Kacung-kacung Amerika di Timur Tengah

KTT Liga Arab yang baru diselenggarakan dianggap gagal karena rencana  rekonsiliasi antar sesama anggota, terutama antara blok pro Barat dan blok kritis.

 

Para pemimpin negara pro Amerika, alih-alih menghadiri konferensi independen malah aktif dalam pertemuan yang digagas oleh Amerika guna memantanpkan pengaruh dan gagasannya soal apa yang disebutnya ‘perdamaian Israel – Palestina’.

 

KTT Liga Arab yang diselenggarakan di Damaskus, ibukota Suriah itu, kehilangan kredibitasnya karena sejumlah pemimpin negara, karena tekanan dan bujukan Amerika melalui Condoliza Rice dan Dick Cheney.

 

Pertemuan ini sedianya bertujuan untuk meredakan ketegangan antara Suriah dan beberapa negara Arab yang pro Barat, seperti Arab Saudi, Mesir, Yordania dan Lebonan.

 

Ketidakhadiran Arab Saudi, Yordania, Mesir dan Lebanon dalam KTT Arab kemarin memastikan bahwa Amerika masih punya banyak kloset di Timteng untuk menampung pengaruh dan intstruksinya. D antara negara-negara blok Setan Besar itu, Yordania bisa dianggap anjing budukan yang paling setia. Raja Abdullah yang menggantikan ayahnya yang zionis, Husain Thalal, secara terbuka menganggap Iran sebagai bahaya atas eksistensi bangsa Arab, sebaliknya mendukung eksistensi negara zionis, Israel.

 

Yordania, di bawah raja Husain, pernah melalakukan kejahatan besar, yang dikenal dengn Black Friday, dengan membantai ribuan pengungsi Palestina. Setelah dikalahkan secara memalukan oleh Israel dan pertempuran 6 hari, dan kehilangan gurun Sina,  

 

Mesir menjadi negara Muslim pertama yang mengakui –secara terhina- eksistensi Israel, bukan hanya sebagai negara, tapi juga sebagai pemenang. Anwar Sadat mengabaikan jeritan rakyat Palestina dan umat Islam di dunia dengan menandatangani perjanjian Camp David bersama Begin, perdana menteri Israel, dengan mediasi Carter, Presiden AS saat itu.

 

Lebanon, sejak di bawah Seniora, adalah negara bisa dianggap ‘flamboyan’. Di bawah Seniora, yang tidak berwibawa, negara penghasil apel dan anggur ini seakan menjadi kambing congek saat menghadapi tekanan dan invasi Isarel. Seniora tidak mampu mengendalikan angkatan besenjata. Berkat Hizbullah, Israel tidak mengganggu kedaulatan Lebanon. Meski kehilangan kredibiltas dan kepercayaan publik, Amerika, yang sok demokratis, malah mempertahankannya seraya menuduh Suriah dan Iran di balik usaha menggulingkan Seniora.  

 

Arab Saudi, negara anti demokrasi yang dijadikan sebagai hak milik satu klan dan keluarga saja ini, diketahui sejak semula berdiri atas dukungan Inggris, superpower kala itu, dan menjadi salah satu negara bagian Amerika.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 comments

  1. Sungguh mereka telah menzalimi diri sendiri dan saudaranya. tangan mereka justru mencelakai saudaranya sendiri… Semoga Allah menggantikan rezim yang ada di negara-negara itu dengan pemerintahan yang menjaga dirinya dari berbuat zalim, dan melindungi saudara-saudaranya dari tangan-tangan jahil.

  2. Untung ALLAH menurunkan Islam bukan buat orang timteng walaupun Nabi MUHHAMMAD SAWW lahir di sana jadi negara negara di timteng bukan patokan sebagai acuan beragama ISLAM yang baik dan benar bukan berarti bisa bahasa ARAB menjadi panutan umat

News Feed