ISU “PKI”

Komunisme berangan-angan menghapus hak kepemilikan individual. Itu jelas ditolak oleh akal sehat.

Akal sehat menerima kekayaan dan kemiskinan sebagai keniscayaan dan dinamika. Agama Islam dan agama-agama lain menetapkan norma-norma dan cara manusiawi bagi setiap individu untuk bertahan hidup dengan memperhatikan hak individu lainnya.

Untuk menjadi penentang monopoli, oligarki dan konglomerasi serta kolusi tak perlu jadi komunis dan PKI. Menentang kezaliman para industriawan tamak tidak identik dengan komunisme. Setiap manusia berakal sehat dan berhati bugar, apapun keyakinannya, pasti menolak kezaliman.

Komunisme di tempat kelahirannya sudah mati. Tak mungkin ada orang yang punya kesadaran memimpikannya hidup di Indonesia yang sudah punya Pancasila.

Bila rakyat dan Pemerintah bertekad mengamalkan Pancasila, dunia akan menghormati Indonesia.

Bila belakangan ini ada desas desus tentang kekhawatiran apa yang disebut “kebangkitan PKI”, maka mungkin bisa dianggap sebagai bagian dari kompetisi jelang pilkada. Tidak lebih dari itu. ia bahkan lebih pas dianggap sebagai joke. Tak perlu menganggapnya sebagai sesuatu yang serius.

Kita harus mematok harga mati untuk NKRI karena itulah yang menjamin kebebasan yang bertanggungjawab setiap warganegara.

Kita harus memihak konstitusi, dan menjunjung Pancasila dan UUD serta HAM karena itulah perekat ampuh bangsa multi kultur dan majemuk ini. Siapapun yang mencoba mengganggu ini adalah musuh, apapun keyakinan personalnya.

Di hadapan Garuda Sakti, tak ada minoritas dan mayoritas. Setiap warga berhak untuk bangga sebagai sebuah warna dalam pelangi bernama Indonesia.

News Feed