KAMPANYE ATAU HAUL?

Mengundang salah satu kontestan pilpres yang sedang mencari suara ke dalam sebuah acara keagamaan terbuka sangat sulit untuk tidak dianggap sebagai kampanye rasa agama. Acara keagamaan yang dihadiri oleh tokoh politik sulit untuk tidak dituding sebagai acara “galang dukungan”.

Penyelenggara mestinya paham itu. Boleh jadi memang bukan kampanye karena haul adalah acara rutin yang dilaksanakan satu kali dalam setiap tahun. Tapi sedikit sense of crisis sudah untuk jadi dasar pertimbangan dan prediksi dampak positif dan negatif dari sebuah inisiasi. Situasi ini berlaku umum untuk semua kontestan pemilu, bukan hanya untuk salah satunya.

Manipulasi acara keagamaan tak hanya bertendensi poliitik dan tak hanya terjadi dalam musim kampanye. Banyak acara keagamaan tradisional seperti haul di sejumlah kota dalam seremoni yang seyogyanya diharumkan dengan pencerahan sipiritual dan eduksi tentang pentingnya menjaga kerukunan malah selalu dijadikan sebagai ajang penyebaran ujaran kebencian, pengkafiran dan provokasi. Beberapa anasir pengais nafkah dari niaga sektarianisme didapuk sebagai pembicara langganan.

Klarifikasi dan sibuk menepis tidaklah efektif, malah bisa mengundang cibiran dari orang-orang yang tak mudah diyakinkan dengan retorika. Yang lebih bijak adalah menyampaikan permohonan kepada tokoh dan sufi yang telah diperlakukan secara negatif oleh segelintir orang yang tak menunjukkan penghormatan kepada tokoh yang diperingati haulnya.

Memberikan dukungan politik kepada salah satu pasangan capres-cawapres memang hak setiap warga. Tapi meneriaki seorang tamu terhormat dengan kalimat bermakna agresi politik bukanlah hak siapapun.

Agama, simbol-simbolnya dan acara-acara bernuansa agama harus dibersihkan dari tujuan dan aksi penyebaran intoleransi sektarian dan fanatisme politik.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed