JODOHMU DI TANGAN JODOHMU

Jodoh adalah kata banyak arti yang berbeda. Sebagian arti-artinya dibentuk oleh mindset pemahaman manusia tentang kuasa Tuhan dan takdir.
Jodoh terlanjur dipahami sebagai pasangan yang “datang” dari Tuhan. Karena itu, jodoh tidak dicari tapi dinanti oleh sebagian besar orang.
Saking lekatnya pemahaman fatalistik soal ini hingga tidak sedikit yang mencari calon suami atau istri di mihrab atau diatas sajadah saja.
Doktrin fatalistik “jodoh kiriman” telah menelan banyak korban terutama perempuan. Karena meyakiniya sebagai kiriman, diterima tanpa pertimbangan.
Jodoh kadang dipahami sebagai abadi dan kadang sebagai berjangka. Jodoh berjangka biasanya diungkap saat berpisah, “berakhir jodohnya” dan sebagainya.
Jodoh yang dimaknai sebagai abadi biasanya jadi harapan berdua saat memulai merajut hubungan pranikah. Saat pisah, jodoh dimaknai temporal.
Bila jodoh dipahami sebagai kiriman Tuhan, tanpa ikhtiar manusia, saat hubungan berakhir yang sebelumnya dipahami sebagai kiriman, Tuhan dipersalahkan.
Pemahaman fatalistik tentang jodoh sebagai kiriman dari langit secara tak sadar menafikan kausalitas yang merupakan hukum tetap Tuhan.
Jodoh harus dimaknai ulang sebagai pasangan bersyarat yang dipilih dengan ikhtiar, bukan kiriman supaya tidak memposisikan Tuhan sebagai “comblang”.
Bila jodoh dipahami sebagai pilihan, banyak kawin paksa dan korban-korban fatalisme dapat diminimalisir. Nikah pun jadi pilihan juga kebutuhan bukan beban.
Dengan makna yang rasional, wanita & pria mencari pasangan sesuai pilihan dan kehendaknya dengan paramter nyata bukan dari atas sajadah semata.
Memaknai jodoh sebagai pilihan tidak menafikan peran Tuhan via doa. Dia harus meminta Tuhan beri kemudahan mencari pasangan bukan mngirimkannya.
Tuhan menetapkan 1 sistem dengan semua detailnya yang mengatur proses makhlukNya dari proton dan inti atom hingga surya, termsuk jodoh.
Tuhan tidak akan melanggar hukum yang telah ditetapkan dengan segala prosesnya. Jodoh memang ditakdirkan, tapi ditakdirkan untuk dipilih.
Jodoh adalah persepsi kita tentang pasangan. Yang real adalah manusia-manusia unik karakter, kebiasaan, pemahaman, kesukaan dan bawaan-bawaan genetiknya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed