HABIB BUKAN AHLULBAIT (Bagian 6)

(Catatan: artikel serial ini ditulis sebagai cetusan pertanggungjawaban moral seorang alawi dan pertanggungjawaban intelektual seorang yang mengetahui sedikit agama, bukan tanggapan personal seraya tetap menghargai pendapat yang berbeda tentang tema ini.)

Islam melalui teks-teks ayat suci dan riwayat dari Nabi serta Ahlulbait menetapkan secara eksplisit bahwa hubungan kekerabatan dengan Nabi adalah sebuah anugerah kemuliaan yang bila dirawat dengan ketakwaan mengundang pahala ganda karena menghiasi dan mengharumkan nama nabi karena menjadi produk ajarannya. Namun anugerah kemuliaan ini bisa mengundang kutukan dan siksa ganda bila tidak dijaga dengan kepatuhan dan ketakwaan karena bisa membuat umat meragukan ajaran Nabi. Sebaliknya, orang-orang yang tak diberi karunia kemuliaan hubungan biologis, bahkan yang tak sesuku dan tak seetnis dengan Nabi, bisa dianggap sebagai keluarga dan anak-anak teologis Nabi SAW.

Salman RA mencapai tingkat yang tinggi itu dengan pengetahuan, dan dengan intensitas kesetiaannya kepada Rakyat Ahlulbait, sebagaimana disampaikan oleh Imam Ja’far Sadiq. (Tafsir Furat Al-Kufi, hlm 170 hadis 218, Bihar Al-Anwar, juz 65, hlm. 55). Hal ini juga senada dengan yang dilkatakan oleh Ibrahim AS tentang ayat 36 dalam surah Ibrahim فَمَن تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي (“Barang siapa mengikutiku, maka dia adalah dariku”) bahwa “barang siapa mengikutiku dan beramal dengan syatiatku dan berperilaku dengan meniru perilakuku,.maka ia adalah adalah anggota kerakabatku, terhubung denganku dan termasuk anak-anakku secara tanzil.”
من تبعني وعمل بشريعتي وسار بسيرتي فإنّه من
أقاربي ملحق بي ومن أبنائي تنزيلاً
(Tafsir al-Mizan 13: 71).

Alasan dimasukannya Salman ke dalam Ahl al-Bayt (saw) bukanlah kekerabatan dan ideologis, karena dia tidak memiliki hubungan biologis dengan Nabi SAW. Ini sama dengan dimasukannya Jibril ke dalam Ahlulbait ketika ditanya: “Dan aku salah satu dari kamu?”dan dijawab oleh Nabi SAW “Dan kamu dari kami.” (Amali ath-Thusi, hlm. 368 tentang ayat 33 surah Al-Ahzab). Keanggotaan Salman dan Jibril dalam Ahlulbait menegaskan adanya Ahlulbait non biologis alias teologis dan ideologis.

Nabi SAW memasukkan Salman yang ajam dan Jibril yang bukan manusia ke dalam Ahlulbait lalu mendoakan mereka (Mustadrak di Al-Sahihain 2: 416), Nabi juga mengeluarkan orang yang punya hubungan kekeluargaan dengannya dari Ahlulbait ketika menolak Ummu Salamah, isterinya untuk bergabung di dalam Ahlulkisa’ seraya memastikan posisinya sebagai orang baik. Bahkan dalam riwayat lain Nabi menegaskan “Tidak, kamu adalah salah satu isteri Nabi tapi kamu bukan anggota Ahlulbaitku. Sunan Al-Tirmidzi 5:31 Al-Ahzab, Al-Mujam Al-Kabir 9: 26).Dan tidak menganggapnya sebagai Ahlulbait. (Khasha’ish Al-Wahyul-Mubin Ibn Bathriq, hlm. 102, bab 4).

Meskipun tergolong isteri yang mulia, Ummu Salamah ditolak oleh Nabi SAW menjadi salah satu anggota Ahlulbaitnya, semata karena itu adalah keputusan Allah SWT, bukan pertimbangan emosional dan biologis semata.

Al-Quran juga menegaskan bahwa hubungan biologis dan emosional bisa tak bernilai bila tak dibarengi dengan hubungan teologis dan spiritual sebagaimana difirmakan dalam ayat 10 dalam surah At-Tahrim “Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksaan) Allah; dan dikatakan (kepada kedua istri itu), “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-” (At-Tahrim : 10).

Imam Ja’far AS berkata bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa berkata kepada Nuh “Dia bukan salah satu dari keluargamu” karena dia bertentangan dengan dia.(Tafsir Majma’ Al-Bayan juz 5, hlm. 253). Ia dipecat sebagai anak dan dikeluarkan dari keluarga Nuh AS karena membangkang dan kufur serta zalim, sebagaimana ditegaskan dalam surah Hud ayat 36 dan 37 “Dan diwahyukan kepada Nuh, “Ketahuilah, tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang benar-benar beriman (saja), karena itu janganlah engkau bersedih hati tentang apa yang mereka perbuat. Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.”

Terlahir sebagai dzurriyah adalah potensi kemuliaan yang harus diaktualisasikan dengan kerja keras.. Medali dianggap bernilai karena hanya diberikan kepada yang berprestasi sebagai hasil kerja keras.

Mohon perhatikan 5 paragraf sebagai berikut :

  1. Sejumlah siswa diberi sanksi skorsing sebagai hukuman atas pelanggaran mereka terhadap beberapa peraturan sekolah yang telah ditetapkan oleh kepala sekolah.
  2. Sejumlah siswa tak berprestasi diberi piala sebagai penghargaan atas posisinya yang dimuliakan di atas siswa-siswa lainnya karena punya hubungan kekerabatan dengan pendiri sekolah.
  3. Sejumlah siswa diberi piala sebagai penghargaan atas prestasi mereka yang mengungguli seluruh siswa lainnya sebagai buah jeri payah mereka juga diberi hadiah sebagai penghargaan atas perilakunya yang dinilai memberikan keteladanan kepada siswa lain dan mengharumkan nama pendiri sekolah yang merupakan kakeknya.
  4. Sejumlah siswa diberi piala sebagai penghargaan atas prestasi mereka yang mengungguli seluruh siswa lainnya sebagai buah jeri payah mereka dan dinobatkan sebagai cucu angkat pendiri sekoah atas prestasi mereka yang gemilang.
  5. Sejumlah siswa diberi sanksi skorsing sebagai hukuman atas pelanggaran mereka terhadap beberapa peraturan sekolah yang telah ditetapkan oleh kepala sekolah. Mereka diberi sanksi tambahan berupa tugas memangkas rumput halaman sekolah selama 1 bulan karena dinilai mencoreng nama sekolah yang didirikan oleh kakek mereka.

Manakah paragraf yang kontennya tidak logis?

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed