GAGAL PAHAM
GAGAL PAHAM KATANYA. Pelontar "kitab suci itu fiksi" lolos dari situasi sulit dan berhasil mengatasi aneka pertanyaan kritis sejumlah tokoh yang dihadirkan dalam sebuah acara talk show oleh sebuah stasiun televisi swasta.

“GAGAL PAHAM” KATANYA

Pelontar “kitab suci itu fiksi” lolos dari situasi sulit dan berhasil mengatasi aneka pertanyaan kritis sejumlah tokoh yang dihadirkan dalam sebuah acara talk show oleh sebuah stasiun televisi swasta.

Lagi-lagi publik disiguhi akrobat kata dan permainan bahasa dengan aneka modus berkelit termasuk “memberaki” pemirsa dengan definisi comotan dan analogi amburadul.

Beberapa kali tepuk tangan yang membahana mengurangi tensi dan memberikan gizi baru kepada sang filsuf yang berhasil menghadirkan performa dengan posisi duduk, mimik dan bahasa tubuh yang megah.

Pemikir anakis yang merangkap freelancer perusahaan politik ini mengandalkan beberapa senjata andalan, antara lain relativisasi semua hal, fiksisasi semua pandangan, penjungkirbalikan definisi, desakralisasi hal-hal yang tabu, dan yang terpenting adalah penghancuran kekuatan politik tertentu melalui produksi jurus-jurus intimidasi kata.

Dengan tangkas dia meyakinkan para pengkritik sebagai rombongan gagal paham, tak punya keberanian untuk berpikir merdeka dan menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian, bukan pernyataan-pernyataannya.

Semua menjadi tampak sederhana dengan justifikasi alasan “ingin menaikkan kecerdasan publik.”

loading...