GANTI RUGI DAN GANTI UNTUNG

Biasa. Setiap kali selesai mengajar, saya nongkrong di warung Haji Awi, sebelah kampus untuk melakukan aktivitas rutin, makan siang dengan menu tetap, nasi putih, tempe dan sambalnya yang berfungsi sebagai pengalih perhatian rasa yang biasa-biasa saja. Berkat pedasnya, indra penangkap kelezatan gagal berfungsi maksimal, hehehe…

Muncul seorang mahasiswa dari pintu warung lalu melambaikan tangan menyapa saya. Dia menghampiri saya dan meminta izin bergabung. Kita ngobrol tentang beberapa tema rutin seputar perkuliahan dan keluhan-keluhannya diselingi canda. Dia cukup cerdas dan kritis di kelas.

“Pak saya mau mengajukan pertanyaan. Boleh?” celetuknya selesai berhenti dari obrolan.
“Silakan. Tak perlu minta izin hanya untuk sekedar bertanya. Tapi saya belum tentu bisa menjawab,” sahutku. Dia hanya meringis.
”Begini, pak.Saya tidak merasa puas dari jawaban-jawaban yang saya peroleh tentang masalah ini. Mungkin Anda bisa memberikan jawaban yang berbeda dan meyakinkan saya.
“Waduh. Begitu ya? Semoga bisa menjawab. Apa pertanyaannya?”
“Mengapa Allah mewajibkan shalat, puasa dan ibadah-ibadah lainnya?”
“Hmmmm…”

Aku mendesis terhenyak dan merenung mencari-cari formulasi konsep yang unik tentang tujuan penetapan agama dan pahala dan dosa.

“Saya tidak punya jawaban khusus yang bisa dianggap baru. Tapi coba anda dengarkan penjelasan saya.”
“Saya menyimak, Pak”
“Sebelum mewajibkan itu semua, Dia membekali kita, manusia, dengan kemampuan melakukan dan tidak melakukannya. Setelah itu, Allah menganjurkan manusia menggunakan kemampuan itu.”
Aku berhenti sejenak sambil mikir-mikir. Dia pasang wajah menunggu.
“Lalu, pak?”
“Kemudian Tuhan tetapkan peraturan yang mengikat dan mengurangi kebebasannya,” lanjutku.
“Kok begitu?”

“Ikuti dulu lanjutannya.”
“Okay. Siap.” Dia menekan kacamatanya lebih dalam.
“Nah setelah peraturan ditetapkan, ada manusia yang mau mengurangi dan membatasi kebebasannya dengan mematuhi peraturan-peraturan itu, dan ada pula yang tidak bersedia menguranginya.”
“Nah, kemudian itu Allah akan memberikan kasihnya kepada yang mengikuti aturan itu dan yang tak mengikutinya dalam dua bentuk yang berbeda.”
“Kok, yang tidak mematuhi diberi sayang? Bukankah dia akan disiksa?” tanyanya menyela.

Tak menanggapi pertanyaannya, saya lanjutkan,
“Manusia yang bersedia membatasi kebebasannya dengan mematuhi peraturan-peraturanNya (agamaNya) diberi rahmat (kasih) berupa “ganti rugi” kebebasan yang telah ia kurangi dan batasi dengan kehendaknya sendiri. Sedangkan manusia yang tidak bersedia membatasi kebebasannya dengan tidak mematuhi, diberi rahmat berupa “ganti untung” kebebasan yang telah dinikmatinya. Lalu dua manusia yang patuh dan tak patuh lebur dalam rahmatNya dengan dua dua manifestasiNya.”
Dia masih terlihat terperanjat dengan keterangan soal kasih Allah utk manusia yang tidak patuh dan makna baru pahala yang baru didengarnya.

Untuk meyakinkan diriku sendiri, saya katakan,
“Apa yang manusia peroleh di akhirat adalah feedback dari prestasinya di dunia. Allah tetaplah Zat Pemberi Kasih baik di dunia maupun di akhirat. kasihNya tidak temporal, namun abadi. Pahala dan siksa adalah dua rahmat yang berbeda pola dan tampilan. Allah memasukkan manusia yang patuh ke dalam kasihNya yang sejuk. Allah juga memasukkan manusia yang tidak patuh ke dalam kasihNya yang panas. Karena itulah “azab” (al-adzbu) secara kebahasaan berarti “manis”… Api yang melumerkan batangan emas dlm cairan emas. Tidak ada yang hilang. Yang terjadi adalah peleburan. Sorga dan neraka adalah tempat peleburan KasihNya.

Tiba-tiba terdengar guntur di langit. Mumpung hujan belum turun, saya segera masukkan tablet ke dalam ransel dan pamit meninggalkan pemuda cerdas itu di warung.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed