Peta Politik Iran: Ulama Tidak Mesti Konservatif, Akademisi Belum Tentu Reformis

ali-larijani.jpgansari.jpghaddad.jpg

Jumat lalu Iran menyelenggarakan Pemilu Parlemen yang sangat krusial karena menentukan arah dan nasib kebijakan politik dan ekonomi Ahmadinejad bahkan peluangnya dalam pemilihan presiden 2009 mendatang.

Sudah langganan, Pemerintah Amerika selalu menggambarkan pesta demokrasi itu sebagai drama politik dan meminimalkan partisipasi rakyat di dalamnya. Namun apa yang terjadi, sebagaimana dilaporkan oleh media asing seperti AP, AFP, Reuter dan aljazeera, melukiskan partisipasi luar biasa rakyat dalam pemungutan suara. Ini adalah fakta yang untuk kiesekian kalinya mengecewakan Amerika dan makin mengkhawatirkan Isarel.

Sebelumnya, banyak pengamat memprediksi bahwa prosentase kursi kalangan fundamentalis pro Ahamdinejad akan berkurang, akibat dari inflasi dan kebijakan ekonomi Pemerintah.

Prediksi ini tidak sepenuhnya meleset. Dalam penghitungan awal, meski kalangan konservatif masih menunjukkan dominasi terutama di Tehran, yang menjadi barometer konstelasi politik, jumla kursi kubu reformis juga akan sedikit bertambah.

Dr. Haddad Adil, pendukung kuat Ahmadinejad, dipastikan sebagai calon yang menempati urutan teratas dari 17 legislatif Tehran. Namun munculnya nama Majid Ansari, pria bersorban andalan kaum reformis, di urutan kelima merupakan indikasi perubahan peta politik yang cukup signifikan.

Kejutan lain yang akan muncul adalah terbelahnya kubu konservatif. Akibat kebijakan ekonomi Ahmadinejad yang dinilai tidak mampu mengatasi inflasi dan pengangguran, mengakibatkan munculnya dua sub-kubu, yaitu “kanan dalam”yang terdiri dari para politisi pendukung secara total Ahmadinejad terutama dalam gaya diplomasi luar negerinya yang mengabaikan ancaman Amerika dan sekutunya terkait program nuklir sipilnya; dan “kanan luar’ yang terdiri dari para pendukung Ahamdinejad dalam bidang politik namun mengkritiknya dalam kebijakan ekonomi yang kemungkinan akan mencalonkan Ali Larijani dalam pemilu presiden mendatang.

Yang menarik, kubu fundamentalis Iran didominasi oleh para akademisi non ulama, seperti Prof. Dr. Gholam Reza Haddad Adil, sedangkan kubu reormis lebih banyak terdiri dari kalangan ulama, seperti Mehdi Karrubi dan Majid Ansari. Bukan rahasia lagi, jika Mohammad Khatami, mantan presiden, sampai sekarang dianggap sebagai ikon kubu reformis, yang didukung oleh keluarga almarhum Imam Khomeini.

 

Telivisi internasional Iran berbahasa Arab, Al-Alam melaporkan bahwa kubu konservatif Iran sukses memenangi pemilu parlemen yang digelar secara serempak pada Jumat 14 Maret dengan meraih 113 kursi dari 290 kursi yang tersedia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 70 kursi dikuasai pendukung Presiden Ahmadinejad.


Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 comments

  1. Bisa gak Ustad Muhsin memberi deskripsi alur pemikiran reformis di Iran? apakah mereka sama sekali berbeda konsepsinya tentang pemerintahan(sistem Islam dan Non Islam)? Atau sama dalam prinsip ini akan teapi pemahaman2 sekundernya saja yang punya garis pembatas.. terimakasih.

  2. i am very interested studying in Iran, So i need some information to finish my duty about esai in iran. I am now study in Muhammadiyah islamic faculty, I am third semester. and my wishing please send to me about Iran education. please repley as soon as possible. !!!!!!!

    ML: You can visit Islamic Cultural Center ICC), Jl. Buncit Raya kav 35 Pejaten Barat – Jakarta Selatan. (Departemen Pendidikan dan Dakwah: Abdullah Beik)

  3. tak semua keluarga imam Khomeini mendukung khatami & reformis.
    paling-2 cuma zahra eshraghi & ali eshraghi (cucu imam Khomeini) saja yang mendukung khatami & reformis.

    jangan sebut : KELUARGA IMAM KHOMEINI MENDUKUNG KHATAMI & reformis, dong ! ini bisa-2 dianggap semua keluarga imam Khomeini demikian, padahal cuma sebagian kecil saja.

News Feed