HABIB BUKAN AHLULBAIT (Bagian 12)



Bila seorang istri di hadapan suaminya berkata, “aku mencintai Nabi”, apakah suaminya cemburu? Marahkah wanita saat suami yang dicintainya mengaku mencintai Fatimah Zahra puteri Nabi?

Tentu tidak bagi yang memahami perbedaan esensial cinta vertikal yang sakral dan transenden dengan cinta horisontal yang profan dan immanen. Karena cinta istrinya kepada Nabi dan cinta suaminya kepada puteri Nabi itu adalah cinta vertikal. Cinta vertikal inilah cinta sejati yang tiada lain hanya mengandung makna “faqr” atau kebergantungan. Dalam cinta transenden ini pecinta berada dibawah yang dicintai. Tak hanya itu, pecinta bergantung secara eksistensial kepada yang dicintai dalam iluminasi yang konstan.

Cinta vertikal bermacam dua; cinta primer yaitu cinta eksistensial pada dirinya, dan cinta eksistensial sebagai turunan dari cinta primer yaitu cinta kepada tajalli Tuhan, yaitu Nabi dan para manusia suci sebagai tajalli-tajallinya

Salah satu ayat yang menegaskan cinta vertikal berbunyi “Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah memberikan berita gembira kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal saleh. Katakanlah, “Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atas seruanku ini kecuali kecintaan kepada keluargaku”. Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS Al-Syura [46]: 23)

Semua ulama ahli tafsir dari kalangan Syiah termasuk juga di antaranya tidak sedikit dari kalangan Ahlusunah seperti Ibnu Abbas menukilkan setelah Nabi Muhammad saw melakukan hijrah/perjalanan ke Madinah, kaum Anshar melakukan pembicaraan mengenai rencana mendirikan sistem pemerintahan Islam. Di akhir pembicaraan tersebut mereka sepakat untuk menghadap kepada Rasulullah saw perwakilan dari mereka berkata, “Untuk kemajuan Islam dan untuk mengatur urusan-urusan publik maka anda membutuhkan dana dan kemampuan ekonomi. Karenanya semua kekayaan yang kami miliki dan apapun yang bermanfaat dari kami berada di bawah pengelolaan Anda. Jika Anda memandang suatu maslahat maka gunakanlah untuk itu, dan ini akan menjadi kebanggaan kami.”

Ayat tersebut, dengan lampiran riwayat yang menafsirkannya, sebagaimana disebutkan dalam banyak kitab tafsir dan hadis dari jalur Ahlussunnah mengharuskan kecintaan kepada Ali, Fatimah dan putra mereka (saw) – dan karena perintah mencintai dalam ini sama sekali tanpa pembatasan waktu atau syarat tertentu, maka kewajiban cinta ini berlaku selamanya atas setiap mukmin. Dan kecintaan mutlak dan berkonotasi vertikal ini meniscayakan kepatuhan. Allah menjelaskan relasi niscaya cinta sejati ini dengan kepatuhan: “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Bila cinta tidak meniscayakan kepatuhan, maka hilanglah makna cinta mutlak sebagaimana telah diargumentasikan sebelumnya. Karenanya, perintah cinta dalam ayat Mawaddah hanya punya satu makna, yaitu kepatuhan. (Lihat: Majma al-Zawid 7103 Surah Hamasaq, Al-Mujam Al-Kabir 11351 Said Bin Habeer dari Ibn Abbas, Tafsir Al-Tsalabi 8: 310 tentang Ayat At-Tabsyir “Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hambaNya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. ..” (Asy-Syura : 23) Al-Hasakani, Syawahid At-Tanzil (2: Al-193 Hadis ke 827) tentang ayat Mawaddah ( Tafsir Al-Razi 27: 166. Syawahid At-Tanzil karya l-Hasakani 2: 189, As-Suyuthi, Al-Durr Al-Mantsur tentang ayat Tabsyir surah Asy-Syura, Tafsir Ibn Abi Hatim 10: 3276 Hadis ke 18473,, Yanabi’ Al-Mawaddah karya Al-Qunduzi 3: 137)

Ulama Syiah dengan berdasar pada sejumlah dalil yang kuat meyakini bahwa yang dimaksud al-qurba adalah Ali as, Fatimah sa, Hasan as, Husain as dan 9 Imam lainnya setelah Imam Husain as yang berasal dari keturunannya. (Thusi, al-Tibyān fi Tafsir al-Qur’an, riset Ahmad Habaib Qashir, Maktab al-‘Alam al-Islami, jld. 9, hlm. 157; Thabarsi, Majma’ al-Bayān fi Tafsir al-Qur’an, Muassasah al-‘Ilmi lil Mathbu’āt, Beirut, jilid. 9, hlm. 48.)

