‘Haji Langganan’

Suatu hari ketika masih tinggal di sebuah kota di Jawa Timur, saya diundang tetangga untuk menghadiri acara walimah. Tapi yang memb uat saya terkejut, kata walimah itu kini telah mengalami pengembangan. Ia tidak lagi hanya berarti nikah atau acara ijab-kabul, tapi semua bentuk kumpul-kumpul suka. Nah, kali ini saya diundang untuk menghadiri salah satu acara walimah dengan pengertian yang baru, yaitu walimah (tasyakuran) naik haji.

Yang lebih mengejutkan lagi, orang yang mengundang saya itu adalah orang yang sama mengundang saya tahun lalu dan tahun sebelumnya. Dengan kata lain, juragan ikan lele dan bawang ini adalah ‘haji langganan’, bahkan dia dapat dianggap kolektor gelang besi yang dikenakan oleh peserta ONH. Di rumahnya semua perlengkapan haji, seperti tas pinggang, kartu identitas dan no kloter, jerigen air zamzam, tersimpan rapi di galeri haji yang berada dalam area rumahnya yang sangat besar.

Saya datang agak terlambat. Rupanya jalan gang telah ditutup. Para hansip dadakan tampak berjaga-jaga dan duduk di tengah jalan. Tenda-tenda besar pun terpasang sepanjang tiga rumah. Ada selingan musik samroh dan lagu-lagu Arab yang menurut telinga saya bukan jenis lagu relijius, meski dilantunkan dalam bahasa Arab. Tulisan ‘Selamat Menunaikan ibadah Haji, Bpk Haji Margani dan Keluarga” dan kaligrafi Arab berisikan ayat al-Quran tentang ibadah haji terpampang di dinding luar rumah dan ruang tamu. Pak Haji tampak berseri-seri dan tak henti-hentinya mempersilakan para tamu ya ng sebagian besar miskin memperbaiki gizi dan nutrisi dengan menu-menu makanan lezat dan gratis.

Acara ‘walimah’ ini bnar-benar meriah dan mewah. Acara yang diramaikan dengan hingar-bingar lagu ini berlangsung hingga menjelang azan subuh. Warga yang umumnya miskin nampaknya menganggap acara itu sebagai acara tahunan yang rutin. Maklum, pak Margani memang memang ‘haji langganan’.

Bagi orang seperti Pak Margani, mungkin haji bukan lagi sebuah ibadah kolosal super berat yang merupakan momentum penghayatan derita dan perjuangan Ibrahim AS, tapi penegasan status sosial, dan wisata. Bayangkan saja! Tiga istri dan semua anak-anaknya, termasuk si Salim, anaknya yang terkecil (bukan terakhir lho), yang baru berusia 5 tahun sudah pernah menjejakkan kaki di Mekkah.

Seperti sebelum-sebelumnya, sepulang dari ibadah haji, acara penyambutan sejak asrama hingga kampung rumah akan segera digelar. Iring-iringan mobil juga siap memacetkan jalan, dan tentu saja mengundang perhatian banyak tetangga. Ia datang dengan pakaian lengkap bak seorang emir dari keluarga Saud. Igal melilit kepalanya dan gamis mewah membungkus tubuhnya yang gendut dan pendek. Tidak hanya itu, gaya ngomongnya sudah berubah. Meski tetap berbahasa Indonesia, dia mengubah aksennya dengan gaya Arab. Benar-benar membuat orang-orang kampung yang tidak pernah haji terkagum-kagum.

Seperti tahun-tahun sebelumnya juga, pak Margani tetap memberikan ‘bantuan finansial’ kepada tetangga dan pelanggannya. Bantuan yang saya maksud adalah bantuan ala Pemerintah asing atau IMF alias hutang plus uang terimaksih (kata lain dari bunga).

Menurut saya, mungkin haji demikian, bukan hanya tidak wajib, tapi bisa haram hukumnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

  1. Dalam konteks kekinian ibadah ritual yang mestinya jadi ladang ibadah justru jadi ladang subur mempertontonkan keshalehan, setiap gerak langkah dan kiprah yang dikejar cuman wah dan komentar wah…

News Feed