“HABIB HONORIS CAUSA”

Kata “habib” (seperti yang pernah saya ulas sebelumnya dalam sebuah artikel) berdekatan dengan kata “sayyid”. Ini yang juga mungkin perlu dijelaskan.

Kata ‘sayyid’ adalah bentuk kata pelaku (semi ism fa’il) yang berasal dari kata baku (mashdar) ‘siyadah’ atau kata kerja lampau ‘sada’ (dengan fathah dan alif setelah huruf sin), berarti ‘menguasai’ dan ‘memimpin’.

Karena penghargaan abadi kepada para tokoh Ahlul-Bait itulah, setiap alawi ataup yang pmemiliki garis keturunan yang terbukti membimbing umat juga dipanggil dengan predikat ‘sayyid’ atau “habib”. Artinya, gelar ini bukanlah semata-mata penghargaan dan pemujaan simbolik, namun juga isyarat dan mekanisme alami untuk senantiasa mengingatkan mereka yang merasa berasal dari garis nasab Ahlul-Bait untuk senantiasa mewakafkan diri sebagai abdi dan pemandu umat. Sayyid sejati berjiwa egaliter, peka terhadap derita umat, dan pantang dilayani apalagi minta disanjung. Penghormatan dan pengistimewaan umat terhadap para alawi alias sayyid alias habib karena kontribusi dan pengorbanan mereka demi umat.

Apabila peran dan kontribusi nirlaba ini tidak lagi diberikannya, maka seorang alawi tidak patut menunggu orang memanggilnya dengan ‘sang pemimpin’ (sayyid). Artinya, ada kalanya seorang alawi tidak menyandang predikat ‘sayyid’.

Ke-alawi-an (saya lebih suka menggunakan kata ini ketimbang ‘sayyid’) dapat pula dilihat dari dua perspektif, yaitu ke-alawi-an biologis, dan ke-alawi-an ideologis. Ke-alawi-an jenis pertama dan kedua bisa terhimpun dalam satu sosok, seperti Imam Khomeini dan Hasan Nasrullah, namun bisa juga terpisah, sehingga tidak semua alawi biologis menyandang ke-alawi-an ideologis, begitu pula sebaliknya. Salman Farisi, sahabat yang berasal dari ras non Arab, telah diangkat oleh sebagai ‘alawi ideologis’ dengan sabdanya yang terkenal, “Salman dari kami, Ahlul-Bait’. Hanya saja, alawi ideologis (non biologis) tidak bisa diperlakukan sama dengan alawi bilogis dalam bidang fikih. Sebaliknya ‘sayyid’ yang mengkafirkan sesama Muslim adalah ‘Kan’an’ (putra durhaka Nabi Nuh as).

Dengan persepsi yang luas ini, semestinya pendekotomian dan pengangakatan isu-isu sensitif seputar kesayyidan dan ke-alawi-an tidak perlu mendominasi ruang-ruang diskusi dan membuat kita lupa akan agenda-agenda serta proyeksi dakwah ke depan.

Pesoalan ini menjadi memalukan dan memilukan mana kala tendensi negatif menjadi salah satu faktor di balik pewacanaannya. Isu kesayyidan dan kehabiban telah memakan banyak korban dan menggerus toleransi bahkan merenggangkan hubungan emosional apabila diungkapkan dengan diksi yang sangat dangkal dan ambigu.

Harus diakui, predikat ‘sayyid’ atau ‘habib’ di kalangan terutama dalam komunitas Syiah di Indonesia telah menjadi beban determinan. Bagaimana tidak? Sering kali kesalahan seseorang bisa ditimpakan atas sebuah predikat atau bahkan atas sebuah keluarga besar dan argumentum ad hominem kerap menjadi senjata yang sangat efektif. Bila itu terjadi, maka kesayyidan dan kehabiban adalah bencana karena diperlakukan sebagai dosa bersama.

Tidak sedikit generasi alawi terutama yang bermazhab Syiah di Indonesia cenderung membenci kodrat diri sendiri (baca: kesayyidan atau kehabiban yang diperoleh secara determinan) demi menegaskan bahwa apabila sikap kritis habib terhadap prilaku sesama habib lebih menjamin kebersihan dari bias atau tendensi negatif yang sangat kontra-produktif. Beberapa teman yang merasa sesak karena ‘ketiban’ kesayyidan telah memulai sebuah gerakan auto-kritik yang tidak kalah ‘pedas’ dibanding dengan orang-orang yang tidak ketiban beban ini.

Apabila kita jujur dan membuka hati kita selebar lapangan Senayan, maka kita semua –baik yang ketiban maupun yang tidak- mesti berkesimpulan bahwa kemusliman dan kesyiahan meniscayakan kecintaan dan ketaatan kepada Nabi dan keluarganya serta penghormatan kepada anak keturunannya.

Lalu mengapa isu ini masih saja mencuat ke permukaan? Banyak faktor yang mempengaruhinya. Salah satunya adalah beragam latar belakang orientasi keagamaan masyarakat Indonesia, termasuk tradisi dan pola interkasi terhadap komunitas alawi yang berimplikasi terhadap intensitas yang beragam menyangkut persoalan kesayyidan –sebelum mengenal mazhab Syiah- .

Tradisi dan pola penghormatan, yang sebagian irasional, terhadap alawi di kalangan sunni trasdisional seperti NU, yang memiliki hubungan historis dan emosional dengan para pendakwah dari Yaman, sangat berbeda dengan pola perlakuan kaum pembaharuan, seperti Muhammadiyah dan lainnya. Dua latar belakang orientasi keagamaan yang berbeda ini –akibat proses konversi ke mazhab Syiah- bertemu dalam sebuah komunitas yang masih baru di indonesia. Terjadilah pergesekan kecil, dari sekadar lontaran-lontaran gurau hingga meletus menjadi isu paling kontraproduktif.

Komunitas Syiah di indonesia, yang masih baru dan terdiri dari dua latar belakang yang bersebarang ini, memang sedang berproses untuk menemukan jatidirinya yang baru, bukan ala NU yang tradisionalis dan bukan pula ala Muhammdiyah, bukan ala Iran yang berbeda dengan karakter indonesia, dan bukan pula ala Irak yang tidak mirip dengan identitas Indonesia.

Menjadi alawi (sayyid biologis) bukanlah pilihan. Dan karena ia bukan pilihan, maka seseorang tidak layak dicemooh, didengki atau dijadikan sebagai alasan untuk sombong dan pongah. Sopir metromini yang ugal-ugalan tidak patut dicemooh karena kebatakannya, namun layak ditegur karena caranya mengemudi mobil. Ia tidak memilih menjadi sihombing atau Ginting. Demikian pula orang yang berkulit hitam atau bertubuh pendek, tidak layak dicemooh atau ditertawakan, karena itu bukanlah sesuatu yang diperoleh karena kerja keras atau prestasi. Bila seorang alawi (sayyid) melakukan perbuatan tercela, maka yang patut dicela bahkanb, bila perlu dihukum mati, karena perbuatannya, buka karena kesayyidannya.

Setiap alawi yang bermazhab Syiah pasti meyadari bahwa kesayyidan bukanlah alat dongkrak kesombongan, apalagi memang sejauh ini perlakuan istimewa itu tidak akan pernah didapat di tengah komunitas yang semi-NU dan mantan Muhammadiyah ini. Tapi, apabila ia bukan anugerah dan bintang jasa, setidaknya para non sayyid juga tidak menjadikannya sebagai jurus mematikan setiap kali terjadi polemik. Kasarnya, kalau bukan anugerah dan berkah, paling tidak, jangan jadi bencana.

Setiap Muslim terutama penganut mazhab Ahlul-Bait berpeluang untuk menjadi “sayyid” dan menjadi salman Farisi dan Muhammad bin Abu Bakr. Setiap orang yang memegang teguh tawalli dan tabarri adalah putra-putri Ali bin Abi Thalib. Inilah “Habib Honoris Causa” dalam pengertian positif.

News Feed