran lalu mempertentangkannya. Padahal trik yang sama bisa saja dilakukam oleh penganut mazhab yang dipojokkan andai tidak bertentangan dengan etika.

Orang bodoh hampir pasti terpengaruh dan menyimpulkan ajaran Syiah sebagai sesat. Orang bijak mungkin terpingkal-pingkal karena mengetahui bahwa menggabungkan dua pertanyan dari dua individu demi membenturkannya justru menguak kebebalan pembuat video yang mengira Syiah punya satu pandangan tentang setiap isu dan ajaran.

Orang-orang Syiah bersatu dalam keyakinan tentang Imamah sebagaj prinsip utama tapi bisa berbeda dalam pola argumentasi bahkan berbeda dalam keyakinan-keyakinan turunannya yang tidak fundamental. Tidak hanya itu, dalam bidamg fikih yang tidak definitif atau dharuri, komunitas Syiah hampir selalu berbeda mengikuti fatwa marja’ masing-masing. Ini diketahui oleh banyak orang yang salah paham tentang mazhab ini.

Yang juga kerap disalahpahami adalah kedudukan teks hadis dalam mazhab Syiah. Para pembenci mengira satu teks hadis dalam sebuah kitab yang ditulis oleh seorang bermazhab Syiah cukup untuk dijadikan mariam mendeskreditkan Syiah.

Selain salah paham tentang teks hadis dalam Syiah, banyak pula yang mengira Syiah di dunia menyepakati satu versi sejarah. Karenanya, para pembenci menjadikan satu kutipan sejarah oleh seseorang yang dikenal Syiah sebagai bukti untuk menyudutkan Syiah. Padahal mazhab ini membebaskan setiap penganutnya menggunakan akal dan pengetahuan valid sebagai dasar pemilihan skkap terhadap info sejarah dari manapun sumbernya.

Selain kebencian, yang menjadi biang falasi dan kesalahpahaman terhadap Syiah adalah tidak memahami bahwa sejak semula Syiah membangun dua prinsip epistemologi keyakinan, yaitu kemutlakan sebagai paradigma kesucian yang direpresentasi secara eksklusif oleh Nabi dan para imam dan paradigma kenisbian yang menjadi ruang dinamika kreativitas dan kompetisi intelektual dalam komuniras pengikut dalam jenjang heirarki otoritas nisbi. Dalam domain kemutlakan tak ada perbedaan. Tapi dalam domain kenisbian justru perbedaan merupakan keniscayaan. Itulah garis tegas antara Ahilulbait dan Syiah (pengikut) Ahlulbait.

“Jangan menjelekkan rumah orang lain bila tinggal di gubuk” (pepatah orang waras).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed