HUMANITAS MELAMPAUI RELIJIUSITAS

HUMANITAS MELAMPAUI RELIJIUSITAS
Saya punya teman yang lama menetap untuk studi dan kerja di Jerman. Setelah selesai kuliah dan sukses sebagai profesional, dia sering mendapat tugas dari perusahaannya pergi ke aneka negeri, termasuk Tanah Airnya, Indonesia.
Pada suatu hari dia mengajak kopdar. Kami pun berjumpa. Ternyata dia adalah pemuda bersahaja dan humanis. Dia mengajak saya berbincang tentang agama dan kehidupan sambil mengendarai mobilnya.
Dia meminta saya menemaninya melihat kehidupan nyata yang bisa menebalkan humanitas, toleransi dan empatinya. Saya menawarkannya melakukan wisata kemanusiaan. Melalui info seorang teman dekat, kami dapat info sebuah tempat yang layak dikunjungi.
Setelah meninggalkan batas Jakarta dan memasuki Tangerang, kami bertiga menuju sebuah panti asuhan bernama “Sayap Ibu” (Semoga tidak keliru). Dari namanya, saya yakin pengelolanya berbeda keyakinan dengan kami bertiga. Tapi yang mendorong kami memilihmya adalah kata “Ganda” di samping kata Panti Asuhan.
[ads1]

 
Sampailah kami di halaman sebuah rumah besar. Di depanya ada sebuah papan bertuliskan Panti Asuhan Ganda SAYAP IBU. Terlihat beberapa mobil keluarga dan sebuah mobil mewah di situ.
Begitu mengayunkan langkah memasuki pintu, yang terlihat adalah galeri nestapa. Kami seolah berlomba menangis tak kuasa menahan kesedihan melihat balita-balita yang terlihat meronta2. Kami kehabisan kata untuk melukiskan pemandangan di dalam kamar-kamar itu. Tapi yang membuat kami terhenyak adalah anak kecil yang harus diikat karena terus bergerak.
Mestinya kondisi balita-balita yang tergeletak itu sudah cukup membuat kami lemas. Tapi justru ketelatenan para perawat yang menyuapi, membelai bahkan menceboki dan mengelap liur pasien-pasien tak berdaya itulah yang menyedot perhatian kami.
Di antara para perawat yang berseragam itu ada yang seorang wanita, lelaki setengah tua dan dua remaja yang terlihat aktif melayani para pasien cilik. Karena penasaran saya menghampiri seorang perawat dan bertanya setengah berbisik,
“Maaf. Apakah ibu, dan kedua anaknya itu juga punya anggota keluarganya yang diasuh di panti ini?”
“Tidak. Mereka sekeluarga setiap hari libur ikut membantu kami dengan sumbangan makanan yang dibawa dalam mobil dan secara sukarela merawat para pasien di panti ini,” jawabnya ramah.
“Mereka siapa? Dari mana? Apa motifnya?” tanya saya penasaran.
“Mereka adalah keluarga pengusaha chinese di Jakarta yang menjadikan aktivitas membantu kami di panti ini sebagai ibadah.” Jawaban ini kontan membuat saya benar-benar lemas karena tertampar oleh rasa malu.
Kami sempat berbincang dengan beberapa pasien dan mencoba ikut membantu perawat itu.
[ads1]

 
Sebelum meninggalkan tempat itu arti kata “ganda” perlu terkuak. Ganda berarti cacat mental dan fisik juga “dibuang” oleh keluarga balita malang karena malu atau karena tak sanggup merawatnya.
Sejak saat itu saya berpandangan bahwa fitrah kemanusiaan melampau doktrin formal lazim disebut agama yang justru kerap dijadikan alasan untuk diskriminasi, intoleransi dan kekerasan.
Manusia yang merawat fitrah kemanusiaannya, apapun keyakinan formalnya dan dari suku apapun, layak untuk dihormati.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed