Iran: Bila Mau Rekonsiliasi, AS Mesti Minta Maaf Dulu

Iran dengan tegas menentang kebijakan AS yang ditargetkan terhadap Teheran selama beberapa dasawarsa. Iran menuntut pemerintah baru AS agar mengakui kekeliruannya pada masa lalu sebelum mencapai rekonsiliasi.

Komentar keras yang disampaikan oleh pemimpin parlemen Ali Larijani pada sebuah konferensi keamanan internasional di Munich ini merupakan gambaran ekspektasi Teheran terhadap pemerintah Presiden Barack Obama. “Kebijakan yang menggunakan kekerasan dan imbalan harus dibuang,” kata Larijani.

Pernyataan Larijani itu ditujukan terhadap ancaman dan iming-iming dana dari Barat untuk membujuk Iran agar menghentikan program nuklir yang dikhawatirkan Barat sebagai ancaman keamanan. “Ini merupakan peluang emas bagi AS,” tegas pemimpin parlemen Iran itu.

“Pada masa silam, AS telah membakar banyak jembatan hubungan baik dengan Iran, tetapi pemerintah baru AS dapat membangun kembali jembatan itu apabila AS mau mengakui kekeliruan dan mengubah kebijakannya,” kata Larijani. Larijani sempat mengecam Washington yang mendukung Irak yang berhadapan dengan Iran pada pertempuran tahun 1980an.

Larijani juga mengecam dukungan AS terhadap Israel. Larijani menekankan kebijakan AS di Timur Tengah itu telah menggagalkan upaya AS membasmi terorisme dan menemukan senjata pemusnah massal.

Presiden Barack Obama menyatakan AS siap untuk mengadakan perundingan langsung dengan Iran untuk membahas keprihatinan terhadap program nuklir Teheran yang dikhawatirkan dapat digunakan untuk mengembangkan senjata atom. Teheran menepis kekhawatiran itu dengan mengatakan bahwa program nuklirnya digunakan untuk tujuan damai atau program pembangkit energi. JIM

Sumber : AP

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

  1. Sebuah pemerintahan yang mempunyai pendirian politik luar negeri yang elegan, tegas dan menghargai eksistensinya di mata dunia. Selamat buat “The real super power country candidate …”

News Feed