Hah?! Sweeping Warga Yang Tak Hapal Pancasila

Sejatinya Pancasila hanya berarti jika nilai-nilainya diamalkan sesuai dengan sikap dan perbuatan sehari-hari. Namun Pemuda Pancasila Kabupaten Jember punya cara sendiri untuk mengingatkan masyarakat akan falsafah bangsa Indonesia itu. Organisasi yang memiliki seragam kebesaran berwarna loreng orange itu melakukan sweeping kepada warga yang tak hafal teks Pancasila.

Usai melakukan upacara pengibaran bendera merah putih, puluhan aktifis PP melakukan razia atau sweeping disekitar Alun-alun Jember. Kali ini yang kena giliran awal yakni seorang pengacara yang juga warga keturunan Tionghoa Rudi Sutedja. Ia diminta oleh puluhan aktivis PP untuk melafalkan lima butir Pancasila. Pada sila pertama, Rudi melafalkan dengan lancar. Namun pada sila kedua dan ketiga dia tidak hafal samasekali.

Bahkan ada beberapa butir sila yang salah saat mengucapkannya. “Dua, kesejahteraan yang adil bagi manusia,” kata Rudi Sutedja.

Tak ayal butir kedua Pancasila itu diteriaki “salah, ayo ulang” oleh puluhan aktivis PP. “Sila kedua Pancasila yang benar itu Kemanusiaan yang adil dan beradab,” timpal salah soerang aktivis PP Nanggik.

Ia kemudian memandu Rudi Sutedja untuk melafalkan Pancasila. Setelah hafal Pancasila, Rudi diminta untuk hormat dan mencium bendera sang saka merah putih sebagai simbol kesetiaan pada negara. Ternyata tidak hanya Rudi saja yang kena razia Pancasila, namun tukang becak pedagang kaki lima sampai petugas Satpol PP pun juga mendapat giliran.

Salah seorang petugas Satpol PP M Joko bersama lima temannya awalnya siap-siap cabut ketika didatangi ke Kantor Pemkab oleh puluhan aktivis PP. Dikiranya PP akan melakukan demontrasi. Eh…tak tahunya hanya minta menghafalkan Pancasila. Beruntung M Joko hafal lima butir Pancasila. Ganjarannya, Joko dihadiahi satu dus mi instant dan satu bendera merah putih.

Ketua Majelis Pimpinan Cabang Pemuda Pancasila Kabupaten Jember Abdul Aried Ismail mengatakan, razia warga yang tidak hafal Pancasila itu sebagai perwujudan agar jangan sampai warga negara sendiri melupakan dasar negaranya.

“Ini sebagai salah satu cara kita untuk mengingatkan warga negara terhadap dasar negara Pancasila. Selain itu juga menumbuhkan rasa nasionalisme yang saat ini sudah mulai pudar karena kepentingan politik sesaat,” tandas Abdul Arief Ismail. (Sindo)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 comments

  1. ana dari dulu aja kagak mau ngapalin pancasila yang ana apalin rukun imam dan islam supya kalau dirazia fpi ngak kena hehehehehehhe

  2. Kepentingan Negara diatas kepentingan rakyat……, beginilah jadinya rakyat lebih mementingkan “perutnya” daripada menghafal, karena ketika hafalpun tidak akan mengenyangkan perutnya. fakiiiiiir dan fakir.

News Feed