JOKOWI TELAH MELAKUKANNYA

Adrenaline membuncah manakala yel-yel didengungkan dalam jumlah yang membuat pribadi di dalamnya merasa sangat aman dan terlindungi untuk melampiaskan kehendak-kehendak irrasional, yang saat sendirian atau dalam situasi normal, terbelenggu oleh norma. Ia berpotensi menerbitkan gelinjang hasrat dominasi dan agresi atau rasa solidaritas bila dirangsang dengan doktrin melawan ancaman atau sosok yang dibenci. Hitler dengan Nazi dan holligans terbilang sukses mengelola ini.
Kehendak-kehendak liar dan irrasional semula tak terarah. Namun bila diarahkan dengan tujuan dan target tertentu melalui orasi yang prima tentang sebuah isu kolektif yang digelegarkan oleh sosok menonjol, maka kehendak-kehendak yang berlainan itu bisa menggunung, dan sewaktu-sewaktu meletus tanpa kendali. Sosok kharismatik itupun takkan mampu menganulir orasinya demi membendung dan menghentikan rezim gravitasi yang memandunya.
Fenomena ini bisa memuntahkan amarah dan kebencian massal laksana lahar panas yang menghanguskan apapun yang dilintasinya. Ia tak bermata dan tak bernalar sehingga tak membeda-bedakan dan memilih-milih korban.
Tanpa perlu berlomba saling tuding atau melanjutkan polemik, harus ada penyelamatan. Mozaik indah sebuah bangsa majemuk yang berhasil merenda kemajemukan ini harus diselamatkan.
Dalam situasi maha genting itu, diperlukan sosok dengan kualitas kepribadian yang daya positifnya melampaui daya negatif lahar panas. Ia harus menjadi pribadi yang ketenangannya melebihi dinginnya Antartika. Dicari pribadi yang “selesai dengan dirinya.” Massa yang marah dan kecewa harus diakomodasi dan direspon dengan pendekatan kerakyatan, bukan kekuasaan.
Menurut banyak orang, Jokowi telah melakukannya. Respek!

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed