HARAKIRI LOGIKA DAN INTOLERANSI

Agama produk doktrin tak mengubah prilaku buruk jadi baik, karena ia hanya dianut tapi tak dipilih.

Karena dijejalkan, agama doktrinal hanya mengubah tampilan luar dan asesoris penganutnya.

Agama doktrinal diinkubasi dalam suhu tinggi kebencian sebagai ganti argumen.

Prilaku baik diarahkan oleh pandangan benar. Pandangan benar diarahkan oleh argumen rasional. Agama doktrinal menolak rasio.

Agama doktrinal disebarkan demi mencetak jelata-jelata intoleran yang mengira kebencian kepada agama lain sebagai kesalehan.

[ads1]

 

Teologi kebencian memangsa para pemuja sains yang hanya tahu tentang logika empiris.

Pinter dalam sains belum tentu pinter beragama. Malah kalau tak punya wawasan rasional, potensial jadi jumuder.

Teologi kebencian diinkubasi dengan delusi “konspirasi musuh”.

Para juragan agama doktrinal menggosok adrenaline sektarianisme melalui mobilisasi benuansa perlawanan terhadap “thoghut”.

Dengan harakiri logika, jelata-jelata eksodus ke savana bebas belas, iba, empati dan toleransi.

Hanya ada dua jenis manusia di mata penganut agama doktrinal; sekeyakinan dan musuh.

Tragedi Sampang menyadarkan bahwa intoleransi tak hanya menjangkiti fans Dul Wahab tapi setiap orang membenci yang tak semazhab.

Baca juga:

 

[ads1]

 

Ekstremisme bermula dari pandangan yang menolak peran logika sebagai penyaring info agama dan menolak keragaman.

Ratusan situs dan ribuan akun agen intoleransi disebar demi menguasai pemuncak menu tema di “mesin pencari” dengan info-info pemantik kebencian sektarian. Tak hanya itu, para pemuja teologi pembid’ahan ini mencatut nama Syiah dalam situs-situs abal-abal demi menghambat arus kesadaran yang makin meluas.

News Feed