“FILSAFAT FILM”

Tadi di kelas online matakuliah Filsafat Hikmah Mutaaliyah yang dibahas adalah tema yang cukup rumit, eskatologi Sadra.

Saya tidak ingin membahas detail pembahasannya di sini. Tapi yang menarik untuk dishare di sini adalah analogi yang saya coba ciptakan untuk memudahkan pemahaman tentang teori ketiga yang disodorkan Sadra untuk mendamaikan pandangan para teolog terutama Asy’ariyah dan pandangan para filosof paripatetik.

Para teolog memastikan kebangkitan sebagai peristiwa fisikal berdasarkan ayat-ayat yang menegaskannya karena kemahakuasaan Tuhan mengembalikan materi yang telah musnah dan terurai untuk disandingkan kembali dengan ruhnya yang telah meninggalkannnya guna menjalani seluruh proses pemeriksaan di Akhirat.

Para filosof, terutama peripatetik, karena membatasi jati diri dan realitas manusia pada jiwanya, bukan tubuhnya yang mustahil mewujud lagi, menyakini kebangkitan atau kepulangan sebagai peristiwa spiritual semata.

Ada banyak argumen valid yang diandalkan. Salah satunya adalah prinsip “kemustahilan pengulangan sesuatu yang telah tiada.” Bila sesuatu yang telah tiada per se (tiada pada dirinya) kembali mengada, maka ma’ad yang merupakan garis akhir berbalik menjadi garis awal. Itu adalah konsekuensi paradoksal yang meruntuhkan eskatologi. Bila yang telah tiada dikembalikan ke posisi ada, maka ia menjadi ada yang baru. Itu artinya, ia ada secara semula, bukan sebagai ada lama yang telah tiada. Pengembalian yang telah tiada tidak bisa terjadi kecuali sebagai ada baru yang mirip dengan yang telah tiada. Bila yang menjalani proses dalam ma’ad adalah yang mirip dengan telah tiada, maka itu sama dengan tidak ada pengembalian terhadap yang telah tiada. Bila seorang bernama Sastro, misalnya, hidup hingga usia 60 tahun, maka jasadnya terkubur dan akan sirna. Andaikan Sastro dibangkitkan maka jasad yang membungkus jiwanya pastilah jasad baru karena yang lama telah musnah. Mustahil dia bangkit dengan jasad yang telah digunakan selama 60 tahun dan hancur atau berubah menjadi benda lain. Dengan kata lain, pengulangan eksistensial adalah mustahil.

Mulla Sadra berdasarkan prinsip gradualitas eksistensi dan materialitas jiwa pada kemunculannya dan immaterialiitas jiwa pada kelestariannya juga teori transubstansi berpandangan bahwa jiwa karena telah menjadi sempurna setelah berpisah dari raga dimensional mampu menciptakan raga ideal atau raga interval yang semata-mata aktual sebagai pasangan diri di alam yang tak berdimensi guna menjalani seluruh proses pemeriksaan di akhiat. Karenanya, ia memastikan ma’ad (kebangkitan atau kepulangan) sebagai peristiwa rohani dan jasmani dengan “jism mitsali.”

Filem yang kita tonton adalah produk media yang melewati tiga fase, pertama adalah fase pengambilan gambar, kedua adalah fase editing dan ketiga adalah fase penayangan.

Yang dilakukan di lokasi adalah aksi-aksi dan dialog-dialog fisikal. Yang dilakukan di studio adalah proses transformasi aksi dan dialog fisikal di lokasi menjadi aksi dan dialog metafisikal dalam soft file. Yang ditayangkan di dalam sinema adalah aksi dan dialog metafisikal berupa soft file. Para penonton adalah para pelaku aksi dan dialog fisikal yang sedang menonton aksi dan dialog metafisikal mereka.

Alam fisikal (dunia) bisa diumpamakan sebagai lokasi pembuatan film. Alam interval (barzakh) laksana studio prosesing hasil shooting ke dalam file sofware. Gedung bioskop bak alam metafisikal (akhirat).

Para mahasiswa mengaku merasa sangat terbantu oleh analogi pembuatan film untuk memahami jalan ketiga Sadra dalam Eskatologi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed