INGIN ANAK BELAJAR AGAMA

Beberapa kali saya diminta oleh beberapa orang dalam sebuah acara keagamaan dan chat untuk memberikan rekomendasi untuk putranya yang ingin menempuh studi agama di Iran dan Irak. “Saya ingin anak saya belajar agama agar kelak menjadi orang yang berguna,” adalah pernyataan yang lazim dilontarkan orangtua.

Ada ragam permohonan bantuan rekomendasi. Sebagian besar mengajukan salah satu putranya sebagai calon pelajar agama Ada pula yang ingin semua putranya menjadi “manusia agama.” Ada yang ingin putrinya belajar agama di Hauzah.

Mungkin sebagian besar dari mereka kecewa atas respon pasif saya karena tak mengira saya tidak memberikan rekomendasi yang diminta atau bahkan kadang memberikan saran yang bertolak belakang dengan keinginannya.

Sebelum memberikan respon, biasanya saya mengajukan sejumlah pertanyaan tentang latarbelakang ekonomi dan pekerjaan profesional orangtua, tentang profil anaknya juga latarbelakang pendidikan dan -yang lebih penting, tentang motivasi dan alasan real di balik keinginan ini.

Dari perbincangan-perbincangan singkat dan santai itu, saya menyimpulkan ketidakjelasan tujuan dan minimnya informasi faktual tentang proses serta atmosfer pendidikan agama di pusat-pusat studi agama di Iran dan Irak, juga kaburnya wawasan tentang prioritas serta urgensi menentukan pilihan bidang pendidikan sesuai bakat dan minat.

Yang mungkin perlu diperhatikan adalah hal-hal sebagai berikut:
1. Agama bisa dimaknai secara universal meliputi apapun yang baik dan berguna bagi sesama. Kompetensi dalam bidang-bidang yang vital bagi kehidupan banyak orang terutama bagi seagama dan sebangsa seperti kedokteran, teknik, hukum, ekonomi, keamanan, teknologi dan sebagainya justu lebih diperlukan oleh banyak, sekaligus melengkapi bidang pendidikan agama.
2. Menjadi ahli agama alias berprofesi agamawan adalah sesuatu yang mulia. Namun orang berprofesi agamawan tak niscaya menjadi baik dan saleh sesuai ajaran agama yang dipelajari dan dipahami.
3. Peminat dan calon pelajar agama harus sadar bakat dan minat secara personal, bukan akibat tekanan orangtua dan pihak lain. Tak sedikit orang yang menghamburkan uang dan menyianyiakan umur dengan mempelajari bidang ilmu yang tak diminatinya dan tak sesuai bakatnya.
4. Menempuh pendidikan agama memerlukan tekad kuat dengan kesiapan psikologis dan fisiologis menerima risiko buruk, kemampuan adaptasi yang prima serta keterikatan seumur hidup dengan kode etik yang pasti membatasi ruang gerak.
5.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed