Skip to main content

Jangan Cuma Melaksanakan Shalat…

By September 13, 20112 Comments

Patutkah perkataan ini?

Memang, melaksanakan shalat adalah kewajiban. Shalat secara intrinsik adalah sebuah paket wisata menuju Allah. “Shalat adalah mi’raj Mukmin”, demikian disebutkan dalam sebuah hadis. Di dalamnya terdapat sejumlah aturan protokoler dan simbol-simbol audial seperti bacaan alfatihah dan surah, dan visual, seperti ruku’ dan sujud. Namun, yang lebih utama adalah menegakkannya. Allah swt memerintahkan kita untuk menegakkan shalat, tidak hanya melaksanakannya. Menegakkan shalat (Iqamah ash-shalah) berarti melakasnakan shalat dengan disertai kesadaran akan dimensi eksoteris (shalat lahiriah) dan dimensi esoterisnya (shalat batiniah). Shalat yang ditegakkan dengan dimensi lahir dan batin akan melahirkan sebuah energi positif yang mampu menciptakan perubahan individual dan sosial. Allah menjanjikan shalat yang paripurna akan melahirkan sebuah perubahan sosial; “Sesungguhnya shalat mencegah dari yang kotor dan keji” ( QS. al-Ankabut/29:45) “Sesungguhnya manusia diciptakan gelisah: jika keburukan menimpanya, ia banyak keluh kesah; dan jika kebaikan menimpanya, ia banyak mencegah (dari sedekah). Kecuali mereka yang shalat…” (QS. al-Ma’arij/70:19-22(

Seseorang yang benar-benar memahami hakikat dan seluk beluk shalat hampir dipastikan imun dari segala bentuk kezaliman, baik individual maupun sosial. Penegak shalat tidak akan pernah menjadi asoisal apalagi amoral. Namun, shalat yang hanya kosmetis (lahiriah) sangat mungkin dijadikan sebagai kedok kejahatan. Shalat lahiriah adalah sekedar shalat, bukan menegakkannya. Allah memberi peringatan keras kepada mereka yang hanya memperhatikan aspek lahiriah seperti gerakan dan bacaan tertentu, namun mengabaikan makna dan hikmah rahasianya. Allah berfirman, “Maka celakalah untuk mereka yang shalat, yang lupa akan shalat mereka sendiri. Yaitu mereka yang suka pamrih, lagi enggan memberi pertolongan.” (QS. al-Ma’un/107). Mereka melakukan shalat, mereka tidak menegakkannya. Mereka melakukan gerakan-gerakannya, namun tidak memahami rahasia-rahasianya. Mereka hanya memperhatikan sejadah yang empuk atau lantai marmer yang sejuk, mereka hanya mengenakan kain warna warni yang bernuansa glamour. Merekalah orang-orang yang lupa akan shalat hakiki, karena hati dan jiwanya gersang dari kesadaran akan hakikat, hikmahnya. Merekalah mengesankan shalat sebagai sebuah seremoni yang tidak a-sosial bahkan bernuansa kapitalistik.

Kelak di neraka Saqar, para penghuninya ditanya, Apa yang membawa kamu sekalian ke neraka?” Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang shalat. Kami tidak pernah memberi makan orang-orang miskin. Kami dahulu terlena bersama mereka yang terlena Dan kami dustakan adanya hari pembalasan sampai datang kepada kami saat keyakinan (mati)” (QS. al-Muddatstsir/74:38-47).” Mereka masuk neraka Saqar karena tidak melakukan shalat yang hakiki sehingga membuat hati mereka bagai batu dan asosial, tidak peduli terhadap kaum miskin, bergaya hidup liar dan melecehkan prinsip kebangkitan saat mereka akan diadili karena perbuatan buruknya. Mereka tidak mengabaikan makna salam, melupakan rahasia alfatihah, mengacuhkan filosofi rukuk dan sujud, dan menganggap shalat sebagai sebuah gerak badan semata.

Makanya, jangan cuma melaksanakan shalat, tapi mari menegakkannya.