Indonesia atau Indobule? (Resensi buku ‘Pesona Barat’)

BENARKAH definisi cantik adalah wanita berkulit putih, badan tinggi semampai, dan berwajah indo? Setidaknya, itu bisa benar. Coba lihat pemain-pemain sinetron dan bintang-bintang iklan di layar kaca televisi, itulah gambarannya.

Kondisi ini didukung oleh kosmetika buatan Indonesia hingga yang berlisensi asing menawarkan krim atau bentuk lainnya yang menjanjikan kulit putih jika dioleskan pada kulit. “Hanya dalam enam minggu kulit Anda akan putih merona,” begitu salah satu jargon produk pemutih. Ada pula gambaran seorang gadis yang berteriak kegirangan, “Untung sudah tidak black and white lagi!” saat ia telah memakai pemutih dan akan bertemu dengan lelaki berwajah indo yang menjadi cocok idolanya.

Jika di era 1980-an sebagian besar wanita tersihir dengan kosmetika lokal (baca: tradisional) yang menjanjikan kulit kuning langsat bak putri keraton, saat ini keadaan sudah berubah. Kosmetika lokal pun berevolusi dengan memproduksi “whitening” yang dianggap mengikuti perkembangan zaman. Ya, bagaimana lagi, secara garis besar, makna putih adalah simbol dari kebersihan, kecantikan, kesucian, dan derajat tinggi. Sebaliknya, warna hitam identik dengan kotor, jelek, dosa, malam, gelap, dan sedih.

Telaah yang lebih mendalam mengenai “putih” ini ditulis oleh Vissia Ita Yulianto dalam buku “Pesona Barat” terbitan Jalasutra, Yogyakarta. Dalam buku ini, pengarang menuliskan bahwa warna kulit bangsa barat yang putih, tanpa disadari telah dijadikan sebagai simbol yang diiyakan sebagai salah satu syarat kecantikan perempuan Indonesia yang memiliki ras coklat. Padahal, bisa dibayangkan berapa karung pemutih yang harus digunakan jika kita sendiri (baca: bangsa Indonesia) ditakdirkan dari ras kulit hitam.

Lalu, apakah kita bisa berubah menjadi putih? Gejala ini sudah lama diidap bangsa Indonesia sejak zaman kolonialisme Belanda, politik diskriminasi dan pemaksaan budaya mengakibatkan berakarnya mentalitas inlander atau konsep rendah diri dalam masyarakat pribumi.

Hingga kini orang masih tergila-gila dengan kulit putih. Banyak wanita yang mengejar-ngejar bule agar memiliki keturunan yang putih dan berwajah indo. Dua penampakan ini akan menjadi modal untuk terjun di dunia entertainment. Selain itu, ada image yang berkembang di masyarakat bahwa jika orang berhasil mendapatkan pasangan bule berarti akan memperbaiki keturunan.

Lebih lanjut, tengoklah layar kaca televisi yang dipadati wajah-wajah indo. Gejala ini menunjukkan betapa dahsyatnya ketidak-percayaan diri kita pada ras bangsa sendiri. Walaupun begitu, bangsa kita tidak sendiri mengalami angan-angan “putih” itu. Jepang pun yang berkulit putih tetap memiliki keinginan berkulit putih seperti bangsa barat. Mereka bahkan telah memproduksi berbagai pemutih sejak tahun 1960-an. Produk ini masuk Indonesia di era 1990-an.

Demikian pula yang terjadi di Singapura, India, Bangladesh, Srilanka dan Filipina. Para generasi muda di daerah itu memandang bahwa idealisme warna kulit juga beralih dari warna kayu manggik — warna kuning langsat di Indonesia — menjadi putih seperti orang barat. Ironisnya, bangsa Barat yang menjadi sihir keterpesonaan dengan kulit putihnya, kini justru beramai-ramai “mencoklatkan” warna kulitnya.

Buku “Pesona Barat” ini memang menarik karena mengajak kita merenungkan akan mental bangsa terjajah yang masih menghinggapi kita hingga kini. Jelas penjajahan yang berevolusi, bukan invasi penjajah di zaman nenek moyang. Dengan membaca buku ini, orang pelan-pelan diajak mendekonstruksikan kondisi “harus putih” agar terlihat cantik. Harus diakui, kesadaran untuk lepas dari keterjajahan itu tidak bisa seketika terjadi. Dalam buku ini dibahas, betapa sang proklamator RI, Bung Karno, tergila-gila dengan gadis-gadis Belanda.

Walaupun begitu, banyak renungan tentang keterpesonaan putih. Menurut pelopor dekonstruksi ras, Franzt Fanon, putih bukan hanya dari fisik belaka, ia menyebut putih sebagai norma-norma yang tidak terlihat, bukan sebagai hal mengenai warna kulit. Kalau yang ini, pasti banyak orang mengangguk setuju.

(asti musman)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 comments

  1. ya mungkin benar tapi tidak semua perempuan indonesia menginginkan warna kulitnya berubah menjadi putih atau menikah dgn bule agar bisa memperbaiki keturunan…itu semua adalah simbol kebodohan aja..neraka dan surga ga mengenal kulit putih atau coklat…hanya iman dan taqwa.
    daripada ngurusin masalah kulit mending urusin masalah ahlak…cantik itu bukan kulitnya tapi ahlaknya.thanks

  2. Kulit warna putih adalah kulit yang paling rentan. Dia paling cepat terkena hemogloma, kanker kulit, dan gejala-gejala lainnya karena terserang sinar matahari.
    Pemutih yang banyak beredar di masyarakat juga mengandung merkuri dalam kadar yang lumayan tinggi. Merkuri adalah logam berat yang sangat berbahaya bagi manusia karena mempunyai potensi merusak susunan atom-atom genetika manusia di dalam sel-sel tubuhnya sehingga berakibat pada banyak sekali penyakit aneh, mulai dari lemahnya daya tahan tubuh, autisme, hingga segala jenis kanker.
    Jadi,
    mau berkulit putih tapi cepat mati mengenaskan?

  3. Putih? apa emang lebih baik ya?
    Menurut saya, dlm realitanya laki-laki (masih) tidak terlalu melihat warna kulit dalam mencari pasangan. Jadi, bisa dikatakan bahwa fenomena kulit putih yang serba hebat baru sampai pada media, sedangkan di masyarakat luas belum sampai…

News Feed