Infiltrasi Rezim Zionis Israel di Irak

Media massa di Timur Tengah merilis laporan penyusupan dan infiltrasi Rezim Zionis Israel di Irak. Dilaporkan juga, dinas intelijen rezim rasialis ini, Mossad, bertanggung jawab atas pelbagai aksi teror di negara seribu satu  malam ini. Harian Suriah, Ats-Tsaurah, menulis, “Mossad punya andil dalam pembantaian penduduk sipil di Irak”. Salah tujuan infiltrasi Mossad di Irak adalah mengawasi kelompok-kelompok perjuangan Arab-Islam seperti Hamas, Jihad Islam dan Hizbullah. Dengan menjadikan Irak sebagai unit intelijennya, rezim rasialis ini berharap dapat meredam pergerakan kelompok-kelompok ini langsung dari Irak.

Infiltrasi Mossad ke Irak secara besar-besaran dimulai setelah lengsernya diktator Saddam Hossein dan didudukinya Irak. Kedua hal ini menimbulkan kekacauan dan instabilitas keamanan di negara ini. Pejabat-pejabat Rezim Zionis Israel dengan bantuan dan dukungan Washington segera membaca kondisi yang sangat kondusif ini untuk melakukan penyusupan ke dalam negara ini. Kehadiran Rezim Zionis Israel di Irak ditandai pertama kalinya lewat hadirnya tentara Amerika keturunan Yahudi. Setelah kehadiran mereka, jalan bagi pemilik modal dan perusahan-perusahaan rezim rasialis ini terbuka lebar. Kini, pelbagai perusahaan Rezim Zionis dengan nama lain membuka cabangnya di Irak, bahkan sebagian muncul dengan bendera perusahaan multi nasional.

Rezim Zionis Israel melihat pendudukan negara Irak dan hadirnya tentara Amerika di sana, memberikan kesempatan emas buat meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Sebagian tokoh Rezim Zionis ini sempat menyebutkan, bila dihitung dari penanaman modal di bidang pembangungan Irak saja, keuntungan yang diraup luar biasa besarnya. Dan keuntungan itu sangat membantu roda perekonomian rezim rasialis ini. Tidak hanya minyak Irak yang menarik perhatian orang-orang rezim ini, tapi juga air dan pasar negara ini telah mereka kuasai. Tapi jangan lupa, kehadiran Rezim Zionis Israel di Irak juga punya alasan ideologi. Slogan mereka tentang teritorial Israel Raya di mulai dari Sungai Furat di Irak hingga Sungai Nil di Mesir menjadi alasan terpenting kehadiran mereka di sana. Ditambah lagi bahaya yang mengancam mereka di sana lebih sedikit, ketimbang tentara Amerika.

Di tengah kericuhan dan aksi-aksi kekerasan yang dihadapi pemerintah Irak, mudah bagi Rezim Zionis Israel mewujudkan rencananya. Semakin negara Irak tenggelam dalam kekacauan, rezim ini akan semakin diuntungkan. Itulah mengapa selama empat tahun lalu hingga sekarang, Gedung Putih senantiasa berusaha menahan kondisi negara ini dalam kekacauan akibat konflik etnis dan mazhab. Agen-agen Mossad punya peran penting dalam memunculkan ketegangan antar kelompok-kelompok yang ada di Irak. Mereka punya kepentingan di balik perang etnis dan agama di Irak, bahkan pemerintah Irak juga menjadi target mereka.

Untungnya, di balik semua konspirasi Amerika dan Rezim Zionis Israel ini, para tokoh politik dan pusat kepemimpinan Syiah (marjaiyah) mampu menjadi peredam ketegangan yang ada selama ini. Di sini tidak boleh dilupakan peran Ayatullah Sistani, marji terbesar Syiah di Irak, dalam melumpuhkan konspirasi busuk ini. Karena yang dijadikan target sejatinya adalah eksistensi dan kedaulatan bangsa Irak. Tentunya, hal ini juga menuntut kesadaran lebih dari rakyat Irak dalam menghadapi tantangan berat yang mereka hadapi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed