Soal “Hari Sial”

Primbon memang semestinya tidak diperlakukan sebagai surat keputusan yang absolut dan permanen. Namun, karena manusia dilengkapi dengan ikhtiar, maka sebaiknya memilih hari-hari yang bertepatan dengan peristiwa baik pada masa lalu seraya berharap kepada Allah memberikan petunjuk dan taufikNya.

Pada dasarnya, semua hari baik. Tetapi hari (pada tanggal) tertentu menjadi atau dianggap buruk karena pada hari itu terjadi peristiwa yang sangat buruk.

Karena ingin menjadi orang yang baik dan mendapatkan berkah kebaikan, maka kita mesti memilih hari yang baik untuk segala urusan, terutama bila hendak memulai sesuatu yang besar dan tidak bersifat rutin.

Dalam al-Qur’an sering kali Allah memulai firmannya dengan sumpah waktu, seperti “demi masa”, “demi waktu dhuha” demi waktu fajar”, demi malam”, “demi siang” dan sebagainya.

Hal itu menjadi bukti kuat bahwa waktu dengan macam-macamnya menempati posisi yang sangat penting. Ia juga sekaligus isyarat anjuran kepada manusia agar tidak menganggap waktu sebagai sesuatu yang tidak bermakna.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 comments

  1. Salam kenal ustadz.
    Ustad, nungkin tidak bahwa primbon2 itu disusun oleh pendahulu2 kita, para resi, para bijak, para arifin, yang mereka sudah mempelajari gejala2 alam serta dampaknya terhadap manusia serta kemudian merumuskannya. bukankah ilmu Allah itu tak terbatas? Dan mereka berhasil menyingkapnya. Jadi sama sekali tidak berbau syirik.

  2. hoho bener banget sodara farid…
    .
    hmm mungkin apa yang disebut waktu2 ‘sial’ ato ‘beruntung’ itu berkaitan ama pergerakan benda2 langit semacam planet dan bintang2nya ya

News Feed