Injury Time

Beberapa waktu lalu, seorang teman yang telah lenyap menghubungi saya via chat room. Dia mengirimkan gambar seseorang. Ketika saya tanya siapa, ia menjawab, itu adalah foto orang yang telah meminjam uang 15 juta rupiah kepadanya dan tidak lagi bisa dihubungi.

“Apakah anda mengenalnya?” tanyanya kemudian. Saat saya katakan bahwa saya sama sekali tidak pernah mengenalnya, dia sangat terpukul dan berkeluh kesah karena telah menjadi korban penipuan 15 juta rupiah oleh seseorang yang mengaku kenal baik dengan saya.

Rupanya, karena sakau dengan positive thinking, apalagi menyebut beberapa nama orang yang dikenal dan diseganinya, ia ‘mewakafkan’ jumlah uang yang cukup besar itu kepada si Mr. X.

Teman saya bertekad untuk mencarinya dengan cara apa pun. Sial! Alamat dan KTP yang diberikan kepadanya ternyata palsu. Akhirnya saya menyimpulkan, pelaku adalah penipu spesialis komunitas pengajian yang umumnya dianggotai oleh orang-orang yang relijius dan naif (baca: polos) dengan modus mengenal tokoh yang disegani oleh mereka.

Karena tidak baik berdiam diri melihat derita teman, saya berusaha untuk menghiburnya dan menawarkan sebuah cara pandang. Kukatakan padanya, “Lupakan 15 juta! Jangan hamburkan energi, pikiran dan waktu untuk memburu sesuatu yang nilai psikologisnya dan neurologisnya melebihi jumlah uang itu, apalagi perburuan itu belum tentu berhasil.”

Memang, merasa tertipu sangatlah menyakitkan, meski jumlahnya kadang tidak seberapa. Tertipu dan peristiwa-peristiwa negatif dalam kehidupan kita bisa dijadikan sebagai alarm dan peringatan dini akan hal-hal lebih buruk yang ‘menghadang’ kita. Allah berfirman, “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan!” (QS 94 : 5-6), bukankah “setelah kesulitan ada kemudahan.” Dalam duka ada suka, dan begitu pula sebaliknya. Bisakah?

Belum lama ini Sydney Morning Herald, Selasa (8/4/2008) melaporkan penahanan seorang wanita yang mendudukkan anaknya di kursi roda padahal kondisinya sehat. Tindakan itu terus dilakukannya selama 5 tahun. Ia melakukannya karena ‘cinta’ sehingga takut ditinggal anak tersebut.

Haknya sebagai warga bumi dicerabut sejak kecil oleh manusia-manusia yang menjadikannya sebagai objek pemuasan emosi atas nama cinta dan sayang. Anak kecil yang selalu dijaga dan diawasi secara ketat dan dibatasi geraknya oleh baby sitter dengan alasan sayang akan kehilangan kemampuan naturalnya untuk survive dan syaraf motriknya menjadi kendor. Orang Jawa menyebutnya, gopo’. Ia menjadi ‘barang halus’ yang rentan terhadap segala anomali. Mudah terserang flu karena debu yang menyergap lubang hidungnya yang selalu clean. Matanya gampang iritasi karena terserang asap knalpot. Lukanya bisa ‘awet’ manakala terjatuh. Pendek kata, haknya untuk menjadi warga bumi dicerabut sejak kecil oleh manusia-manusia yang menjadikannya sebagai objek pemuasan emosi atas nama cinta dan sayang. Ia memang terlihat lebih lucu dan menghibur buat orang tua yang selalu membanggakannya, tapi sebenarnya kehilangan banyak peluang untuk terus bertahan dan mandiri. Ia seakan hanya dipersiapkan untuk mejalani kehidupan imajinal, duni utupis tanpa darah, tanpa luka, tanpa gesekan. Ia dipersiapkan untuk menjadi warga sorga, bukan dunia. Karena itu ia menjadi ‘asing’ di dalamnya.

Mengapa anak pengemis dan tuna wisma tidak memerlukan obat gosok manakala terserang angin malam dan rintik hujan membasahi tubuhnya? Mengapa kuli tampak lebih kuat daripada orang yang setiap hari mengkonsumsi makanan bergizi, kaya protein, higienis, and bla bla? Apakah mereka telah mengalami mutasi seperti digambarkan dalam X-Men ataukah karena mereka jatuh bangun dan diteguhkan oleh rangkaian gesekan?

Krisis ekonomi, rumah tangga, dan lainnya adalah elemen integral dalam paket Sunnatulllah. Ia adalah pertanda kesempurnaan dan kemajuan. ‘Cubit sayang Tuhan’ melejitkan talenta, dinamika, dan vitalitas.

Kata Ali bin Abi Thalib, ”Pohon yang tumbuh di padang tandus atau di hutan liar, lebih kuat dan awet dari pohon di taman yang selamanya dipelihara oleh tukang kebun.”

Bila kita tidak berusaha untuk menjadikan fragmen-fragmen ‘hitam’ itu sebagai simulasi memasuki babak yang lebih menentukan, maka kita bisa dianggap kebobolan gol pada injury time. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 216) (diterbitkan oleh majalah ADIL)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 comments

News Feed