INTOLERANSI POLITIK

Kompetisi politik telah mengganti budaya tepo seliro dan ketulusan dengan lomba benci. Tragis!

Siapapun yang terpilih bukanlah presiden bagi pendukungnya tapi bagi seluruh rakyat. Mengormatinya adalah cermin keberadaban.

Ekstremisme politik telah mengaburkan perbedaan kritik konstruktif dengan ujaran benci.

Pemilu hanya 1 kali dalam 5 tahun tapi kegaduhannya sepanjang masa dengan kebencian yang terus diproduksi dan disebarkan.

Ekstremisme dan intoleransi politik adalah belatung yang tumbuh dari dendam politik yang membangkai.

Sinisme dan fanatisme telah menjadi capaian real ragam kontestasi politik yang mengutamakan modal uang atas integritas.

Bangsa yang besar adalah yang tak menghina presiden yang dipilihnya.

Hanya karena yang dipilih mayoritas berbeda dengan pilihan anda tak berarti anda punya hak menghinanya.

Ekstremisme politik antara pemujaan dan penghinaan telah menciptakan ketegangan tanpa henti yang menguras banyak energi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed