Happy Ending

happy-ending

Dari 40 lebih comment tentang pencalegan, saya simpulkan bahwa prosentase setuju terjun ke dunia politik sedikit mengungguli tidak setuju dan abstain. Karena itu, aku putuskan tetap maju dengan bantuan doa orang-orang yang sudi membantuku memegang tanggungjawab yang super berat dan sensitif ini andaikan terpilih.

Sebagian yang menentang bersikap pesimis terhadap membaiknya lembaga legislatif yang terlanjur dipahami sebagai “lingkungan kumuh”, sehingga terkesan hanya malaikat yang mampu memegang teguh amanah bahkan mewarnainya. Sikap pesimis ini bisa dimaklumi, apalagi bila didasarkan pada fakta-fakta.

Namun, yang juga perlu dipahami, untuk menjadi koruptor, culas, rakus dan zalim, seseorang tidak memerlukan tempat khusus seperti gedung pemerintah atau DPR. Ia hanya memerlukan dua hal, yaitu keinginan dan satu syarat lagi: meragukan hari pembalasan.

Korupsi (secara kebahasaan adalah tindakan merusak) tidak hanya mengambil objek uang, tapi lebih luas dari itu. Area hawa nafsu tidak terbatas di sekitar Senayan, atau gedung ber-AC.

Perbuatan makruf dan ibadah juga tidak mesti dilakukan di masjid atau pada bulan Ramadhan semata. Ia juga tidak hanya berlaku bagi seorang ustadz atau yang sudah melaksanakan ibadah haji. Hal itu karena yang terpenting adalah subjek dan pelakunya, bukan tempat, waktu dan sarananya.

Siapapun bisa menjadi baik atau sebaliknya betatapun tidak memiliki uang, jabatan dan ketenaran. Pejabat atau rakyat, kyai maupun abangan mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi baik karena kehendaknya, begitu pula sebaliknya.

Sering kali orang keburu membatasi area hawa nafsu hanya pada tempat dan waktu tertentu. Padahal setiap detik dan dimana saja, setiap orang bisa menjadi zalim dan bertindak korup, di rumah, di kantor, di halte dan dimana saja.

Dalam khazanah agama, perbuatan dosa disebut dengan al-fisq. Para ahli irfan nazhari mendefinisikannya sebagai ‘penyimpangan dari jalan yang luar’ atau mungkin lebih pas diartikan ‘ketidakwajaran’. Setiap perbuatan dosa, menurut para ahli irfan nazhari, adalah abnormalitas, karena norma dan hukum yang mestinya diikuti adalah syariah dan akhlaq Islam. Allah berfirman, “Apakah orang mukmin seperti orang fasiq, tentu tidaklah sama.”

Lawan afirmatif kefasikan adalah kepatuhan. Ia bisa menjadi positif apabila objeknya berhak ditaati, dan bisa menjadi negatif apabila objeknya tidak berhak ditaati. Allah SWT adalah satu-satunya yang memiliki hak untuk ditaati secara mutlak. Ketaatan kepada Rasul adalah turunan dan cabang dari ketaatan kepadaNya. Sedangkan ketaatan kepada sesama manusia, kepada ayah, ibu, suami, majikan, atasan, penguasa, dan sebagainya menjadi positif dan terpuji apabila tidak bertentangan dengan hukum Allah. (dilarang mematuhi manusia apabila perintahnya melanggar hukum Allah).

Kepatuhan positif dapat pula dibagi dua, berdasarkan bidang-bidangnya, menjadi dua; 1.Ketaatan legal. Yaitu ketataan terhadap hukum yang telah ditetapkan oleh Allah melalui wahyu dengan segala rincian tata caranya, seperti shalat, puasa dan sebagainya; 2. Ketaatan moral. Yaitu ketaatan terhadap hukum yang telah ditetapkan oleh Allah dan ditanamkan langsung dalam fitrah manusia, seperti larangan bersikap dengki, sombong dan perintah untuk bersikap berani, optimis, menolong yang lemah dan sebagainya..

“Diamnya tak hembuskan duka. Tawanya tak membahana. Ia biarkan jiwanya menjadi lapangan tempat sambat dan keluhan masyarakat mendarat. Ia memilih sengsara demi masadepannya, akhiratnya. Itulah sifat yang dimiliki oleh penghuni DCT (daftar calon tetap) sorga, kata Ali bin Abi Thalib. Konsistensi dengan kriteria-kriteria tersebut tak pelak akan membuat hidupnya happy ending atau husnulkhotimah.

“Dan sesungguhnya akhirat lebih baik dari yang pertama (dunia)” (QS al-dhuha). (adilnews)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 comments

  1. Alhamdulillah.
    selamat berjuang, Ustadz.
    bisshalawat.

    oh, ya. mungkin lebih tepat kalo judulnya bukan “Happy Ending” deh. Kan belon ‘ending’. Saya rasa akan jauh lebih tepat kalo tittlenya “Happy Prologue”. ustadz, tidak bermaksud mengatakan bahwa baru memilih (prologue) adalah ending, kan?

    note:
    saya sedang menulis novel yang lain: FAITH!. dan bahan-bahannya banyak saya ambil dari blog ustadz Labib, ustadz Musa Kadzim, ustadz Mushadiq Marhaban, dkk. yah semacam ‘copas’. saya tidak tahu apakah itu nantinya masuk legal ato tidak. karena nanti akan saya komersilkan (dalam bentuk novel). saya hanya berpikir karena isinya memang bagus, bermanfaat dan sesuai dengan apa yang sedang saya tulis, maka saya ambil. kalo ustadz tidak keberatan, nanti saya kirim sedikit salinannya. sekalian minta ijin kalo terlalu ‘copas’. tlng balas.)

    ML: Saya berkali-kali menghubungi no ponsel anda, tapi gagal selalu. Mohon hubungi saya via no ponsel saya atau datang saja ke kantor saya pada hari selain sabtu dan minggu. Ada yang perlu saya bicarakan. Terimakasih

  2. Diamnya tak hembuskan duka. Tawanya tak membahana. Ia biarkan jiwanya menjadi lapangan tempat sambat dan keluhan masyarakat mendarat. Ia memilih sengsara demi masadepannya, akhiratnya.

    Menyimak tulisan di atas, terasuki oleh spirit ustadz, maka saya putuskan:

    MY HAPPINESS WILL NEVER ENDING

    Buat Ustadz, kami doakan hal terbaik, entah apapun itu nantinya.

  3. ass.wr.wb
    ikan koi hidup dikolam ikan hiu.selamat memangsa atau di mangsa.sudah banyak ikan koi yang coba coba hidup dikolam ikan hiu,hasilnya anda simpulkan sendiri.

News Feed