Gawat! Pemerintah Malaysia Larang Nonmuslim Pakai Kata “Allah”

Pemerintah Malaysia, Jumat lalu (4/1), menegaskan bahwa nonmuslim tidak boleh menggunakan kata “Allah” dalam media penerbitan.

Abdullah Zin, Menteri Urusan Agama Islam, Kamis, kepada wartawan menyatakan bahwa menurut pandangan kabinet, Allah mengacu pada Tuhan umat Islam dan hanya boleh digunakan oleh muslim, yang meliputi 60 persen dari sekitar 27 juta penduduk Malaysia.

“Penggunaan kata ‘Allah’ oleh nonmuslim akan meningkatkan kepekaan dan menciptakan kebingungan di antara muslim di Malaysia,” kata Abdullah.

Bersamaan dengan itu, pemerintah memperingatkan kepada pengelola suatu surat kabar Katolik, The Herald agar tidak lagi menggunakan kata “Allah” setelah izin terbitnya diperpanjang. “Kami telah menyetujui perpanjangan izin terbit. Kini mingguan tersebut wajib menaati keputusan pemerintah untuk tidak menggunakan kata Allah,” kata Deputi Menteri Keamanan Mohamad Johari Baharum kepada kantor berita AFP.

Pernyataan pejabat pemerintah tersebut merupakan perkembangan dari kontroversi panjang yang melibatkan The Herald, sebuah mingguan Gereja Katolik Malaysia. Bulan lalu Kementerian Keamanan Internal menyatakan bahwa seksi bahasa Melayunya melarang kalau tidak menghentikan penggunaan kata “Allah” sebagai sinonim Tuhan.

Sikap tersebut menyulut keprihatinan di antara umat Kristen yang juga menggunakan kata Allah untuk menyebut Tuhan dalam Alkitab bahasa Melayu dan terbitan yang lain.

Sebuah gereja di negara bagian Sabah, timur Malaysia telah secara terpisah juga menerbitkan larangan penggunaan kata “Allah” dalam kesusastraan bahasa Melayu. Gereja-gereja menyatakan larangan itu melanggar kebebasan beragama yang dijamin oleh konstitusi.

Isu-isu agama sangat peka di Malaysia, yang membanggakan diri akan harmoni multiras. Etnis China, yang sebagian besar penganut Kristen dan Buddha, meliputi sekitar seperempat populasi, sementara Hindu India kurang dari 10 persen.

Sekretaris Konferensi Keuskupan Malaysia Augustine Julian, seperti dikutip AFP mengatakan, pemerintah Malaysia tidak mau umat Katolik juga menggunakan kata “Allah”, kata dalam bahasa Arab yang berarti Tuhan.

Sementara itu Kementerian Dalam Negeri Malaysia telah mengeluarkan perintah pada surat kabar The Herald-surat kabar mingguan milik Gereja Katolik yang diterbitkan dalam bahasa Melayu, Inggris, China dan Tamil-untuk tidak menggunakan kata “Allah” dalam artikel-artikelnya. Alasanya, kata “Allah” tidak boleh digunakan oleh penganut agama lain selain Muslim.

Julian menilai keputusan pemerintah Malaysia itu bertentangan dengan konstitusi negara yang menjamin kebebasan beragama. “Umat Kristen betul-betul merasa kecewa, ” ujarnya.

Pendeta Lawrence Andrew, editor mingguan itu, mengatakan penggunaan kata ‘Allah’ pada media mereka tak dimaksudkan untuk menghina warga Muslim.

“Kami merujuk pada Injil. Injil dalam bahasa Malaysia menerjemahkan ‘God’ menjadi ‘Allah’ dan ‘Lord’ menjadi ‘Tuhan’. Dalam doa dan kegiatan gereja, kami menggunakan kata ‘Allah’,” tegasnya.

“Ini bukan hal yang baru. Kata ‘Allah’ telah digunakan di Malaysia sejak lama. Tak ada yang membingungkan di sini,” katanya.

Para pemuka gereja, lanjut Julian, akan meminta Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi untuk mengklarifikasi masalah ini dan meminta pemerintah Malaysia mencabut larangan tersebut.

Sementara itu, pejabat senior kementerian keamanan dalam negeri Malaysia yang membidangangi pemantauan produk-produk penerbitan, Che Din mengatakan, penggunaan kata “Allah” dalam artikel-artikel The Herald merupakan upaya untuk membuat umat Islam di Malaysia bingung.

“Kata ‘Allah’ hanya digunakan untuk tuhannya orang Islam, ” kata Che Din.

Ia menyarankan The Herald untuk menggunakan kata “Tuhan” saja, dan tidak menggunakan kata “Allah” dalam artikelnya.

Namun para pemuka agama Katolik berargumen bahwa kata “Allah” sudah digunakan secara luas dan tidak dikhususkan hanya untuk umat Islam. Bahkan alkitab berbahasa Malaysia, tukas Julian, menggunakan kata “Allah” untuk Tuhan.

Para pemuka agama Katolik itu juga menyatakan bahwa kata ‘Allah’ bukan kata yang baru dan sudah lama digunakan dalam doa-doa dan misa-misa di Malaysia. (dari beberapa sumber).

Artikel terkait dengan berita diatas :  “Allah dan Tuhan” 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 comments

  1. Mungkin “malay” letih sangat. Ada detik mereka ucap yesus, kadang tuhan Allah, lain pula roh “kudus” (bukan nama kota di Jawa).

    Awak nak cakap ape ‘ni…..

    1. Can’t you imagine if there’s 2 God in this world??? who has a big power???? and why there”s only one earth in this planet to live??? I believe There’s only one God is this world..so why can live together in harmony…

  2. [quote]Allah mengacu pada Tuhan umat Islam dan hanya boleh digunakan oleh muslim[/quote]

    jadi Allah (tuhan orang Islam) berbeda dengan Tuhannya umat Yahudi-Kristen?

    kalau begitu mengapa surat Al-ankabuut:46 tidak dihapus sekalian?

  3. yah…malingsia lagi!! perasaan ga ada abis2nya ngomongin benalu yg suka ngaku2 serumpun ini. ga usah dibikin pusing, dari dulu juga malingsia emang rasis!! gitu aja ko repot….

  4. Saya seorang kristen. setelah mempelajari lebih lanjut maka saya paham bahwa allah adalah tuhan orang islam/muslim (mengaju kamus besar bahasa indonesia/ Oxford dictionary).
    Sudah saatnya kebenaran ditegakkan.

    1. Saya seorang muslim. setelah mempelajari lebih lanjut maka saya paham bahwa allah adalah bahasa arab yang artinya tuhan (mengaju kamus besar bahasa indonesia/ Oxford dictionary sbb “Allah n nama Tuhan dl bahasa Arab; pencipta alam semesta yg mahasempurna; Tuhan Yang Maha Esa yg disembah oleh orang yg beriman”).
      Jadi tidak ada monopoli suatu bahasa karena mayoritas. Allah juga sudah puluhan tahun digunakan umat kristiani.
      Sudah saatnya kebenaran ditegakkan.

      1. bro Jemry, saya juga Kristen dan setuju dengan pendapat brother ytre. itu hanya perbedaan bahasa…

        pernahkah Anda membaca Alkitab bahasa Arab yang digunakan umat Kristen di Arab? Apakah mereka tidak menggunakan kata “Allah”? Mereka juga menggunakan kata Allah.

  5. Satu lagi beda Tuhan orang kristen dengan Islam adalah:
    Allah (zat) dan YAHWEH (ROH) acuannya lihat kitab suci masing-masing.
    tolong dipahami dengan baik. Thanks

  6. kebenaran adalah kebenaran tidak bisa di tawar.

    Tuhannya orang kristen di PB Namanya YESUS (Luk. 1:31 Yoh 17:11)
    Panggilannya BAPA (selama ini umat kristen keliru menamakan dan memanggil Tuhannya Allah)

    Jadi Keputusan Pemerintah Malaysia adalah kebenaran melarang non Muslim menggunakan nama Allah kepada Tuhan non Muslim.

  7. I believe with all my heart there’s only one God in this world..weather called “Allah”, “Lord”.. Can’t you imagine if there’s two God in this world..and why there’s only one earth in this planet to live for so why can’t we live together in harmony…

  8. I believe with all my heart there’s only one God in this world..weather called “Allah”, “Lord”.. Can’t you imagine if there’s two God in this world..and why there’s only one earth in this planet to live for so why can’t we live together in harmony…

  9. rasis terhadap kelompok minoritas di malaysia menurut saya wajar2 saja, karena negarax berasaskan islam…tapi kalau diindo ya itu yang aneh…malah di indo rasisx 100 kali lipat……islam indo memang lebih tidak toleran

News Feed