Harmoni Hakikat dan Syariat

tasawuf.jpg

Akhir-akhir ini, terutama di bulan Ramadhan, banyak tayangan telivisi yang menjadikan mistisisme sebagai tema sinetron dan reality show. Terbukti, masyarakat yang sedang bingung karena himpitan ekonomi dan persoalanan sosial sangat meminatinya, karena hampir semuanya mendambakan jalan pintas di luar logika Mistisisme telah dimutilasi dan direduksi secara besar-besaran oleh sentra industri pertelivisian dan periklanan.

Salah satu penyebabnya adalah kelonggaran substansi dan definisi mistisime. Banyak masyarakat awam yang menjadi korban penipuan orang-orang yang mengaku bisa mendatangkan mukjizat, karamah, memberikan solusi cepat, atau mampu memperagakan sesuatu yang luar biasa dengan mengusung jargon mistisisme, taswauf, tarikat, hikmah dan sebagainya mulai dari penggadaan uang, penggalian harta karun ratusan tahun silam sampai penyembuhan secara ngawur penyakit akut yang kadang berakibat fatal. Makin aneh dan irasional prilaku dan ucapan seseorang, maka makin besar peluangnya untuk dianggap ‘orang pinter’ yang akan menjadi konsultan spiritual terkenal dan kaya. Tidak sedikit pejabat yang ingin naik pangkat atau mencalonkan diri dalam pilkada dan pemilu yang rela disirami oleh ‘orang pinter’ (sebutan diplomatis : dukun) dengan ‘cairan-cairan suci’ dan mengkomat-kamitkan mantra-mantra tertentu.

Ironisnya, selalu saja ada yang termakan oleh jargon yang medikotomikan hakikat (mistisime) dan syariat, dengan dalih bahwa orang yang telah mencapai hakikat tidak perlu terikat dengan syarita. Inilah gerbang demoralisasi atas nama agama dan spiritualisme. Padahal tasawuf hakiki dan ‘irfan sejati tidak akan pernah menyimpang dari jalan para nabi, wali dan ajaran-ajaran agama samawi. Karenanya, ajaran agama-agama Tuhan, sejarah kehidupan para nabi dan wali haruslah menjadi parameter dan alat ukur bagi ungkapan dan prilaku siapapun yang mengaku atau dianggap sebagai arif dan sufi.

Salah satu bentuk pendangkalan mistisime dan taswuf adalah rekayasa dan komersialisasi sejumlah produk spiritaulisme seperti khusyuk dalam shalat melalui paket-paket dan training yang sepenuhnya mengandalkan sarana material seperti audio-viusal dan pencahayaan. Peserta yang umunya sangat awam diberi simulasi dan diajdikan objek brain storming melalui pandangan-pandangan fatalistik yang secara teologis tidak dapat dipertanggungjawabkan. Memang simulasi demikian dalam jangka pendek membuahkan hasil, paling tidak, memberikan sesuatu yang baru dalam jiwa peserta. Namun, bisa dibayangkan apa jadinya bila khusyuk hanya bisa dirasakan oleh segelintir orang yang beruntung dalam iklim ekonomi yang rusak ini.

Untuk mencapai sebuah pengalaman ruhani, tidak diperlukan membership dalam sebuah perusahaan-perusahaan yang menyediakan jasa reparasi jiwa dengan ragam nama yang menterang. Ada tiga media yang disebut kaum arif untuk membenarkan penyaksian-penyaksian spiritual dan bisa membedakan antara ilham-ilham yang datang dari Tuhan dengan bisikan-bisikan syaitaniah. Tiga media tersebut adalah akal, al-Qur’an dan sunnah.

Bila sebuah peristiwa kasyf (ketersingkapan) dikukuhkan oleh tiga media diatas, maka itulah kasyf dan penyaksian yang benar dan bersumber dari Yang Benar. Bila tidak, maka ia hanyalah rekayasa atau peristiwa supranatural yang tidak bersumber dari Yang Benar.

Semua penyaksian yang bertentangan dengan hukum akal atau hukum syariat adalah pasti batil. Allah mempringatkan kita, “Orang-orang yang paling rugi perbuatannya… adalah orang-orang yang berprilaku sesat, namun menduga telah melakukan perbuatan yang baik” (QS al-Kahfi). Ramadhan adalah kesempatan bagi siapapun untuk meraih tingkat tertinggi dalam kehambaan, tanpa sedikitpun biaya rigistrasi atau iuran keanggotaan. (copyright majalah ADIL/www.adilnews.com)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 comments

  1. Bukti bahwa modernitas telah merambat bahkan mistisme yang sebelumnya gak ada kaitan dengan pandangan dunia materialisme, apalagi modernitas yg jadi anaknya.
    Sebenernya sumber masalah awalnya adalah pengumpulan kapital, yang diterjemahkan menjadi uang dan tumpukan kekayaan bagi banyak orang. Demi penumpukan ini, maka apa pun akan dijadikan komoditas yang bisa diperjuangkan (baca: diperdagangkan). Jadilah, ada perkawinan paksa antara mistisisme dan materialisme dengan materialisme menjadi kepala keluarganya. Akibatnya, mistisme terkerdilkan dan direduksi sedemikian rupa menjadi komoditas instan. Ia juga menjadi terkotorkan dengan kepercayaan dinamisme dan animisme primordial. Akhirnya, sedemikian dahsyatnya transformasi yang dialami mistisme, jadilah ia seakan-akan berubah wujud dan tak bisa dikenali lagi.
    Perkara adanya pemisahan syariat dengan hakikat, training khusyu shalat dengan multimedia dan paket2 training, dukun2 dan paranormal, dsb adalah symptoms (gejala2) yang muncul akibat kawin paksa ini.
    Dengan istilah lain, sekarang agama telah menjadi kapital baru, yang tujuannya hanyalah penumpukan kapital, bukan nilai2 akhirat…

  2. Betul, sungguh amat memprihatinkan, ketika :

    1. Terjadi kesalahan pengucapan Al Qur’an seperti di atas. suara nun ditulis dengan m.
    2. Al Qur’an yang ditulis dalam bahasa Arab diganti dengan bahasa Latin. Tuhan tentu tidak bodoh ketika memilih menyampaikan Al Qur’an dengan bahasa Arab dan tidak memilih bahasa Latin. Jangan hilangkan kemukjizatannya dengan bahasa Latin.

    Betul, sungguh amat memprihatinkan.

News Feed