Hah?! Upacara Suksesi Kerajaan dengan Oral Sex?

Pangeran Puger diangkat menjadi Sultan Mataram dengan gelar Pakubuwana I setelah berhasil mengalahkan Amangkurat III (keponakannya sendiri). Puger didukung dan memang meminta dukungan dari VOC. Kendati demikian, status Paku Buwana I bermasalah karena ia naik melalui satu proses yang –katakanlah– tidak normal. Pangeran Puger merasa ia belum memeroleh “wahyu keraton”. Pendeknya, kekuasaan Puger tidak legitimate.

Lantas, bagaimana ia membangun legitimasinya?

Serat Babad Tanah Jawi memberi legitimasi dengan mengisahkan bahwa Pangeran Puger menghisap sperma Amangkurat II (kakaknya sendiri atau ayah dari Amangkurat III). Dahsyatnya lagi, Puger menghisap sperma ketika abangnya itu sendiri sudah menjadi mayat. (Apa kira-kira istilahnya? Oral sex cum nekrofilia? Hehehe….)

Adegan itu tercatat dalam Poenika Serat Babad Tanah Jawi Wiwit saking Nabi Adam doemagi in Taoen 1647; yang dalam edisi cetakan 1941 ada di halaman 260. Adegan yang sama bisa dilihat dalam monograf yang detail dan memukau karya Darsiti Soeratman yang berjudul Kehidupan Dunia Kraton: Surakarta: 1830-1935 di halaman 212.

Tentu saja saya tahu bahwa babad bukanlah karya ilmiah sejarah. Sudah biasa jika babad-babad itu merupakan hasil kolase fiksi dan fakta. Tapi, pada level membangun legitimasi kekuasaan di hadapan massa rakyat, sudah tak relevan lagi itu fakta atau fiksi. Yang terang, secara sadar fragmen itu memang diciptakan untuk menjelaskan bahwa Puger atau Pakubuwana I sudah menerima “wahyu keraton” dengan menghisap sperma Sultan sebelumnya, Amangkurat II, yang adalah kakak angkatnya sendiri.

Bisakah Anda bayangkan, seorang Sultan Mataram yang menyandang gelar Panembahan Senapati ing Alaga Sayidin Panatagama (Panglima Perang dan Ulama yang Menata Agama) membangun legitimasinya dengan cara menghisap sperma kakaknya sendiri yang sudah jadi mayat?

Dalam kasus Ken Arok, Kitab Pararaton membangun legitimasi kekuasaanya dengan mengisahkan bahwa Ken Arok sudah membawa wahyu kraton (kadang disebut wahyu keprabon) karena sewaktu bayi Ken Arok ditemukan di hutan, badannya sudah memancarkan cahaya berkilauan.

 

Cahaya dari kemaluan –ada yang menyebut dari paha– Ken Dedes yang dilihat Ken Arok pun kadang ditafsirkan sebagai wahyu kraton yang mendatangi Ken Arok. Bayangkan: wahyu keraton berasal dari selangkangan perempuan. Ck ck ck ck] (disadur dari http://pejalanjauh.blogspot.com)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 comments

  1. Kalau bukan kekuasaan Ilahiah, ya Thaghut….Wajar aja sih kalo Thaghut ini identik sama darah, penggal-memenggal, transfer protein, dsb.

  2. huhhhhhhhhhhhhh……………

    finally……………

    mungkin sejarah ini menjadi jawaban kenapa republik tercinta bersifat phallocracy ketimbang democracy, lha wong sejarahnya gak jauh dari CEPU ( cepitan pupu)…..??? inna lillah……………….

    pindah ke iran yukkkk……………
    ets… tp disana ada kisah se horor itu juga ga ya?

  3. Ah, kalo gw kagak percaya bos. Raja jawa itu banyakan ngibulnya. Katanya dapat wahyu kek, suami nyi loro kidul kek, punya keris ampuh kek, punya tombak kek….yang jelas semua itu dikarang agar dapat legitimasi atas rakyat yg bisa dibodohinya.

    Lha kalau sudah jadi suami nyi loro kidul, punya keris wasiat, tombak hebat, punya kebo putih, kuda putih…. ya waktu itu rakyat takut lah.

    Nah, celakanya lagi hal2 itu kok ya sering dibawa2 sampai hari ini. Mimpi kaleee……..bisa ngibulin kita lagi!

  4. Ass, Afwan Bib, Wah ini seru Bib. Karena didukung dengan monograf Darsiti Soeratman. Nah ana punya Babad Diponegoro, alih aksara Ny. Dra. Ambaristi dan Lasman Marduwiyota. telah disahkan dikbud th 1983

    P. Diponegoro keturunan HB I, yang mana HB I merupakan keturunan Amangkurat IV, Amangkurat IV adalah anak PB I.
    Nah dalam babad Diponegoro ini secara ‘implisit’ termaktub bahwa beliau selain penganut ahlul bayt yang bertaqiyah (Saya yakin ada tiga orang lagi di Nusantara ini syiah yg taqiyyah di zaman Belanda; Tuanku Imam Bonjol, Sultan Hasanudin dan P Antasari), P diponegoro pembela islam di tanah jawa. (secara implisit dalam babad ini, apabila tidak ada
    P Diponegoro, maka islam akan lenyap di jawa. Walaupun beliau kalah dr segi material tp tujuan batin perjuangannya tercapai, yaitu mempertahankan kesadaran islam di jawa). Nah dalam babad ini ada kidung Dhandanggula yang membuat saya mengambil kesimpulan bahwa beliau seorang syiah.

    Ini adalah Dhandhanggula VII Babad Diponegoro
    saya mulai dari serah ke X-nya

    Pan punika lalangenan sami, jroning guwa minangka dalemnya
    beji jero neng kolahe, jrejes telaganipun, amerancang sumur upami
    Widarakandhang ika pan pisuwanipun, kori kang gampeng tinatar, Kangjeng pangran liyep-liyep kadya guling, mangkana nulya ana

    Wong sawiji prapta ngarsa neki, mapan sareng kaliyan maruta
    sampun prapta ing ngarsane, ingkang pangangge iku
    kang pinindha lir pendah kaji, kagyat kangjeng Pangran angandika arum
    ingsun tambuh lawan sira, wong ing ngendi, kang tinanya anauri,
    kawula tanpa wisma.

    Prapta amba ingutus nimbali mring paduka, Jeng Pangran ngandika
    “Sapa kang kongkon arane lan ngendi wismanipun?”
    Wong punika aris turneki “Pan inggih tanpa wisma rat jawi sadarum
    punika minangka wisma, mangke samya jinulukan Ratu Adil ingkang
    ngutus kawula.

    Animbali mring paduka yekti pan ing mangke jumeneng punika
    sapucaking ardi mangke, saking ing ngriku iku kidul wetan
    pernah ing ardi Rasamuni,
    punika nging paduka iku tan kalilan bekta rencang.
    gya lumampah Kangjeng Pangran ingiring dhateng tiyang punika.

    Kadya sampun karsaning Hyang Widi, Kangjeng Pangran anurut kewala
    datan antara praptane ngandhaping ardi iku
    kang nimbali musna tan keksi mangkana tan winarna
    Ratu Adil iku jumeneng pucuking arga,
    rebut sorot lan sang Pradanggapati, dangu surem Hyang Ngarka.

    Kangjeng Pangran tan kuwasa uning, aningali marang kang wadana
    Sang Ratu Adil cahyane kasor Hyang Arka tuhu
    mung busana awas ningali Kangjeng Pangran sadaya,
    ijem surbanipun arasukan jobah seta ngagem sabi abrit ngaler ngilen ajengnya.

    Pan jumeneng neng pucaking ardi, munggeng sela malenas kewala
    tan wonten aub-aube, pan suketan kadulu resik kadyo den saponi
    Kangjeng Pangran neng ngandhap pan tumenga iku ngidul ngetan ajengira
    Ratu Adil nulya angandika aris: “Heh Ngabdulkamit sira?, Marmanira sira suntimbali, wadyaningsun kabeh sira duwa, ing Jawa rebuten angger, lamun ana wong iku atatakon marang sireki, nuwalanira kuran kon nggoleki iku.”

    Jeng Ngabdulkamit aturnya:
    “Amba nuwun sampun kuwawi jurit. lawan tan saged ika
    Aningali dhumateng pepatih lawan malih rumiyin kawula sampun nglampahi yektose pandamel wonten langkung inggih sami samining janmi

    Jeng Ratu Adil nabda: “Ora kena iku wus dadi karsaning Suksma tanah Jawa pinasthi marang Hyang Widi kang duwe lakon sira.
    Datan ana ingkang maning-maning,” sira wusnya kumepruk swaranya mapan anglir upamane panjang binanthing watu nulya musna kaliyan neki
    kadya pan datan kena winarna puniku, mangkana mapan anulya pangraosnya Kangjeng Pangran pribadi ingkang jumeneng arga.