Demikian pula dengan Allamah Hilli yang menjadikan ayat Mawaddah sebagai ayat keempat dari Alquran yang menegaskan akan keimamahan Imam Ali as. Dari Ibnu Abbas meriwayatkan sewaktu ayat Mawaddah diturunkan, ia berkata, “Wahai Rasulullah saw, siapa dari keluargamu yang wajib bagi kami untuk mencintainya?” Nabi saw menjawab; “Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.” ( Hilli, Nahj al-Haq wa Kasyf al-Shidq, riset ‘Ainullah Hasani Armawi, Dar al-Hijrah, Qum., hlm. 175)

Setelah mereka menyampaikan hal tersebut, maka turunlah ayat ini (Ibnu Hajar ‘Asqalani, Lisān al-Mizān, Muassasah ‘Ilmi lil Mathbu’at, Beirut. jld. 4, hlm. 434) Bahwa upah dan balasan dari risalah yang disampaikan Nabi Muhammad saw adalah kecintaan kepada keluarganya, bukan upah berupa kekayaan materi dan hal-hal yang bersifat duniawi lainnya.

Dari Imam Sajjad as ketika ditanya mengenai ayat Mawaddah, ia menjawab, “Mengenai ayat Mawaddah adalah berikanlah kecintaan kepada kami Ahlulbait Nabi Muhammad saw.” (Kufi, Furāt al-Kūfi, riset Muhammad Kadzhim, Kementerian Kebudayaan Islami, Tehran, hlm 392).

Diriwayatkan dari Imam Baqir as bahwa misdaq yang dimaksudkan dari ayat Mawaddah adalah para Imam Maksum. (Kulaini, al-Kāfi, riset Ali Akbar Ghaffari, Dar al-Kutub al-Islamiah, Tehran.Kulaini, jld. 1, hlm. 413.)

Imam Shadiq as juga bersabda, “Ayat Mawaddah diturunkan untuk menceritakan mengenai kami Ahlulbait dan Ashabul Kisa’.” (Hakim Huskani, Syawāhid al-Tanzil, riset Muhammad Baqir Mahmudi, Kementerian Kebudayaan Islami, Tehran, jilid. 2, hlm. 213). Hakim Haskani dari ulama Ahlusunah, menukil 7 riwayat yang menceritakan mengenai ayat ini yang menegaskan bahwa yang dimaksud al-Qurba adalah Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. (Hakim Huskani, Syawāhid al-Tanzil, riset Muhammad Baqir Mahmudi, Kementerian Kebudayaan Islami, Tehran, Jilid. 2, hlm. 189-196).

Demikian pula Ahmad bin Hanbal menukilkan riwayat yang berbunyi, “Ketika ayat قل لاّ اسئلکم turun, sejumlah sahabat Nabi bertanya, ‘Wahai Rasulullah saw, siapakah keluarga yang dimaksudkan yang kami diperintahkan untuk mencintainya?’ Nabi saw menjawab; “Ali, Fatimah, dan dua putranya.” Dan perkataan ini diulang-ulangi Nabi sebanyak tiga kali.
Sedangkan cinta horisontal adalah cinta makhluk kepada sesama karena dorongan pemenuhan kebutuhan seksual, emosional, sosial dan sebagainya. Inilah cinta transaksional antar sesama karena saling membutuhkan. (Qurthubi, jld. 3, hlm. 2).

Jika hadis dari Rasulullah saw yang memerintahkan kepada kaum Muslimin untuk merujuk kepada Ahlulbait as sepeninggalnya dalam persoalan-persoalan agama khususnya berkenaan dengan Alquran, ushul, furu’ agama dan hakikat-hakikatnya seperti hadis Tsaqalain, hadis Safinah, dan yang lainnya terdapat dalam literatur Sunni dan Syiah, maka tidak ada keraguan sedikitpun bahwa perintah untuk mencintai Ahlulbait as menjadi wajib hukumnya. Karena dalam ayat disebutkan bahwa mencintai Ahlulbait as adalah upah atas perjuangan Nabi saw menyampaikan risalah Islam kepada umat maka perwujudan kecintaan tersebut adalah dengan mendukung, memberikan loyalitas dan menjadikan mereka pemimpin umat yang menjadi rujukan dalam segala hal. Jadi kecintaan yang dimaksudkan tidak hanya terbatas pada rasa suka atau sekedar menjalin keakraban dan persahabatan kepada Ahlulbait. Meskipun istilah yang digunakan adalah upah untuk Nabi saw, namun pada hakekatnya keuntungan dari pemberian upah tersebut adalah kembali kepada si pemberinya, bukan kepada Nabi saw ataupun Ahlulbait as (Allamah Thabathabai, al-Mizān, jld. 18, hlm. 66).

Tapi sebagian umat Islam tidak memberikan perhatian khusus kepada Ayat Mawaddah ini dan tak memilih penafsiran yang membatasi cinta kepada Ahlulbait sebagai kepatuhan dengan cara memasukkan selain Ahlulbait yang suci ke dalamnya dan membagi rata cinta untuk yang suci dan yang tak suci bahkan yang dekil.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed