Skip to main content

Gerakan Nasional ‘Tutup Mata, Tutup Telinga’

By November 8, 2011One Comment

1008head.gif

Gerakan ‘tutup mata dan telinga’ atau mematikan televisi oleh sejumlah keluarga di Jakarta — khususnya pada saat sahur dan menjelang buka puasa — meluas ke banyak daerah. KH Salahuddin Wahid (Gus Solah), pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, juga menilai, program siaran televisi selama Ramadhan kali ini (1428 H) masih kental oleh motif bisnis dan belum mengarah pada upaya meningkatkan nilai puasa.

Diakuinya ada beberapa program siaran yang dinilainya bagus, seperti yang diasuh KH Quraish Shihab atau Komaruddin Hidayat. Tapi, umumnya televisi masih melihat Ramadhan lebih sebagai peluang bisnis. ”Jadi, kalau televisi melakukan perubahan tayangan saat Ramadhan, sebenarnya tetap mengacu kepada bisnis dan bukan mengajari umat Islam untuk lebih beriman,” kata adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu, kepada Antara, Kamis (20/9).

Ditanya tentang tayangan kuis dan sinetron Ramadhan, mantan Ketua PBNU itu mengaku sama sekali tidak suka dan lagi-lagi menilai hal itu justru ‘membisniskan’ Ramadhan untuk meraup iklan sebanyak mungkin. Bahkan, tayangan Ramadhan seringkali mengurangi nilai Ramadhan, karena menghilangkan waktu untuk menyempatkan umat Islam melakukan tadarrus Alquran dan tarawih.

Ia berharap, ke depan pemilik stasiun televisi mau memikirkan tayangan Ramadhan yang betul-betul mendidik, seperti kajian agama dari para ulama, lagu-lagu islami dari Bimbo, Opiek, Hadad Alwi, dan banyak lagi. ”Jika semua itu dikemas secara apik, tetap akan menjadi incaran pemasang iklan,” katanya. (Republika).

Setujukah anda?