Skip to main content

Go-Blog karena goblog?

By October 29, 20114 Comments

blog-small.jpg

Suatu hari saya bertemu dengan seorang teman musiman, karena kadang kontak dan kadang loss-kontak. Setelah memulai dengan tema-tema ringan yang rutin tentang cuaca, macet dan kerjaan, arah pembicaraan berpindah ke blog. Dia memang dengar selentingan bahwa aku juga membuat blog. “Hei, aku dengar kau membuat blog. Gimana?” tanyanya. Karena menganggap pertanyaan itu biasa, aku pun menjawabnya dengan antusias, “Ya, sejak membuat blog aku menemukan dunia baru.”

“Kenapa sih pake bikin blog segala? Ga laku di komunitas darat ya?” tanyanya dengan mimik mengolok-olok.

Betapa pedih hati ini mendengar guyonan serampangan ini, tapi saya pun segera mengurungkan untuk membombardirnya, karena mustahil rasanya hidup di dunia modern ini tanpa mendapatkan celaan, betapapun yang kita lakukan tidak mengganggu orang lain, bahkan mungkin berguna.

“oh, itu hanya sekedar iseng dan ajang mengasah potensi menulis dan membangun gagasan. Apalagi, kita juga bisa mengambil manfaat dari perkenalan dengan teman-teman baru yang sebagian besar lebih berwawasan dari saya,” jawabku merendah.

“Ah, paling yang mengunjungi blogmu dan membaca tulisan-tulisanmu orang-orang itu juga.” Sergahnya ketus seakan memancing rasa tersinggungku.

Sambil berjuang untuk tetap menyelipkan senyum meski ‘dongkol’, saya jawab dengan santai, “Aku ini memang perlu go-blog (pergi ke blog) karena memang goblog (bodoh). Aku juga harus menerima kenyataan bahwa temanku di darat hanyalah orang yang sibuk meruntuhkan semangat poisitif orang lain.”

Raut wajahnya mulai tegang. Aku tidak perduli.

Mungkin karena itu aku tetap go-blog. Aku lebih tenang hidup di dunia The Matrix ketimbang hidup di Zion,” lanjutku seraya menepuk pundaknya.

Selama kira dua menit suasana hening. Aku melihatnya seperti orang yang kehabisan bahan obrolan.

“Oke deh, aku pamit dulu. Salam” ujarku.

“Go-Blog aja deh…” seruku dalam hati.