Iran dan Rusia Gagas Pembentukan Organiasi Negara Pengekspor Gas

Dua negara penghasil gas terbesar, Iran dan Rusia membuat gebrakan yang membuat Barat makin ketar ketir. Kedua negara bertetangga itu memprakarsai pembentukan organisasi serupa dengan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC).

 

Seperti dilansir harian Rusia Kommersant, salah satu pejabat Pemerintah Rusia yang enggan menyebutkan identitasnya mengemukakan, piagam pembentukan tersebut akan diajukan secara resmi dalam forum pertemuan sejumlah negara pengekspor gas (Gas Exporting Countries Forum/GECF) di Moskow,Juni mendatang. “Wacana yang tengah hangat dibicarakan oleh GECF terkait transformasi dari perkumpulan negara informal menjadi organisasi penghasil gas yang resmi diakui di dunia internasional,” ujar sumber tersebut.

 

Harian tersebut juga menyatakan, rancangan piagam yang disusun Iran itu,sebagai negara terbesar kedua penghasil gas di dunia setelah Rusia, hampir menyerupai piagam OPEC. Dijelaskan pula, tujuan pembentukan organisasi itu untuk mengatasi ketidakmenentuan harga di sejumlah negara barat yang sangat tergantung pada negara-negara pemasok gas. Kommersant juga mengutip pernyataan sejumlah ahli yang memprediksi organisasi tersebut akan segera terbentuk, tetapi kuatnya pihak oposisi yang diprakarsai Uni Eropa dan AS dapat membatasi tingkat keberpengaruhannya di dunia. (Sumber: AFP/Sindo)  

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 comments

  1. Bicara soal gas, ada baiknya kita melirik kejadian yang menimpa pabrik pupuk “Pupuk Iskandar Muda (PIM)” di Aceh.
    Alkisah, Pada suatu hari di awal abad ke-21, seorang Menteri ESDM menyetujui kontrak pembelian gas antara Pertamina dan Jepang. Disebutkan dalam kontrak itu bahwa Pertamina akan mengekspor gas alam dalam jumlah sekian selama jangka waktu sekian tahun. Kontrak ini mempunyai nilai sekian milyar Dollar.
    Ternyata, sumber gas yang dimaksud adalah salah satu sumur gas yang tidak terlalu besar, dan sebelumnya digunakan untuk mensuplai salah satu pabrik pupuk terbesar di Asia Tenggara, yaitu PIM itu. Gas diperlukan untuk pupuk bukan untuk dijadikan bahan bakar atau bahan pembantu, tetapi memang pupuk adalah gas yang diubah menjadi konsentrat. Artinya, pupuk ya dari gas. Kalau tidak ada gas, ya tidak ada pupuk. As simple as that.
    Dengan di-sign-nya kontrak tersebut, maka otomatis gas untuk pupuk musti dialihkan untuk ekspor. Padahal, pabrik pupuk yang dimaksud baru saja selesai melakukan penambahan kapasitas (expansion) yang menelan dana sekitar Rp 2 Trilyun-an, lebih-lebih pabrik itu dinobatkan menjadi salah satu produsen utama pupuk ASEAN melalui kerjasama internasional, sehingga pabrik PIM itu disebut pabrik ASEAN Fertilizer.
    Jadi, dua kebijakan bertolak belakang. Mereka harus memilih antara menjual gas ke Jepang, atau supply gas ke PIM. Kalau yang dipilih adalah men-supply PIM, maka pertamina harus mengganti sejumlah gas yang dijanjikan dengan membelinya di pasar terbuka, artinya harganya lebih berfluktuasi (bisa lebih mahal, bisa lebih murah). Kalau gas dijual pertamina, maka paling yang tutup cuman PIM. Jadilah, dengan pertimbangan yang sangat matang, akhirnya gas itu dijual ke Jepang.
    Soal pupuk? Yah kita impor saja….untung rugi? Bukan aye yang nanggung. Dengan melonjaknya harga BBM di pasar dunia, maka otomatis harga pupuk juga melonjak. Pupuk jadi mahal, impor pula. Akhirnya, harga pangan yang naik…Terus dan terus keruwetan bertambah.
    Akhirnya…apa yang terjadi dengan menteri ESDM itu? Karena kharisma-nya yang tak tersaingi, jadilah ia orang pertama yang terpilih secara demokratis menjadi RI-1.
    Oh ya, di mana sih lokasi PIM ini? Tidak jauh kok, Satu Kompleks saja, jauhnya hanya sepelempar batu dari pusat refineri gas alam di Lhokseumawe. Artinya….bahwa sumber gas itu diniatkan untuk diekspor? Pake kapal tanker gas yang musti berlabuh di pelabuhan laut dalam? Atau emang pabrik pupuk ini dibangun dekat lokasi refineri gas karena…?
    Inget iklan rokok : “Tanya kenapa??”

  2. ya ampun pantesan harga pupuk kimia naik drastis… bener2 kejam itu orang … btw kasus2 kayak gitu kok bisa terjadi ya? Apa sebelumnya dia nggak ngikat kontrak dengan pabrik pupuk itu? Kalo umpama dia udah ngikat kontrak dengan pabrik pupuk itu, seharusnya dia nggak bisa begitu saja mengalihkannya ke Jepang. Atau dia berniat untuk menghancurkan pertanian Indonesia? Atau mendorong petani2 Indonesia memakai pupuk organik? Pemakaian pupuk organik memang positif tapi nggak bisa secepat itu pengkonversiannya. Apa pernah ada demo dari para petani ya mengenai kasus ini?

News Feed