HABIB BUKAN AHLULBAIT (Bagian 4)

Tak diragukan lagi, misi Nabi disambut oleh Salman, Abu Zar, Ammar, Bilal, Shuhaib dan para mantan budak dan kelas tertindas karena universalitasnya yang menitikberatkan pada penegakan keadilan dan kesetaraan manusia. Agama ini bahkan berdiri di atas prinsip itu dan menghapus suprioritas dan privilage sebagai faktor determinan preferensi di luar sistem nilai kebaikan dan ketakwaan.

Inilah teologi yang tak mengecualikan sekelompok orang sepanjang masa dari konsekuensi semua norma dan hukum agama. Karenanya, narasi apapun yang mencoba membangun aristokrasi yang justru kerap dikecam oleh pembawanya harus ditolak.

Salah satu narasi yang menjadi justifikasi langganan para penganut “teologi pengecualian” adalah syafaat dengan sangkaan bahwa syafaat diberikan oleh Nabi dan Ahlulbait kepada siapapun, termasuk keturunannya tanpa syarat.

Bila diberikan tanpa syarat, syafaat dan surga menjadi absurd dan kehilangan keagungannya karena menggugurkan sistem nilai dan syariat. Ia bahkan menegasi prinsip ketuhanan.

Syafaat Nabi dan putrinya tidak akan semena-mena diberikan kepada pecinta zuriyah bahkan dzurriyah tanpa syarat apapun. Perhatikan beberapa hadits berikut:

أن النبي كان يخاطب فاطمة (ع) فيقول: “أيُّما امرأةٍ من نساء أمتي صلَّت فرائضها وصامت شهر رمضان وأدَّت الزكاة المفروضة عليها وحجَّت بيت الله عزوجل إن استطاعت ووافقت زوجها ولم تؤذه نالتها شفاعة ابنتي فاطمة يوم القيامة”.

Nabi berbicara kepada Fatima AS, “Wanita mana pun dari wanita umatku yang melakukan shalat fardu dan berpuasa di bulan Ramadhan, membayar zakat yang dikenakan atasnya dan berhaji ke Rumah Tuhan Yang Maha Esa, jika dia mampu dan disetujui oleh suaminya dan tidak menyakitinya, niscaya memperoleh syafaat putriku Fatimah pada hari kiamat.”

قال رسول الله (ص) كما رُوي عنه: “وأما شفاعتي ففي أصحاب الكبائر ما خلا أهل الشرك والظلم”

Rasulullah SAW bersabda, seperti yang diriwayatkan darinya: “Adapun syafaatku berlaku atas para pelaku dosa besar, kecuali para pelaku syirik dan kezaliman.” (Bihar Al-Anwar : volm 8 hlm. 39).

Siapapun, termasuk dzuriyah Nabi pun tak akan selamat jika tidak patuh kepada Tuhannya:

من أبطأ به عمله لم يسرع به حسبه (نهج البلاغة)

“Nasab orang yang lambat amalnya tak menyingkap perhitungannya.” (Nahjul Balaghah).

ولي محمد من اطاع الله وان بعدت لحمته وان عدو محمد من عصى الله وان قربت قرابته (نهج البلاغه)

Pecinta Muhammad adalah orang yang taat kepada Tuhan meskipun tak berhubungan dengannya. Musuh Muhammad adalah orang yang tidak menaati Tuhan meskipun kekerabatannya dekat dengannya.” (Nahjul Balaghah)

Begitu pula surga hanya akan dinikmati oleh mereka yang beriman dan beramal saleh. Perhatikan beberapa ayat berikut:

سورة النساء، آية 57
وَ الَّذِينَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ …
“Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh akan kami surga-surga.” (An-Nisa : 57).

سورة النساء، آية 122
وَ الَّذِينَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ …

“Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh akan kami surga-surga.” (An-Nisa’ : 122).

“Tak ada makan siang gratis di surga” merupakan premis yang dibuahkan dari kesadaran tentang kemaha-adilan Tuhan sebagai prinsip primer teologi Syiah. Karenanya, terbaca sebagai paradoks bila ada yang mencoba menawar prinsip ini dengan delusi kemakuasaan Tuhan. Falasi ini menguak agnotitas kompleks (ketak-weruh-an akut) tentang postulat ontologi dan teologi. Semoga ini disadari dan tidak lagi mencoba menabraknya dengan narasi irrasional preferensi tanpa prestasi kebaikan dan ketakwaan dengan mengandalkan gertak teks.

Kesimpulannya, status habib biologis tak bisa menganulir “tidak ada makan siang gratis di surga”.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed