Haul Nabi Muhammad; Tradisi Baru?

20495935.jpg

Ternyata tidak ada kata sepakat tentang tanggal wafat Nabi Muhammad. Sebagian besar umat Islam di Tanah Air hanya memperingati kelahirannya karena beranggapan bahwa Nabi termulia itu lahir dan wafat pada tanggal yang sama, 12 Rabiul Awal.

18 Safar diyakini oleh sebgian umat Islam sebagai tanggal wafat Nabi Termulia Muhammad saw. Di Indoensia peringatan haul selalu menjadi tradisi dan simbol relejiusitas di kalangan masyarakat santri sejak dakwah Wali Songo. Namun yang diperingati adalah ulama atau kakek dan ayah atas inisatif keluarga. Karena itulah, acara haul Nabi Muhammad terasa aneh.

Lebih penting manakah antara memperingati kelahiran atau wafat Nabi? Apakah kita hanya perlu mensyukri kelahirannya, dan tidak mengenang detik-detik terakhir dalam hidupnya? Tidakkah wafat manusia paling sempurna ini perlu dikenang sambil merenungi pesan-pesannya yang pasti sangat monumental? Adakah persitiwa-peristiwa penting menjelang dan sesudah wafatnya? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini pasti muncul di benak setiap Muslim yang kritis dan ‘melek sejarah’.

Sejarah mencatat, dalam perjalanan pulang dari haji terakhir, dikenal dengan Haji Wada’ (Haji perpisahan), Nabi memberikan sinyal-sinyal perpisahan melalui khotbah dan serangkai pernyataan yang amat memilukan. Para sejarawan tidak hanya menyebut nama tempat upacara perpisahan yang terletak antara Mekah dan Madinah itu, namun merincikan jumlah peserta yang hadir saat itu.

Sesampai di Madinah pun, Nabi yang mulai terlihat kurang sehat, masih harus memikirkan umat dan negara yang dibangunnya. Sepak terjang dan provokasi negeri jiran di sebelah selatan yang dipimpin oleh Heraclitus membuatnya harus mengabaikan rasa sakit dan penat. Lelaki yang bernama Ahamd di langit ini memberikan sebuah instruksi kepada setiap semua lelaki yang sehat jasmani agar bersiaga perang di bawah komando Usamah bin Zaid. Keseriusan ini menunjukkan betapa Nabi, yang lemah karena sakit, masih menomerduakan dirinya demi kepentingan umat dan demi tanggungjawabnya.Ia harus keluar dari rumah sembari mengenakan selimut dan berseru agar setiap orang keluar dari Madinah karena kerajaan Romawi telah mengerahkan brigade pasukan kavelri untuk melakukan pembersihan terhadap warga yang memeluk Islam dalam wilayah kekuasaannya, termasuk gubernur Syam, Farwah bin Amr al-Jazami.

Sejarah menyaksiakan, teriakan parau Nabi teragung itu bak gayung tak bersambut. Pasukan yang sudah bergerak meninggalkan Madinah itu, tiba-tiba bubar. Isu tentang ‘kematian Nabi’ telah menjadi alasan aksi ‘mogok’ itu. Sampai-sampai, sang Komandan, Usamah bin Zaid, yang masih muda, juga ikut pulang ke Madinah.

Sejarah juga mencatat bahwa saat terbujur di atas ranjang, beliau meminta secarik kertas dan setangkai pena sebagai konfirmasi akhir atas pesan-pesan yang berulang telah disampaikannya terutama di Hajatul-wada’. Namun, apa hendak dikata, bising dan desak-desakan pengunjung yang membesuk di rumah kecil itu membuat suaranya seakan tertelan dan lenyap.

Pesannya, “Umatku, umatku umatku…! Janganlah berbalik arah! Jangan letakkan pedang di atas leher sesamu! ‘ semestinya didengungkan terus menerus agar umat Islam tidak menari dengan genderang musuh dan tidak merusak citra Islam dengan ekstrimitas, intoleransi dan fanatisme. Karena itulah, meperingati wafat Nabi, meski belum mentardisi, bukanlah sesuatu yang tidak perlu diselenggarakan.

Mungkin sudah saatnya umat Islam memasukkan agenda kesedihan dan duka dalam kalender hari besar, selain agenda riang dan kegembiraan seperti Maulid dan lainnya. Bukankah kita dianjurkan oleh Allah untuk lebih banyak menangis dan sedikit tertawa? Yang jelas Muhammad saw sedang menangis sedih melihat sesama umat Islam saling mengkafirkan dan menyesatkan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 comments

  1. baru sekali ini, mendengar peringatan wafatnya Rasulullah, semestinya diagendakan, daripada memperingati wafatnya orang yg kita “tidak tahu”, dan tentu lebih baik karena Baginda Rasulullah memiliki legitimasi dan otoritas memberikan syafaat yg menjadi harapan umat.

  2. setuju Ustad memang harusnya libur dan seluruh negara yang mayoritasnya Islam Menaikan bendara setengah tiang selama sebulan penuh karena inilah momentum sebenarnya kita kehilangan sosok yang sangat Agung dan Mulia dengan mengingat kembali amanat-amanat terakhir Beliu SAWW terhadap umatnya ini ALLAHHUMMA SHOLI ALA SAYYIDINNA MUHAMMAD WA ALI SAYIDDINA MUHAMMAD

  3. husshhhhh jangan…… jangaaannnn….
    ini bid’ah loh,… sessaaat……sessaaaattt…!!!
    ku cincang nanti kau, kuambil scalp mu,…..!! sessaaatt……
    hi…hix…..hix…..hix…..

  4. kalau ulang tahun diri sendiri oke-okeh ajah, ulang tahun Rasul bid;ah loh
    kalau haul para kyai dan habib okeh-okeh ajah, haul Rasul bid’ah loh
    kalau perlu ratakan borobudur…!! ratakan prambanan…!!
    kita tak perlu kaca benggala sejarah, karena wahha eit “kita” bangsa bar-bar…!!! eh…eh…eh….

  5. Salam. Ustad,
    Apa memang ada rekayasa sistematis untuk menjadikan hari wafat Nabi SAWW sama dengan hari lahirnya, jadi muatan batiniahnya kabur..mau gembira atau sedih?!

  6. Dear ..

    Peringatan atas wafatnya “penghulu keberadaan” jelas bisa membuat apa2 yang telah terjadi pada hari2 sebelum dan sesudah beliau Saaw menghembuskan nafas terakhirnya ‘Terkuak secara lebih terang.

    Apa2 yang berlaku atas dirinya, keluarganya dan beberapa sahabat teruji (at the late our and post of His life) akan mengangkat satu tema yang seragam, adanya PENGHIANATAN atas mereka.
    Apakah itu penghianatan atas dasar2 yang telah digariskan secara detail oleh beliau (The most well organized person’ hingga akhir hayatnya), atau bahkan telah berlaku sebuah kerusakan atas pondasi2 Islam secara utuh yang juga telah dibangun oleh Baginda (dalam lingkungan terdekat orang2 pilihannya). Mengapa hanya mungkin orang2 terdekatnya yang berkhianat ?

    Jelas tak mungkin musuh2 kebenaran sejak awal Adam as akan berlibur barang sejenak untuk memberi kesempatan meluasnya nilai2 Ilahiah. Jelas sebuah anomali bila hakikat keburukan tidak merusak kesana dan kemari. Ia yang dalam sejarah kemanusiaan merusak tembok kokoh nurani dan kebijaksanaan.

    Namun ,… juga sangat mudah dipahami bila nilai ‘Kebenaran tidak lekang oleh waktu, self organized, self defense, self protect. Kebenaran, meskipun ia kecil dan terbatas, hakikatnya sangat “Liat” dan “Eternal”. Hal yang sangat sulit atas apa dan siapa pun untuk bisa dengan mudah (memadamkan) menaklukkannya.

    Bila ternyata sekuat itulah kebenaran bersama aspek2nya dapat terus hidup, maka hanya satu kemungkinan yang tersisa sebagai lawan, …
    “Kepura-puraan dalam Kebenaran” (Munafikin menurut bahasa Al-Qur’an). Dimana sudah begitu jelas bagaimana identifikasi atas mereka sepanjang sejarah ‘Kebenaran.
    Qur’an “menghadiahkan” kelompok ini lebih dari 9 ayat (di awal2 surah nya).

    Sekali lagi hanya satu yang mungkin bisa masuk (low observable penetrate) lebih jauh ke dalam tubuh Islam, yaitu … “orang2 terdekat” yang “berpura-pura” bersama Beliau Saaw.

    Selanjutnya ………. bacalah berbagai versi sejarah, kumpulkanlah sebanyak mungkin, dengan format berbagai bahasa, merupakan produk yang melewati batas2 kelompok sosial keagamaan, berkaitan dengan Syahadah Saaw.

    Telah berpulang seorang Nabi dari kalangan kalian sendiri, Ia (yang) begitu berat atas (penderitaan) kalian.
    Shalawatuka alihi yaa Abul Qassim … yaa Rasulillah

  7. Salam ,
    Jika Haul Nabi Muhammad di peringati , maka para Ustad dan mubaligh akan menceritakan kepada Umat kronologis yang terjadi dari Haji wada hingga Saqifah.

    Dimana Sahabat -sahabat yang di agungkan dan di dewakan malah memilih pergi ke Balairung Saqifah di banding mensholati Jenazah Rosul SAWW ?

    Dan beberapa jam setelah Saqifah usai , Rumah duka di Grebek …kelompok Preman.

    Antum bayangkan ….Emha Ainun Najib pernah memblow up kejadian ini di Jawa Pos 2002 , pada Head linenya , tapi Para Ulama seakan diam mingkem tanpa komentar , jika hal tersebut fitnah maka sudah barang tentu Cak Nun akan masuk bui saat ini seperti kasus Aswendo A. Tapi ulasan Cak Nun bahwa Kematian meriah ( wafatnya Ibu Tien S.) saat itu yang ditauziahkan ribuan orang sampai Suaminyapun juga demikian ? tapi
    Jenazah Suci Rosululloh SAWW hanya di hadiri oleh beberapa orang keluarganya.
    Di Bukhori sendiri jelas …Abu bakar saat mau ke rumah duka di ajak Umar pergi ke Saqifah.

    Mengapa Rumah duka di kepung akan di bakar ?

    Ahlak murid-murid Rosululloh SAWW telah hilang saat itu ?
    Jika antum punya kerabat dekat yang sedang sakaratul maut , antum bela-belain minta ijin bosss dikantor untuk pesan tiket agar dapat hadir di samping kerabat tsb dan menghadiri proses penguburannya ? lah ini ….Manusia pembawa Rahmatan Lil’alamin wafat , jazadnya belum dingin rumah duka di kepung massa ?

    Jika hal – hal ini terungkap dan di ungkapkan dalam acara Haul Rosululloh SAWW ….bisakah antum banyangkan …..Jutaan Umat Islam yang tadinya tertidur akan terbangun dari mimpinya ?

    Dan itu yang sangat di takutkan oleh sementara Oknum adanya ?

    1. woy emang nte dah kenal sm sahabat2 nabi saw, seenak mulutnye aje ngucap sahabt2 nabi saw dah ga pnya akhlaq…
      nte ga di jamin masuk syurge, tapi sahabat2 nabi saw, nabi sendiri yg ngejamin…
      ati2 klo bicare…

      1. Akhina …antum membela Nabi dan Keluarganya atau membela Antek-antek yang mengaku islam ……mengepung Rumah duka ?! dan membakarnya ? , Hadist 10 sahabat di jamin masuk surga hanya 1 orang perawinya dan tidak masuk dalam Kitabusittah …..jadi tergolong Dhoif ….kenapa antum tidak belajar mengkaji bahwa di bukhori sendiri Hadist bab Telaga , bab Saqifah di marginalkan kepada Umat ?

        1. Ana sangat setuju jika seseorang itu “lebih kritis” dalam memilih dan memetakan antara kebenaran dan ke-tidak benaran,Saudara Dimas RA mungkin termasuk orang yang memilih “kritis” terhadap pelbagai “dogma-dogma” yang boleh jadi orang2 yang menukilnya sendiri belum pernah mengkaji secara mendalam(dari berbagai referensi pandangan yang setuju dan tidak setuju),saudara Abdillah Iman sepertinya bukanlah orang “yang tidak baik” tetapi sebaliknya adalah orang yang “sangat tulus” tetapi masih membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyempurnakan pemahaman dan penelitiannya,sebab seorang yang baik dan bijak senantiasa lebih mengedepankan semangat persaudaraan dan argumentasi rasional ketimbang memvonis kesalahan dan kebatilan pemahaman orang lain secara sepihak apalagi tanpa argumentasi yang kuat(dan rasionalitas adalah milik setiap manusia,bukan hanya milik para filosof yang kadang2 di kafirkan sebahagian orang)

  8. Apapun yang terjadi di muka bumi akan selalu ada pro-kontra.

    orang yang mau berbuat baikpun kadang dianggap perusak, anti kemapanan, intoleran terhadap tradisi padahal tradisinya memang tidak benar/baik, ketika kita mau mengubah kesalahan masyarakat dipandang menentang arus.

    ketika terjadi sesuatu yang berbeda di masyarakat maka harus disikapi secara arif, jika ia masalah ‘agama’/’ibadah’ harus dikembalikan kepada sumbernya (al Qur’an dan sunnah), jika ia masalah yang mubah maka tak ada seorangpun yang perlu khawatir. Jika kita meyakini (misalnya) boleh menambah, menciptakan serba sedikit saja dari agama, jka generasi yang akan datang setuju dengan thesis ini maka bisa dibayangkan alangkah banyaknya ritual2, ibadah2 yang harus dilaksanakan oleh generasi 100 tahun sesudah kita.

    Oleh karenanya memang diperlukan GERAKAN KEMBALI KEPADA SUMBER ASLINYA – QUR’AN DAN SUNNAH SAHIHAH.

    iBARAT mata air yang telah mengalir melewati 1000 km, perlu untuk dijernihkan kembali agar layak digunakan.

  9. saya mungkin sedikit berbeda dengan sobat-sobat yang lain, kalo yg bersumber langsung pada qur’an. udah deh jangan diungkit-ungkit lagi jalanin aja.
    Tapi soal maulit, tahlil, baca yasin malam jumat. kita ambil jalan tengah saja, apa hikmah dibalik kegiatan itu dan pelajaran apa yg dapat diperoleh dari acara itu.
    Nggak usah saling cela diantara kita, anda mau ikut yang mana?. Coba kita ngaca lihat muka kita masing-masing. Ketika saya ngaca ternyata dari cermin tahun 1980 an ketika saya mulai yau tentang hal terseut diatas, sudah banyak yang koar-koar, dan ternyata sampai saat ini masih itu-2 juga yang diomongin. kapan kita maju dan dewasa ?

  10. aduh aduh…

    Debat kusir aja. Makhluk Mulia bumi dan langit terus diolok2. Gak malu apa jd umat islam, tp hobinya mengolok2 Suri Tauladan umatnya sendiri. Yg jelas, seharusnya kita bergembira ketika Baginda lahir, dan sedih ketika Baginda wafat. Jgn bawa2 dalil gak jelas juntrungannya. Sudahlah, ini situs dibuat oleh org yg dipanggil ustad (semoga jd ustadz beneran, bkn karna gengsi doank), cuma buat nimbulin permusuhan melalui debat2 gak jelas. Dipancing wat mengolok2 satu sama lainnya. Bahkan mengolok2 Baginda Nabi dan org2 yg dimuliakan Baginda Nabi..

    Jgn sampe akal menguasai hati. Tapi harus hati yg menguasai akal. Semoga Allah menyelamatkan kita dr tipu daya org2 yg tertipu setan. dan semoga kita termasuk golongan org2 yg mendapat syafaat Baginda Nabi. Amin ya Robbal A’lamiin..

News Feed