JESUS, FIRMAN TUHAN (Bagian 1)

JESUS, FIRMAN TUHAN (Bagian 1)

Para pengikut Muhammad sangat menghormati dan mengagungkan Isa (Yesus). Dalam teologi Islam, Yesus memiliki status khusus dalam Islam sebagai salah satu nabi ulu’ al-‘azm, lima nabi utama dengan sejumlah keistimewaan.

Namun. Sayang, sebagian orang yang mengaku sebagai pengikut Isa tidak menunjukkan sikap yang sama. Yang juga patut disayangkan, sebagian umat Islam memperlakukan Kristen –yang sama-sama berpangkal dari Abraham- tampil sebagai sesuatu yang asing bagi mereka. Padahal, umat Kristen dapat menemukan perspektif lain tentang Juru Selamatnya.

[ads1]

 

Mungkin dengan berusaha memandang Yesus sebagaimana Islam melihatnya, umat Kristen bisa menemukan juru selamatnya hidup kembali, meninggikan Allah dalam kehidupan batiniahnya tanpa harus ‘menyalibnya’. Menurut Sayyed Hosein Nasr, apa yang dibayangkan kesarjanaan Barat mengenai dunia Islam yang sesungguhnya tidaklah sepenuhnya sama dengan konsepsi orang-orang Muslim sendiri tentang tradisi mereka dan perkembangan historisnya. Dengan kata lain, umat Kristen, terutama di Indonesia, yang penduduk terbesarnya beragama Islam, perlu ‘mendengarkan’ narasi Islam tentang Yesus, sebagai langkah kongkrit menuju toleransi.

Dalam al-Qur’an, terdapat sebuah ayat yang menggambarkan penghormatan yang begitu tinggi kepada Perawan Suci Bunda Maria, sedangkan Yesus digambarkan sebagai sebuah Kalimat dari Allah: “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah memberikan kepadamu kabar gembira tentang sebuah Kalimat dari-Nya, namanya al-Masih putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan akhirat dan salah seorang yang didekatkan (kepada Allah).” (3:45)

Tentu saja penafsiran logos dalam teologi Kristen berbeda dengan penafsiran kalimah di kalangan umat Islam. Bagi kalangan Kristiani, menurut Gospel John, Kalimah Allah menjadi tubuh (incarnation). Di lain pihak, bagi umat Muslim Kalimah adalah makhluk, bahkan sementara ia merupakan prinsip kreatif, karena ia berada dalam ucapan Allah dari kata “Jadi!” maka jadilah ia. Islam menyebut Yesus sebagai kalimat Allah justru untuk menegaskan statusnya sebagai nabi.

Karena statusnya tinggi sebagai nabi, Yesus menjadi manifestasi sempurna dari Allah, orang yang menyampaikan pesan Allah, orang yang dapat berbicara atas nama Allah, dan karenanya menjadi Kalimah Allah. Menurut kristologi versi Islam, Yesus menjadi kalimat Allah bukan karena inkarnasi, di mana tubuhnya bersifat ketuhanan (divine). Tetapi karena ruhnya dibersihkan sedemikian rupa sehingga menjadi cermin yang dengannya Tuhan dikenal. Biara menjadi suci bukan karena kesucian dalam bangunannya, tetapi karena ia merupakan tempat menyembah Tuhan. (Ibnu al-‘Arabi, The Bezels of Wisdom (Fushus al-Hikam), terj. R.W.J. Austin (Lahore:Suhail,1988), hlm.177).

Selain digelari ‘Kalimat Allah’, Yesus juga disebut sebagai ‘Ruh Allah’. Allah swt berfirman Sesungguhnya Al-Masih Isa putera Maryam itu adalah utusan Allah dan Kalimat-Nya dan Ruh-Nya.” (4:171).

Kata ‘Ruh Allah’ memberikan signifaksi pengertian universal, bahwa poros moral Kristen dan Islam itu sama. Ruh adalah simbol paling nyata tentang eksistensi Tuhan. Karena itu mungkin ada sejumlah alasan bagi kalangan Kristen untuk menganggapnya sebagai bersifat ketuhanan, meski persoalan ini bila dibahas akan menjadi panjang lebar dan belum tentu berguna bagi yang meyakini dan yang menolaknya.

Selamat atas kelahiran Yesus as.

News Feed