*”HABIB PLATINUM”*

Karena memegang prinsip kesenyawaan (bahwa orang irrasional akan menyukai senyawanya dan orang rasional selalu menyukai senyawanya), saya tak menganggap sikap beberapa habib yang mensesatkan mazhab Syiah dan membenci para penganutnya sebagai sesuatu yang mendesak untuk ditanggapi dan dibahas.

Saya juga nyaris tak pernah mempersoalkan pandangan, sikap dan sepak terjang beberapa habib yang terkesan intoleran karena memberikan pernyataan politik yang tajam terhadap Pemerintah dengan membawa-bawa sentimen agama.

Saya juga menahan diri untuk tidak mempertanyakan kapasitas keulamaan dan kompetensi intelektual sejumlah habib yang menjadi mubalig dan dai dengan aneka majelis taklim dan majelis zikir yang kadang mengabaikan kepentingan publik yang plural di Ibukota dan kota-kota lain.

Saya bahkan tak pernah merasa perlu menyikapi secara terbuka sepak terjang segelintir habib atau pengklaim habib yang mengeksploitasi simbol mulia ‘dzurriyah’ dan semacamnya demi mengais nafkah di tengah umat yang relijius dan lugu.

Meski menolak fenomena-fenomena negatif di atas, saya tetap menolak generalisasi pandangan negatif seperti meremehkan dan mengolok-olok atribut mulia ‘habib’ apalagi bernada rasial. Bagi saya, level paling rendah dari sikap etis dan logis terhadapnya adalah tak menghinanya bila tak merasa perlu menghormatinya.

Tapi ceramah seorang habib yang menggugat dan mencemooh orang-orang memperingati tragedi Karbala dan menangisi kesyahidan Imam Husain mendorong saya untuk menyikapinya, bukan untuk menyadarkannya, tapi untuk meminimalisasi efek destruktif sebuah pembodohan berkedok tausiyah.

Banyak orang bertanya-tanya dan bingung melihat beberapa habib yang identik dengan Ahlulbait justru getol mengajak umat menyesatkan Syiah bahkan mewanti-wanti umat tidak mengenang Imam Husain dan berduka atas tragedi Karbala.

Ada tiga macam sikap setiap orang terhadap apapun, berupa fenomena dan info, yaitu menerima, menolak dan abstain alias tak menerimanya juga tak menentangnya.

Sikap menerima dapat dibagi dua, yaitu:
a) menganutnya atau mengganti pendapatnya dengan mengambilnya sebagai pandangannya karena menganggap argumennya valid dan lebih kuat,
b) menghormatinya meski tak menganutnya atau mengambilnya karena tak menemukan alasan untuk menganut atau mengambilnya. Inilah toleransi.

Sikap menolak atau tak menerima dapat dibagi dua,
a) menolaknya karena menganggapnya sebagai salah,
b) menolaknya dengan kebencian alias membencinya.

Motif sikap membenci dapat dibagi dua;
a) kebemcian teologis karena menganggapnya tidak benar berdasarkan info yang memasuki benaknya saat kosong alias tanpa info tandingannya,
b) kebencian pragmatis atau politis.

Kebencian pragmatis lahir karena menganggap info yang berbeda dengan info yang telah diterimanya sebagai ancaman atas hak istimewa yang diberikan sejumlah orang yang telah dijejalinya dengan info atau doktrin itu. Karena menganggap info lain yang lebih valid dan jujur bisa mengubah pandangan publik yang selama ini memberinya penghornatan justru karena info pertama yang dijejalkan kepada mereka, maka kebencian menjadi pilihan sikap demi pengamanan posisi sosial dan hak istimewa.

Rasanya tak mungkin seorang habib membenci secara teologis Ahlulbait, Imam Husain dan hal-hal yang berasal dari orang-orang sangat mullia yang diklaim sebagai kakek dan leluhurnya. Justru para habib sadar bahwa kemuliaan dan penghormatan umat yang diperoleh bersumber dari Nabi dan Ahlulbait. Karenanya, bila ada beberapa habib terkesan membenci mazhab yang mensucikan Ahlulbait, menyesatkan orang-orang yang memuliakan Ahlulbait serta memperingati para tokoh suci Ahlulbait, maka itu bisa ditafsirkan sebagai kebencian non teologis atau kebencian pragmatis alias politis. Singkatnya, ini semata-mata soal laba dan bisnis dalam pengertian yang luas yang tentu dikemas dengan pernyataan teologis dan narasi agama.

Bila Ahlulbait dikenal dan ajaran-ajarannya menyebar, umat yang menjadi ‘pangsa’ dan ‘konsumen’ niscaya sadar bahwa kesucian adalah hak eksklusif para tokoh Ahlulbait yang telah ditetapkan dalam ragam teks hadis umat Islam. Efek keuangan dan kedudukan terhadap para penikmat pemujaan ini sangat mudah dipastikan. Karena itu, opsi yang tersisa bagi cucu durhaka adalah menghalangi siapapun untuk mengenal para pemilik sah hak kesucian, atribut kesayyidan sejati dan kehabiban level platinum.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed