Skip to main content

Idul Fitri : Hari Raya Nasional Timor Leste

By September 13, 2007No Comments

mari-alkatiri2.jpg

Timor Leste, nama negara baru yang hampir kita lupakan karena menyisakan derita dan malu. Tapi, ternyata bangsa Timor dan para pemimpinnya bukan pendendam. Mereka sangat respek dan menunjukkan penghormatan terhadap Indonesia, mulai dari Xanana Gusmau yang pernah menjadi tahanan di Jakarta, Horta yang dulu dikenal sangat anti Indonesia hingga Mari Alkatiri yang sempat diisukan pada masa Orba sebagai ateis.

Mari Alkatiri, Sekjen Partai Fretilin Timor Leste, datang ke Indonesia atas undangan PP Muhammadiyah untuk memberikan kuliah umum di Centre for Dialog and Corporation Among Civilization pada 11 September 2007.

Alkatiri bersama lima anggota partainya. menyempatkan diri untuk mampir ke kantor DPP PKS dan diterima oleh Presiden PKS Tifatul Sembiring. Kelima orang yang mendampingi Alkatiri yakni, wakil Sekjen Fretilin Jose Reis, Member Committee Central Fretilin Filomeno Aleixo dan Aicha (Aisyah) Bassarewan.Selain itu, ada pula Presiden Timor Leste Muslim Community Arif Abdullah dan adik Alkatiri yang juga seorang pengusaha, Ahmad Alkatiri.

“Partai kami ingin menjalin hubungan erat dengan berbagai pihak di Indonesia. Kami membuka diri untuk uluran tangan sahabat-sahabat kami. Saya ingin menyampaikan pesan ke masyarakat Timor Leste bahwa kami akan bisa mengatasi krisis dan kembali hidup normal,” kata Alkatiri dengan bahasa Portugal yang telah diterjemahkan.

Menurut dia, siapa pun pemimpin Timor Leste harus menjalin hubungan baik dengan Indonesia. Dia menampik tudingan beberapa pihak di Timor Leste yang menilai kedatangannya ke Indonesia untuk menjelek-jelekkan pemerintah Timor Leste.

Banyak yang menilai begitu. Saya ke sini bukan untuk menjelek-jelekkan pemerintah, tetapi untuk kepentingan bersama,” kata Alkatiri yang terbalut batik warna merah.

“Saya adalah muslim pertama yang pernah menjadi perdana menteri. Artinya, rakyat kami menerima siapa pun sebagai pemimpin mereka,” kata Alkatiri.

Mantan Perdana Menteri Timor Leste itu juga menjelaskan bahwa partainya menjalin hubungan baik dengan berbagai pihak di Indonesia dan berupaya untuk meningkatkan komunikasi antar masyarakat kedua negara.

Pada kesempatan itu dia juga mengatakan harapannya agar terjalin kerjasama yang baik antar muslim di kedua negara.

Disebutkan bahwa saat ini dari 1 juta penduduk Timor Leste sedikitnya ada 3.000 orang yang beragama Islam. Muslim di Timor Leste menurut dia hidup dengan baik dan harmonis serta tidak pernah mengalami diskriminasi apapun bahkan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha ditetapkan menjadi hari raya nasional.

 

Profil Alkatiri

Mari Bin Amude Alkatiri (lahir 26 November 1949) adalah mantan Perdana Menteri pertama Timor Leste yang mengundurkan diri pada 26 Jun 2006 sebagai akibat krisis politik di negara tersebut.

Pria keturunan Arab Yaman ini dilahirkan dalam keluarga Muslim di Dili, Timor Leste dan mempunyai 10 orang adik. Dia meninggalkan Timor Leste pada tahun 1970 untuk melanjutkan studi di Angola.

Sebelum memasuki arena politik, Alkatiri adalah seorang pemantau di Angola dan tinggal dalam pengasingan di sana dan Mozambique selama masa konfrontasi dengan Indonesia. Dia juga mempelajari bidang undang-undang di Universitas Eduardo Mondlane, Maputo, Mozambique. Alkatiri pernah menjadi Penasihat Undang-undang di sebuah perusahaan swasta di Maputo (1992 – 1998).

Setelah mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri akibat konflik politik dengan Gusmao dan Horta, dia tetap menjadi Sekjen Partai Fretilin yang memiliki pengaruh sangat besar dalam Parlemen Timor Leste.