    Artinya kira2 begini:
    P Diponegoro sdg di rumahnya widarakandang, ada seseorang yang menghadap kepadanya, datang bagaikan angin (scr tiba2). P Diponegoro kaget krn ia tdk bisa merasakan kedatangan org itu. kemudian berkata, siapa anda & rmahnya? org itu berkata bhw dia tdk punya rumah. kemudian ia berkata: kedatangan saya diutus untuk memanggil anda.
    P Diponegoro bertanya lagi: siapa yg menyuruh anda memanggil saya
    Org itu menjawab: Beliau tdk punya rumah, seluruh P Jawa adalah rumahnya. Julukannya adalah Ratu Adil, dan yang juga mengutusnya.
    Org itu berkata pada P Diponegoro: Beliau memanggil anda ke puncak gunung yg berada di tenggara widarakandang. P Diponegoro supaya datang sendirian.

    P Diponegoro segera menuju ke sana disertai utusan itu. Kehendak Allah P Diponegoro menuruti setiap langkah org itu sampai ke kaki gunung itu.
    Setelah sampai utusan itu tiba2 lenyap tanpa diduga P Diponegoro.
    Ratu Adil berdiri di puncak dataran gunung. Keluar cahaya dari beliau, berbut sinarnya dengan matahari, ahkan matahari jadi kelihatan suram sinarnya.

    P Diponegoro tidak mampu melihat wajah beliau yg mengeluarkan sinar, yg keliatan hanya bajunya. Beliau memakai soran hijau, jubah putih dan selempang merah. Beliau menghadap ke barat laut.

    Di dataran tinggi gunung itu, semua keliatan bersih, tdk ada perindang, dan hanya rumput yg bersih spt hbs disapu
    P Diponegoro duduk di bawah menghadap beliau ke arah tenggara.

    Ratu Adil segera bersabda: “Hei engkau Abdulhamid. Tahukah engkau kenapa kupanggil. Rakyatku semua di Jawa (maksud beliau orang islam) engkau harus pertahankan nak. Apabila ada org yg menanyakan dalil kebenaran tindakanmu nanti, gunakanlah argumen dalam Al-Quran.

    P Diponegoro, menjawab: hamba sudah tidak mampu berperang. Ketidakmampuan bukan krn diri sendiri, tapi karena melihat keadaan prajurit maupun rakyat. (mrk enggan berperang, awal P Diponegoro bermaksud menuruti pengikut dan rakyatnya).
    Ratu Adil bersabda: tidak boleh itu, sudah jadi ketetapan Allah bahwa Jawa ini P Diponegoro yang akan menjadi tokoh utamanya. Tidak bisa mundur lagi, ketetapan telah dijatuhkan, kalau engkau tdk melanjutkan perang maka kehendak Allah akan tetap terlaksana bagaimanapun prosesnya yg akan berubah (jika P Diponegoro tdk jadi melanjutkan perang) dan engkau (P Diponegoro) akan tergilas/musnah ditengah pelaksanaan ketetapan Allah itu.

    Ciri2 dan kapasitas Ratu Adil pd cerita babad, banyak kemiripan dg kapasitas Imam Mahdi. [teknik bayangan imajinasi yg hanya dimiliki ahlul bayt dan para shalihin->(shalihin derajatnya lebih rendah)]–> utusan itu menghilang.
    Kemudian dari julukannya: Ratu Adil, mirip dg banyak hadis kita mengenai kezuhuran imam yg akan menegakkan keadilan di muka bumi. (hanya eliau yg mampu memberika keadilan secara menyeluruh)
    Kemudian keberadaan Imam Mahdi yg telah lahir sejak awal adalah terminologi syiah.
    Yang menjadi pertanyaan saya Bib, kira2 bisakah seorang yang akan menjadi tokoh penting dalam perjuangan islam memiliki moyang dr ayah yang secara akhlak tidak memenuhi syarat lagi. Yang selama ini saya ketahui adalah bahwa terdapat suatu keadaan manusia mulia tetapi memiliki anak yg jauh kapasitasnya dibawahnya. tetapi bagaimana dg keadaan sebaliknya? Apakah situasi seperti situasi bunda imam Ja’far relevan pada situasi ini? terlepas dari kebenaran dan keotentikan fakta teks sejarah diatas dengan realitas sejarahnya.
    Setahu saya Bib juga ada riwayat yang mendeskripsikan penggubahan besar-besaran landscape sejarah moyang bangsa ini oleh para ilmuwan2 sejarah Belanda selama kolonialisme dulu Bib.
    Mohon pencerahan di sini Bib, syukron, jazakallah kheir.

  5. crita kok yang egak-egak.
    mbok yaooooo nulis tulisan yang yang menyenangkan orang lain dan memberi semangat hidup mulia. Kan sama-sama nulisnya dapat pahala lagi

    Rahayu

    Aji

  6. aslm….saya akan mencari kebenaran dari hal tersebut…Putra Prabu Brawijaya V yaitu Raden patah beragama muslim dan Raden Bondan Gedjawa(saya ragu islam tidak mengajarkan hal itu)…keturunan R. Bondan Gedjawan adalah Prabu amangkurat I,II,III,IV…saya keturunan amangkurat IV dari putranya B.P.H Hadiwijoyo…

  7. 1) Nyucup mani itu cuma joke orang Jawa, mas. Orang Jawa jangan dibaca secara literal–gak nyambung.
    2) Kalaupun literal, coba kalau interpretasinya gini: Puger itu kekasih Amang II, jadi karena dekat dia menguasai sumber-sumber finansial dan manusia Mataram. Amang III kalah SDM karena tidak sayang sama siapa-siapa.
    3) Kalau nggak literal, gini: Puger nekek Amang II (Orang dicekek atau digantung keluar maninya, mas). Tentu saja Amang III kedher–kalah tegelan.
    4) Gabungan 2 dan 3, atau
    5) Mbuh ah. Gitu aja repot.

  8. dalam riwayat dikisahkan bahwa Tombak Kyai Plered adalah Pusaka yang dipercayai oleh para Raja2 Mataram, barang siapa yang memiliki pusaka itu dialah yang bakal menjadi Raja Mataram sampai dengan Raja Yogyakarta ( karena Pangeran Mangkubumi saat di tawari pusaka oleh Raja Surakarta Sunan Pakubuwono II, dia ternyata memilih Tombak Kyai Plered sehingga Pamor Kerajaan Mataram pindah ke Yogyakarta ), Asal usul dari Tombak Kyai Plered menurut hikayat adalah berasal dari ” Anu nya ” Syeh Maulana Maghribi dimana dikisahkan bahwa saat Syeh Maulana Maghribi bertapa diatas danau, dia melihat Dewi Rasa Wulan ( adik dari Sunan Kali Jogo ) yang sedang mandi di danau terangsang dan meneteskan sperma, sehingga Dewi Rasa Wulan hamil, kemudian Dewi Rasa Wulan menuntut agar Syeh Maulana Maghribi menikahinya..tapi Syeh Maulana tidak bersedia dan menunjukkan bahwa dia tidak memiliki ” Anu “…singkat cerita ternyata ” anu nya Syeh itu berubah menjadi Tombak yang nantinya dinamai Kyai Plered, kemudian Tombak itu oleh Dewi Rasa Wulan diberikan kepada anaknya Kidang Telangkas, dimana setelah dewasa nantinya akan menurunkan raja2 jawa..Nah, apakah kejadian Pangeran Puger saat menghisap ” Anu nya Sunan Amangkurat II karena meihat sosok Tombak Kyai Plered dalam diri Amangkurat II yang sebelumnya memang memegang Pusaka itu…sehingga Wahyu Keprabon pindah ke Pangeran Puger.

  9. Sastra Jawa itu banyak kiasnya. Tidak selalu bisa diartikan apa adanya. Termasuk nyucup mani tentu tidak berarti menghisap sperma orang mati. Harus dibaca cerita sebelum dan sesudahnya, ga bisa cuma diambil satu kalimat / frase itu. Kalau anda ndak faham ya jangan menyebarkan hal yg menyesatkan. Itu udah ada bbrp org komen yg disesatkan, mereka akan cerita ke teman2nya dan makin byk org yg akan disesatkan.

News Feed