HABIB BUKAN AHLULBAIT (Bagian 1)

Ahlulbait dan Itrah dengan kesucian dan hak kepatuhan yang telah dietapkan oleh Nabi dalam banyak hadis jalur Ahlusunnah sebagai orang-orang suci yang wajib dihormati dan dipatuhi terduga direduksi dan dikaburkan oleh para kroni dinasti Abbasiyah.

Desakralisasi dan pengaburan tidak dilakukan dengan penafian posisi Ahlulbait (karena ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis Nabi tentang keutaman Ahlulbait terlalu banyak) namun dengan dialihkan ke dzuriyah keturunan Nabi SAW.

Tidak hanya itu, para penguasa dinasti Abbasiah berupaya memberikan gelar sayyid kepada seluruh Bani Hasyim sebagai justifikasi dan legitimasi teologis atas kekuasaannya.

Demi mencapai itu dikutiplah secara manipulatif sejumlah teks dari Al-Qur’an dan Sunnah demi menguatkan klaim kepemimpin setelah Nabi SAW. Siasat ini melengkapi pola represi dan intimidasi dalam mencengkramkan kekuasaannya rezim demi rezim. Fakta-fakta ini dilaporkan oleh para sejarawan klasik antara lain Abu Al-Faraj Al-Isfahani dalam Maqat Al-Thalibiyyin, hal. 239, dan Ibnu Imad Al-Hanbali dalam Syadzarat Al-Dzahab, hal. 366 juga para sejarawan modern seperti Syalabi (Chalabi) dalam Al-Tarikh Al-Islami wa Al-Hazharah Al-Islamiyah vol. 3 hal. 20, Amir dalam Ruh Al-Islam, hal. 306 dan Faruq Umar dalam Thabi’ah Al-Daulah Al-Abbasiyah, hal. 209.

Generalisasi dan ekspansi pengertian Ahlulbait yang ditegaskan kesucianya dalam ayat 33 dalam surah al-Ahzab (sesuai tafsir para ulama Sunni dan Syiah) yang kemudian diterapkan secara merata atas setiap keturunan Nabi telah mendesakralisasi fungsi kewalian yang terbatas tak ubahnya mencampur aduk beberapa emas dengan ribuan kuningan.

Pemberian hak istimewa dan perlakukan khusus kepada dzuriyah sebagai Ahlulbait serta doktrin kafaah dalam fikih Syafii yang mengharuskan syarifah (wanita dari dzuriyah) nikah dengan sayyid menjadi penguat klaim preferensi ini.

Beberapa anasir sayyid dan habib menjadikan posisi yang terhormat sebagai cara dan modal untuk menipu atau memprovokasi demi menyesatkan kelompok Muslim tak sealiran dan umat tak seagama serta memobilisasi umat demi mengambil kekuasaan. Kini setelah terbukti sejumlah habib menjelajahi banyak desa di seluruh wilayah Tanah Air, terutama Jawa Barat dan Kalimantan dan setelah beberapa orang bergelar habib tampil di panggung publik dengan pernyataan-pernyataan keras dan ujaran kebencian, penghormatan itu berubah menjadi hujatan rasial yang tak hanya ditujukan kepada oknum-oknum tersebut namun seluruh alawiyyin bahkan kepada seluruh keturunan Arab.

Rupanya karena terlanjur menikmati posisi sakral itu, sebagian dzuriyah yang nyata bukan Ahlulbait dan bukan Itrah menentang dan membenci Syiah yang secara tegas meyakini kesucian sebagai konsekuensi niscaya bagi Nabi sebagai penyampai wahyu suci dan Ahlulbait serta Itrahnya sebagai pengawal wahyu suci tersebut hingga akhir zaman.

Karena tiidak mensucikan siapapun selain Nabi, Sayyidah Fatimah dan para imam yang jumlahnya telah ditetapkan, yaitu 12 sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab referensial umat Islam, maka para pengikutnya tidak memperlakukan dzuriyah atau keturunannya sebagai suci seraya tetap menghormati mereka demi menghormati Nabi dan Ahlulbait tanpa mengecualikan mereka dari beban hukum dan norma agama sama sekali.

Karena itu tak perlu kaget melihat beberapa orang yang dikenal habib sangat aktif menyebarkan kebencian terhadap Syiah.

Namun bagi sebagian yang terbiasa dengan eksklusivisme tribal menerima aksioma kesetaraan merupakan hal baru. Karenanya,, bisa dimaklumi bila segelintir dzuriyah yang berpindah ke mazhab Syiah terlihat gelisah berusaha menganulir prinsip kesetaraan dan mempertahankan yang tersisa dari delusi preferensi yang dinikmati sebelumnya dengan mengais teks dan pernyataan irasional juga memberikan tanggapan serampangan beraroma sinisme personal demi menjustifikasi perilaku hidup feodalistik dan pola pergaulan eksklusif sambil menuduh semua non dzuriyah (akhwal dan masyayikh) yang mempertanyakan klaim superioritas ini sebagai hasad (dengki) dan bughdh (benci).

Setelah terjadi kegaduhan yang mengganggu ketertiban dan keamanan nasional belakangan ini yang mencuatkan kontroversi dan polarisasi seputar “habib”, tiba saatnya generasi tercerahkan keturunan alawi yang sebagian dikenal habib yang merasa terusik oleh reaksi kontra petualangan politik satu atau beberapa habib, mengambil langkah cerdas dengan melakukan otokritik secara jujur dan melepas mindset preferensi tak manusiawi dan bertentangan dengan prinsip keadilan demi mengintegrasikan diri sebagai salah satu elemen yang menjunjung tinggi kesetaraan dalam mozaik Indah, bangsa Indonesia.

“Jangan perlakukan selainmu dengan cara yang kamu sendiri menolak diperlakukan dengan cara seperti itu.” (Hadis).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed