Jilbabers…. Hijabers….

Jilbab dikenakan agar tidak menarik perhatian, bukan malah untuk mempercantik diri. Kecantikan tidak dibangun dengan penilaian dan anggapan atau pujian. Jilbab adalah pengaman diri dari kepongahan akibat pujian dan pelecehan berbungkus rayuan. Makin tak terlihat cantik makin selamat dari narsisme.
Jilbaber sejati adalah orang yang merasa cantik karena kodrat keperempuanannya tanpa menunggu makna bahasa mata setiap yang berpapasan dengannya. Berjilbab adalah ekspresi kepatuhan dan mekanisme mengekang syahwat menunggu pujian “Duh, cantiknya!” karena cantik berbeda dengan terlihat cantik.
Banyak bule bergandengan tangan dengan wanita-wanita yang (menurut kita yang awam soal estetika) tidak cantik. Orang rasional memaknai kecantikan dari spektrum yang komplek.
Membentuk lingkaran khusus bagi pengguna jilbab dengan kriteria kecantikan visual bisa dianggap sebagai kapitalisme dan diskriminasi kelas atas nama agama. Menutup aurat adalah kesadaran moral dan agama, bukan gaya hidup yang keluar dari orbit pranata sosial, bukan seperti klub vegetarian atau pecinta Panda.
Berjilbab mestinya adalah keputusan yang diambil dengan kegembiraan spiritual, bukan cara alternatif menarik pehatian di arena kontes pamer raga.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed