JEJAK ASYURA DI NUSANTARA

JEJAK ASYURA DI NUSANTARA
Photo by Unsplash.com

Kata Sura, yang dipahami sebagai Bulan Muharram dalam Bahasa Jawa, diambil dari Bahasa Arab 'Asyura, yang berarti sepuluh, dan merujuk kepada hari ke-sepuluh di Bulan Muharram yang berarti bagi umat Islam.

Jawa Tengah dan Timur

DI beberapa kota terdapat tradisi “Grebeg Suro" yang masih dipraktikkan sampai hari ini. Menurut tradisi ini, bulan Muharram dianggap sebagai bulan nahas dengan dasar bahwa di bulan ini, cucu Nabi saw yang bernama “Kasan” (Hasan) dan “Kusen” (Husain) dibunuh kaum yang zalim. Karena itu, orang-orang Jawa berpantang mengadakan perayaan pernikahan atau membangu rumah di bulan “Suro” atau Muharram.

Kraton Yogyakarta Hadiningrat

Peringatan menyambut masuknya bulan Muharam di Yogyakarta ditandai dengan ritual yang disebut Mubeng Beteng.

Mubeng Beteng dilakukan dengan cara mengarak benda pusaka mengelilingi benteng keraton yang diikuti oleh ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya.

Dalam menjalani ritual Mubeng Beteng, peserta yang ikut tidak diperkenankan untuk berbicara satu sama lain seperti orang yang sedang bertapa.

Kraton Solo Hadiningrat

Meski sama-sama peninggalan Kesultanan Mataram, ritual yang dilakukan di Keraton Solo sangat berbeda dengan di Keraton Yogyakarta.

Penyambutan malam satu Suro di Keraton Solo dipimpin oleh seekor kerbau albino bernama Ki Slamet sebagai Cucuking Lampah. Ki Slamet merupakan hewan kesayangan Susuhunan yang dianggap keramat.

Ketika Ki Slamet mulai berjalan, para putra Sentana Dalem (kerabat keraton) mengikutinya dengan membawa pusaka keramat. Ritual ini tidak hanya diikuti oleh warga Surakarta saja melainkan para masyarakat yang mendiami Karesidenan tersebut yakni Karanganyar, Boyolali, Sragen, dan Wonogiri.

Sebelum sura, pusaka utama keraton dijamas/dibersihkan.

Ritual mubeng Benteng dilaksanakan untuk memeringati tragedi karbala dengan bisu. Ada pula yang melanjutkan hingga 10 sura dengan kirab pusaka.

Madura

Di ujung timur pulau Madura, Sumenep, tradisi menyambut bulan Muharam diwarnai dengan membuat bubur tajin dan menyebutnya dengan nama Tajin Sora.

Pada bulan Suro, masyarakat kemudian saling membagi bubur tersebut kepada tetangga terdekat. Dalam pandangan tradisional orang Madura, bulan Muharam dianggap sebagai bulan nahas, sehingga dilarang melakukan perjalanan jauh pada bulan tersebut.

Ketika memasuki bulan Safar atau bulan kedua dalam kalender Hijriah, masyarakat di Sumenep membuat Tajin Mera Pote (Bubur Merah Putih) yang melambangkan perjuangan cucu Nabi Muhammad, Husein.

Warna merah yang berasal dari gula merah ini digambarkan sebagai darah dari Husein, sementara warna putih melambangkan kesucian perjuangan Husein.

Jawa Barat

Terdapar pula tradisi yang dipraktikkan pada bulan Muharram, yaitu membuat dan membagikan bubur “beureum-bodas” (merah-putih) yang diistilahkan dengan “bubur suro”. Konon, “beureum” merupakan pelambang “darah kesyahidan Imam Husain” dan “bodas” menjadi simbol “kesucian” pribadi Imam Husain.

Pariaman, Sumatera Barat

Pada setiap bulan Muharram, sebagai peringatan atas kesyahidan cucu Nabi saw, Imam Husain as di Karbala pada hari Asyura 61 H.

Ternate, Maluku

Di Ternate ada tradisi Takziah Asyura. Setelah narasi dilakukan di suatu rumah atau gedung, para hadirin kemudian menghujamkan benda tajam semacam gardu ke dadanya secara berulang-ulang hingga mencapai kondisi antara sadar dan tidak sadar. Ritual ini dilakukan pada tanggal 1 Muharam," kata dia.

Orang Ternate memang tidak melakukan takziah selama 10 hari, tetapi sepanjang 10 hari itu yang dipandang sebagai hari musibah, orang Ternate dilarang melakukan berbagai hal yang mengandung risiko. Anak-anak, misalnya, dilarang naik pohon atau memainkan permainan berbahaya. Mereka lebih dianjurkan berdiam di rumah.

Selain itu, seluruh keluarga membuat bubur asyura yang akan dibagikan kepada tetangga dan kerabat tengga. Bubur asyura adalah bubur santan yang berisi berbagai macam bahan seperti sayur, jagung, ikan, telur ayam, kacang-kacangan dan kentang"

Pesan yang terkandung sebenarnya jelas, bahwa bubur itu sendiri berwarna putih meambangkan kesucian dan kemurina hari Asyura, sementara berbagai bumbu itu melambangkan rentetan peristiwa yang terjadi pada hari itu.

Aceh

Salah satu tradisi yang sudah sangat mengakar dalam masyarakat Aceh ketika datangnya bulan Muharram yaitu tradisi memasak Bubur Asyura.

Masyarakat Aceh memaknai bulan Muharram dengan melakukan berbagai kegiatan secara meriah yang bertujuan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah swt. Salah satu yang biasa dilakukan dan menjadi ciri khas perayaan bulan Muharam adalah dengan memasak bubur Asyura dalam panci besar.

Sulawesi Selatan

Tradisi memperingati 10 Muharram dikenal dengan, dalam Mappeca Sura’, dengan membuat bubur yang dihiasi telur yg berwarna-i dilengkapi dengan udang ,kacang goreng dan tumpi-tumpi (kelapa yang telah digoreng disatukaan dengan ikan yang telah dimasak lalu dibentuk segitiga dalam keadaan telah di goreng).

Tradisi bubur asyura dilakukan oleh masyarakat tradisional di daerah-daerah. Seperti di Kabupaten Pangkep, Sulsel yang selalu menyambut kedatangan bulan Muharram dengan membuat bubur Asyura atau yang biasa disebut Peca’ Sura saat memasuki 10 Muharram.

Membuat Peca’ Sura, menurut warga Pangkep sebagai tradisi menyambut 10 Muharram yang telah dilakukan secara turun-temurun selama berabad-abad. Mereka bahkan saling membantu untuk membuat bubur asyura di sekitar tempat tinggal mereka dan dibagikan.

Masyarakat Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan punya tradisi memperingati 10 Muharam dengan menyajikan bubur tujuh rupa atau, yang bagi masyarakat setempat lebih dikenal dengan sebutan bubur Syura.

Dalam masyarakat Bugis, Bella Pitunrupa dalam sebutan bahasa Bugis merupakan bubur yang terdiri dari bubur ketan hitam, bubur santan putih, bubur kacang hijau, dan bubur labu. Bubur ini dihiasi dengan beragam buah-buahan dan lauk pauk.

Read more