“Industri Zikir”

Dulu, kita, saat masih kecil, senang bila melihat angkasa kampung kita dilintasi oleh helikopter. Capung besi itu jadi kejaran kita yang berteriak memohon duit karena kita saat itu yakin hanya Pak Harto yang “berhak” naik helikopter.

Saat ini di Jakarta yang macet dan padat, kita juga sering melihat helikopter yang mengangkut pengusaha mondar mandir antar gedung.

Pejabat meninjau daerah terpencil dengan heli itu biasa banget. Pengusaha memantau lahan ribuan hektar sawit atau HPH dari jendela helikopter itu “bawaan”. Yang mungkin luar biasa adalah “uztaz helikopter.”

Saya mendapatkan kesan itu saat iseng menekan tombol nomer remote control telivisi. Semula saya mengira adegan yang muncul itu hanya sebuah iklan yang numpang lewat. Ternyata, itu acara utama pada jam tayang yang mahal.

Acara itu tampak digarap secara profesional CEO sehingga terlihat “kolosal” dan mampu memfokuskan sorot mata para pemirsa ke satu objek. Dialah yang menjadi ikon (brand) modus baru bisnis ini. “Industri zikir” saya menyebutnya.

Siapapun yang sedang bingung karena kesulitan ekonomi atau ingin lepas dari belenggu masalah (syukur-syukur kalau tidak kritis) akan tercengang dan tertawan oleh rasa kagum. Betapa tidak? Sang tokoh benar-benar ditampilkan sebagai juru selamat yang punya banyak kelebihan, mulai dari kemegahannya saat turun dari helikopter dalam kawalan superketat ala agen Secret Service atau FBI hingga histeria ummat yang menyambut demi mendambakan sentuhan aura dan keajaiban-keajaibannya.

Di penghujung acara, para ibu yang tersugesti oleh gegap gempita penyelenggaraan event ini diwawancarai dan dimintai kesannya tentang si ustadz. Bisa dipastikan, pemirsa akan disuguhi close up paras-paras berjilbab dengan mata berlinang para “pasien” yang terharu karena sembuh dalam sekejap mata bak Yesus dari Nazaret.

Lucunya, acara bernuansa agama itu malah dipandu oleh presenter yang (saat itu) tidak berjilbab. Meski begitu “over cover”, ia dengan gaya atraktif dan binal (mata jelatatan) dan bibir yang lincah lincah, fasih mengucap kata Allah dan sejumlah simbol verbal agama. “Semuanya dari Allah,” selorohnya seraya mengiklan kehebatan-kehebatan sang Hancock versi lokal sebagai jalur mediasi Allah dengan hamba-hambaNya yang meminta pertolongan.

Untuk calon pasien yang ingin memperoleh sentuhan Allah melalui sang uztaz, juga (terutama) pejabat daerah (yang ingin terlihat relijius) dan ingin mendatangkannya, bisa mencatat teks berjalan (iklan) di layar kaca yang menjelaskan jadwal sang uztaz juga alamat dan no contact.

Tanpa perlu mempermasalahkan apalagi mencibir orang yang dengan ikhlas ingin berbuat baik dan tanpa memandang sinis kegiatan sosial keagamaan, paling tidak, kita bisa membedakan acara telivisi dari iklan terselubung yang dikesankan acara, atau mana berita mana teks info komersial yang dikesankan berita.

Karena itu, KPI perlu diberi masukan tentang gejala pembiusan konsumen melalui iklan-iklan terselubung.

Sungguh mengharukan…

Semoga Allah menyembuhkan kita semua, pasien dan ustaznya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 comments

  1. ust seperti itu diuntungkan oleh wujud fatamorganis bernama kebetulan, artinya:
    kebutulan dia ust.
    kebetulan dia pecinta dunia.
    kebetulan dia cinta kedudukan.
    kebetulan dia menyembuhkan penyakit sang pasien.l
    kebetulan ada yang memfalitasi kebohongan di balik zikir dan pengobatannya.
    kebetulan dia hidup dalam masyrakat yang kebetulan akal mereka lagi liburan.
    kebetulan negri ini menganut sistem demokrasi yang kebetulan tanpa konsep. jadi semuanya bebas bebas aja.
    sim salabim, jadi! maka terjadilah wujud fatamorgana yang sebenarnya tidak wujud.

  2. setuju ustad, dan tambahan lagi ustad bahwa ramadhan di negara kita ini menjadi malam dan hari banyolan para ustad di televisi seakan akan para ustad tidak mau kalah dengan para pelawak untuk membuat para pemirsa terpingkal pingkal

  3. emang kenapa? bebas-bebas aja kok? apakah kita merasa dirugikan? kalau emang itu salah, ya….benerin…! mungkin sang ustadz yang naik heli itu tak bermaksud apa-apa…..

  4. yassala……mm….
    ustad labib kayaknya mulai nyaingin eric sasono, sang kritikus film yang punya “wilayah” sendiri..

    luar biasa jeli dan perhatian pada apa yang banyak orang tdk perhatikan..

    coba ustadz hitung kata “Allah” dan kata “Uang” dalam KUN FAYAKUN, kata eric sasono sih keduanya beradu banyak…

  5. dinegeri ini “ustad/kyai” lahir bukan dari istitusi pendidikan dan tdk mesti punya karya akademis, cukup asal bisa mengakses TV/infotaiment maka dalam hitungan minggu bisa disulap menjadi USTAD.

    Sunatullahnya Ustad karbitan infotaiment ini akan luruh bersamaan dengan bergantinya trend infotaiment/tv.
    so usia ustad seperti ini cenderung nggak panjang, …
    ayo kita tebak2an…hihih

  6. ass.wr.wb
    ini yang asli nya sayyid labib,ana tunggu2 tulisan tulisan yang nakal dan menyentil.tapi sayyid kalau indrustri zikir udah banyak.
    ustad yang beralih profesi sebagai dokter juga banyak dengan thema pengobatan alternatif,
    ustad yang jadi pengamen juga banyak alias ustad mami mami bergincu dan berduit.ustad yang menjadi broker orang kaya juga udah banyak.yang jarang ustad ngajar ngaji aja,maklum duit nya sedikit.

  7. Apabila segala hal itu tidak diserahkan pada ‘AHLI’nya ….ya begini lah …negeri sim salabim…yang penting menyentuh ‘permukaannya’ setelah itu gimana nanti….itulah DUNIA hanya untuk permainan dan sementara…kasian Imam Zaman atfs….adrikna ya Mahdi

  8. Kadang kita sebaiknya melihat fenomena sosial sebagaimana adanya, jangan buru-buru memberi penilaian negative sebelum tahu betul maksud dan tujuanya. Memang kadang kita terbawa oleh “label” dari masing-masing orang yang mana sebenarnya “label itu” ada dalam benak kita; misalnya kalau ia disebut ustad mesti melakukan aktivitas ke ustadan yang sesuai dengan persepsi kita, begitu juga kalau dia pengusaha mesti bertindak dan berpenampilan sebagai pengusaha. Kita akan mulai terganggu apabila prilakunya tidak pas dengan yang kita “label”kan padanya. Karena itu kadang kita curiga atau malah kagum setengah mati kalau ada artis yang tiba-tiba bisa berprilaku sebagai ustad menurut persepsi kita, atau sebaliknya. Wal hasil sering kita menghendaki dunia ini berlangsung seperti yang kita mau, kalau berbeda bisamenimbulkan stress dalam diri. Menurut saya tak perlulah kita resah ketika orang berperilaku tidak sesuai dengan harapan kita, santai sajalah. Yang perlu di cemasi apabila sudah menyangkut pelanggaran hukum atau menabrak batas batas moral kesusilaan, karena hukum itu menegakkan keadilan dan batas moral kesusilaan itu merupakan rahasia individual yang tidak boleh di ekspose. Jadi santai sajalah sejauh keduanya tetap dijalurnya.

    ML: Memang mesti santai. Yang dikritisi dalam artikel tersebut bukan sosok atau ustadznya, tapi modus telivisi. Mohon diperhatikan dengan positive thinking. Terimakasih dan mohon maaf.

  9. salute usatadz!tulisan antum sgt2 berguna bagi ana,klo memang si usatadz yg naik helikopter itu bsa betul2 ngobatin org dg keikhlasan kenape bukan dia yg dtg sendiri ke tmpt2 org miskin yg ga punya biaya yg lgi sakit n bth pertolongan,,,,wal hasil menurut ane semuanya ntu serba kebetulan aje seperti meniru niru iklan gospel.pendeta nasrani yg bisa membuat org buta bisa melihat org lumpuh bsa berjalan? untk saudara ane attar,ustadzuna Labib kan emg penulis jadi wajar2 saja klo beliau menulis sesuatu yg berupa kritikan.kritik terhdap sesuatu yg menurut beliau sdh terlalu berlebihan periklanan nya terlalu beriklan lah bhasa awamnya. Waullah A’lam.

News Feed