JESUS, FIRMAN TUHAN (Bagian 2)

JESUS, FIRMAN TUHAN (Bagian 2)

Salah satu persoalan penting dalam teologi Kristen adalah: “Siapakah Yesus Kristus itu?” Formulasi berbagai jawaban terhadap pertanyaan ini disebut sebagai Kristologi. Dalam wilayah teologi ini, umat Kristen telah memperdebatkan pentingnya sejarah Yesus yang bertentangan dengan gambar Yesus yang terdapat dalam tradisi-tradisi Gereja-gereja Kristen dan pandangan Injil mengenai Yesus.

Tibalah saatnya bagi umat Islam untuk mulai memperhatikan masalah ini juga. Melalui pengembangan Kristologi versi Islam, umat Kristen dapat mencapai suatu pemahaman yang yang lebih baik tentang Islam. Sebenarnya al-Qur’an sendiri telah membimbing kita dalam mengambil langkah pertama dalam arah ini, seperti disebutkan dalam ayat-ayat tersebut di atas dan lainnya.

[ads1]

 

Usaha bersama dalam lingkup Kristologi versi Islam memang jarang dilakukan. Para penulis Kristen lebih cenderung menekankan fungsi Yesus sebagai juru selamat dalam makna penebus dosa dengan hak divinitas, yang tampaknya tak punya tempat dalam Islam karena meyakini Muhammad Al-Mahdi cucu Muhammad SAW sebagai Juru Keadilan, bukan penebus dosa. Namun, umat Kristiani kiranya perlu mencatat bahwa umat Islam menerima Yesus sebagai juru selamat, bersama seluruh nabi lainnya. Karena fungsi kenabian adalah menyelamatkan umat manusia dari malapetaka dosa lewat penyampaian pesan petunjuk Tuhan. Perbedaan penting Islam dan Kristen di sini melampaui isu tentang apakah Yesus menyelamatkan seluruh umat manusia atau tidak. Sementara umat Islam menolak bila penyelamatan itu ‘ditebus’ lewat penyaliban.

Di lain pihak, umat Islam cenderung menghasilkan karya-karya polemik sendiri-sendiri, dengan menunjukkan seberapa banyak teks-teks Biblikal yang bersesuaian dengan wawasan Islam mengenai Kristus sebagai nabi, ketimbang sebagai salah satu dari tiga sosok Tuhan (trinitas). Sehubungan dengan ini, Ahmad Deedat, misalnya menggarisbawahi hal-hal yang banyak menyedot perhatian dalam bukunya, Was Yesus Crucified? (Chicago:Kazi, 1992). Suatu hal yang mestinya tidak perlu dilakukan bila kita berusaha untuk mencari titik temu atau membangun penghormatan dalam konteks semangat pluralisme dan toleransi.

Selamat atas kelahiran Yesus as.

News Feed